Kamisan S4 #3 ; Rawon
![]() |
| pic by link |
![]() |
| pic by link |
![]() |
| Picture by link |
![]() |
| Tema kamisan #11 season 3 diambil dari sini |
Hati yang memilihmu tetap akan memilihmu, meski kecewa tak semudah itu tenggelam dan menghilang. Sebab menguburkan rasa kecewa tak semudah menenggelamkan diri pada ombak yang murka. Dan memakamkan rasa sakit tak semudah menggali lubang untuk menguburkan diri sendiri.
Tema Kamisan 4; Dokumentasi Mbak Yola
Kalian pernah mendengar tentang seorang monster yang begitu mencintai panda? Oh, tenang, akan kuceritakan kisah itu. Kisah yang membuatku cemburu pada panda. Sebab monter lebih memilihnya untuk dicintai dibandingkan denganku.
Sebentar. Tapi hanya sedikit kisah singkat. Jangan berharap lebih. Ingat! Latihlah hatimu untuk tidak selalu berharap terlebih berharap yang terlalu tinggi. Pada hal apa pun, pada siapa pun, dan di mana pun. Kau tahu kan sebabnya akan seperti apa kalau kau masih melakukannya?
***
Pada suatu masa, ada seorang monster penuh kegelapan hingga segala muram dan kelam menyelubungi jiwanya. Namun ada hal yang menarik dari hidupnya. Perihal mimpi dan ambisi yang tiada akhir, tanpa kata menyerah dengan satu alasan apa pun. Muntahan caci maki yang keluar dari bibir gelap itu adalah pendorong bagi hidupnya. Tingkah yang abnormal dan di luar batas adalah warna indah bagi jiwanya. Kenyataan perasaan yang jelas meretakkan sendinya ia pendam hingga ke dasar. Tak ada kesempatan kalian untuk mengintipnya. Jangan berharap untuk tahu.
Ingin mendekap dan berbisik padanya, bahwa gelapnya telah menarikku terjerembab masuk dalam dunianya yang sebenarnya tak kupahami, tapi berusaha dan ingin kumengerti. Ingin membelai pendengarannya dengan sajak-sajak indah bukan raungan murka. Ingin memberi warna dengan dongeng-dongeng manis, bukan berguling di trotoar. Ingin menariknya menanam bunga-bunga ranum pada tanah gembur, bukan bergelut dengan pekatnya crude oil pada pemanas tinggi.
Hai, monster yang kutahu lembut dan baik hati. Nyatanya kau lebih memilih Panda-makhluk berbulu putih hitam-itu untuk dicintai. Rupanya Panda lucu itu mampu melumpuhkan segala geram sangar gelapmu. Apa yang dimilikinya hingga kau begitu menggilainya? Bulunya kah? Hitam-putih warnanya kah? Atau, kau memiliki kisah masa lalu menyangkutnya?
Dear, monster. Yang kumiliki hanyalah sebuah ingin dan harap. Aku memiliki sepotong red velvet yang masih hangat dari pemanggang. Potongan terakhir. Teksturnya yang lembut dengan cita rasa manis cheesecream berpadu pahitnya cokelat. Ingin kusuapkan potongan terakhir ini untukmu. Sudikah kamu menerimanya?
Mungkin tak semanis Pandamu. Hanya sepotong red velvet. Hanya menginginkanmu merasakannya. Manis yang berpadu dengan pahit namun lembut untuk dinikmati. Mungkin bisa menegaskan juga perihal hidup.
Ingatlah, bahwa hidup tak akan selalu berjalan manis, tapi juga pahit. Hidup berjalan seimbang. Pun sebaliknya. Pahit tak akan selamanya pahit, manis yang kau dapatkan setelah pahit rasanya pasti akan berkali lipat. Jadi, ingatlah, bahwa gelap, suram, kelam tak akan selamanya hitam, pada akhirnya akan ada yang memberi warna lain. Perpaduan seimbang.
Kini, kutahu Pandamu telah memberi warna yang tak hanya gelap, suram, dan kelam untukmu.
Teruslah pada mimpi-mimpimu, taklukkanlah segal ambisimu. Kisahmu akan tertulis manis pada lembaran kata yang sedang kau susun. Ingatlah bahwa kita akan abadi, sebab kita menulis.
***
Sepertinya kali ini bukan kisah yang kutuliskan. Mungkin sebuah surat lebih tepatnya. Surat yang kutitipkan melalui potongan terakhir red velvet.
![]() |
| Tema Kamisan 2 pic by Fahmi Amrullah |
Ada yang pergi tanpa pernah kembali. Ada yang masih diam menanti. Pada riak gelombang bergelung janji, janji yang musnah ditelan takdir.
![]() |
| Tema ke-1 Kamisan season 3 |
Kita lihat, siapa yang lebih dulu jatuh, air hujan atau air mataku.
Dan kita lihat, siapa yang lebih bertahan untuk terus jatuh tanpa mengenal kata selesai, hujan atau tangisku.
Gadis itu beranjak dari sofa dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya setelah terdengar ketukan yang ketiga kalinya.
Seorang pria tinggi tegap tengah berdiri di balik pintu yang baru saja terbuka. Aroma Truth for Men Calvin Klein pun langsung menyeruak memberikan udara bebas bagi siapa saja yang menghirupnya. Aroma yang memiliki wewangian woody aromatic yang selalu mampu memberikannya rasa nyaman. Dan gadis itu sungguh merindukannya. Kenyamanan yang selalu mampu diberikan oleh lelakinya yang kini berdiri di hadapannya. Gadis itu rindu lelakinya. Rindu dekapannya. Dan, wangi parfum itu.
Hening. Mereka masih membisu dengan mata yang masih saling menatap. Saling menenggelamkan diri pada kedalaman tatapan. Masih saling menelanjangi pikiran lawan dan mencari jawaban, 'apakah aku juga menjadi kerinduan untukmu?'. Hingga akhirnya lelakinya menyodorkan sebuah plastik berpita ungu penuh udara dan air. Sebentar, ada yang bergerak-gerak di dalam sana. Ada yang hidup. Seekor ikan berwarna putih dengan corak merah.
"Untukmu," kata lelakinya seraya menunggu gadis itu menerimanya.
"Apa ini?" tanya gadis itu heran.
"Ikan koi," jawabnya singkat.
"Untuk apa?"
"Untukmu."
"......."
"Hadiah untuk ulang tahunmu," lanjut lelakinya lagi.
"Hari ulang tahunku sudah tiga hari yang lalu." Raut wajah gadis itu berubah menjadi kusut. Ia kembali teringat betapa kecewanya ia ketika lelakinya tak mengingat hari ulang tahunnya. Mengabarinya saja tidak. Sejak hari ulang tahun gadis itu, lelakinya hilang bagai ditelan bumi. Dan kini, tiba-tiba, makhluk yang begitu dirindukan gadis itu telah kembali dan berdiri di hadapannya. Dengan membawa seekor ikan yang disebut koi, kata lelakinya. Apakah gadis itu masih merasa kecewa? Atau harus bahagia? "aku tidak butuh hadiah."
"Maaf," ucap lelakinya singkat.
"Masuklah."
"Tidak, terima kasih. Terimalah agar aku tak merasa bersalah lagi."
"Aku tidak menyalahkanmu," ucap gadis itu seraya mengambil kantong plastik transparan berpita ungu itu.
"Syukurlah. Kalau begitu aku pulang dulu."
"PULANG?!"
"Ya, dan mungkin aku akan menghilang lagi dari hari-harimu."
"Kenapa?" Kini gadis itu tengah menahan isak.
"Koi itu akan menemanimu, menggantikanku. Koi itu varietas kohaku, kohaku dianggap sebagai koi yang pertama dan terakhir."
"Maksud semua ini apa? Kamu menghilang sejak hari ulang tahunku dan sekarang kamu mau menghilang lagi dengan meninggalkan seekor ikan ini?" Gadis itu meluap-luap.
"Kuharap kamu mengerti makna dibalik koi itu. Maafkan aku." Lelakinya berbalik tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sedangkan gadis itu, ia kini terisak. Air matanya lumer membanjiri pipi kemerahannya. Matanya penuh dengan pekat yang kelam. Tangannya hampir saja menghempaskan bungkusan itu. Tapi masih bisa ia tahan dan membawanya masuk ke dalam.
Gadis itu hanya memiliki akuarium berbentuk persegi panjang di dalam kamarnya. Ia menuang ikan koi itu ke dalam sana. Masih dengan wajah sembab dengan mata yang banjir ia mengamati ikan itu. Entah bagaimana, gadis itu menemukan lelakinya dalam mata ikan koi itu. Namun yang ditemukan gadis itu adalah tatapan kesedihan.
Suara handphone gadis itu berdering nyaring membuyarkan perhatiannya pada ikan koi itu.
"Hallo," jawab gadis itu.
Terdengar suara isak dari seberang telepon sana. Dan kemudian hening. Hening yang panjang penuh dengan kepedihan.
Gadis itu menutup telepon dan kembali menghampiri ikan koi barunya.
"Apa ini kamu? Kenapa? Tolong jelaskan padaku!" Lirih ia bertanya pada koi yang masih menatap gadis itu dengan tatapan kepedihan. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Ia terisak. Semakin terisak. Lelakinya kini telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya sejak hari ulang tahunnya.
@fetihabsari
Perkenalkan. Aku adalah pembunuh yang paling mematikan. Aku dapat membunuhmu tanpa rasa sakit. Kau mau? Jika kau menginginkan sebuah kematian, hubungi saja aku. Tak akan sulit mendapatkanku untuk memenuhi tujuanmu perihal kematian.
Apakah kalian kenal dengan Napoleon Bonaparte, Munir SH, dan Huo Yuanjia? Yaa, kalian pasti tahu orang-orang hebat itu, bukan? Dan asal kalian tahu, akulah yang menyebabkan kematian mereka. Bagaimana, masih kau pertanyakan keaglianku perihal kematian?
Pada mulanya kelahiranku dilakukan oleh Albertus Magnus pada tahun 1250, kemudian setelahnya ia dibantu oleh Johan Schroeder untuk membesarkan namaku di tahun 1649. Aku lahir dengan berat 1,97 dan 5,73 gram.
Namaku dipinjam dari bahasa Persia. Dan di sanalah aku tumbuh dan dibeaarkan sebagai pembunuh. Sulit untuk menemukan bukti-bukti jika akulah yang ada dibalik setiap kematian sampai ditemukannya sebuah tes yang bernama tes Marsh. Karena daya bunuhku yang luar biasa serta sulit terdeteksi, aku mendapat julukan Racun para raja, dam Raja dari semua racun.
Kalian tahu, aku telah menyebabkan keracunan masal di Bangladesh dan mengakibatkan kanker merebak di sana. Aku membunuh kalian dengan menyerang sistem pencernaan dan kemudian membuat kalian shock hingga berujung pada kematian.
Kalian ingin tahu mengapa aku begitu beracun? Itu semua karena aku mampu menghambat produksi ATP, sumber energi bagi sel-sel hidup, melalui berbagai mekanisme. Di siklus Krebs aku menghambat enzim piruvat dehidrogenase, sehingga sintesis ATP menjadi berkurang dan malah meningkatkan produksi hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida ini merupakan oksidator yang sangat reaktif terhadap sel hidup, maka justru sel hidup itulah yang diserang. Sel yang aku serang akan mengalami nekrosis dan kematian dengan segera.
Aku berada di mana-mana. Aku berada di sekitar kalian. Jangan remehkan aku. Aku bukan hanya penyebab kematian, namun aku juga pernah menyembuhkan penyakit seperti sifilis, meski itu dulu. Aku juga digunakan dalam bidang pertanian. Membantu para petani untuk membasmi hama. Meski kini aku lebih sering dikaitkan dengan katian.
Wujud asliku berwarna kuning metalik, namun aku biasa digunakan dalam wujud serbuk berwarna putih. Aku tinggal di blok V nomor 33. Kalian bisa menghubungiku dialamat itu. Aku biasa diberi inisial As. As untuk Arsenik. Ya, itulah aku. Arsenik si pembunuh.
"Melamun lagi?" suara pria yang datang dari arah belakangku.
"Hhmmm, nggak juga," kataku.
"Nggak usah bohong sama dirimu sendiri."
Aku menoleh dan mendapatinya sedang tersenyum jahil. Kutinju bahunya pelan untuk kemudian kami tertawa bersama.
"Nggak bosan melamun mulu?" tanyanya lagi.
"Jahil banget kamu, kak."
"Loh bener, kan. Hobi kok melamun. Melamuninnya hal yang itu-itu mulu lagi."
"Hhmmm..." aku hanya menggumam tak menghiraukan lebih lanjut perkataan pria yang notabennya sepupuku itu. Kembali tatapanku melayang kosong.
Kembali pada situasi yang selalu diinginkannya. Kembali pada sesuatu yang belum ingin dilepasnya. Kembali pada apa yang masih lengket melekat di hati. Kamu.
Ia tahu bahwa yang diinginkannya sudah tak lagi bisa digenggam. Ia sadar bahwa yang diharapkannya sudah tak lagi bisa direngkuh. Ia tahu. Ya, ia sadar. Tapi hatinya tak lebih kuat dari tahunya. Ingin yang masih menguasai hatinya ialah ingin yang belum bisa melepas. Belum bisa merela. Belum bisa ikhlas.
Kamu. Masih akan selalu menjadi inginnya. Menjadi harapnya. Dan menjadi hidupnya. Mungkinkah kamu merasa akan hal itu?
Kemudian ada yang mencubit gemas kedua pipiku. "Mulai lagi!! Aku nggak mau lihat adikku yang nyebelin ini jadi perenung gini aahh. Mana adikku yang bawel?"
"Kaaakk,,,"
"Kita semadi aja, yuk."
"Semadi? Di gua? Mistis-mistis gitu? Hiih..."
"Kenapa jadi mistis sih," ucapnya dengan ekspresi yang cemberut. "Aku sering semadi kalau lagi stress."
"Kamu bisa stress juga, kak?" tanyaku jahil.
"Ngece, kamu! Stress lah mikirin pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi."
"Stressan mana sama yang ditinggal demi orang lain?"
"Heyy, orang kayak gitu harusnya sudah kamu lupakan dari dulu!"
"Nggak semudah itu, Kak. Kekuatan hati setiap orang itu berbeda."
"Ya, tapi orang sperti itu nggak pantas buat dipertahanin di hati."
"Kamu orang kesekian yang bilang gitu."
"Nah, kan! Makin kurus kamu kalau lemah mulu sama hati," ucapnya sembari berdiri dan ingin berlalu.
"Mau ke mana?"
"Kamar."
"Untuk?"
"Semadi. Meditasi."
"Apa bedanya semadi sama melamun. Sama saja!"
Ia menjitak pelan kepalaku. "Sok tahu kamu. Selama meditasi, detak jantungmu akan melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stress menurun. Meditasi juga melatih otak untuk menghasilkan lebih banyak gelombang Gamma, yang dihasilkan saat orang merasa bahagia. Kamu butuh itu!"
"Aku nggak stress, kok."
"Nggak sih. Cuman rapuh!" Kemudian ia berlalu setelah memberi penekanan saat mengucapkan kata 'rapuh' sambil menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
Feti Habsari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates