Kamisan S3 #11; Fairytale [Flowers]
![]() |
| Tema kamisan #11 season 3 diambil dari sini |
![]() |
| Tema kamisan #11 season 3 diambil dari sini |
Gadis itu beranjak dari sofa dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya setelah terdengar ketukan yang ketiga kalinya.
Seorang pria tinggi tegap tengah berdiri di balik pintu yang baru saja terbuka. Aroma Truth for Men Calvin Klein pun langsung menyeruak memberikan udara bebas bagi siapa saja yang menghirupnya. Aroma yang memiliki wewangian woody aromatic yang selalu mampu memberikannya rasa nyaman. Dan gadis itu sungguh merindukannya. Kenyamanan yang selalu mampu diberikan oleh lelakinya yang kini berdiri di hadapannya. Gadis itu rindu lelakinya. Rindu dekapannya. Dan, wangi parfum itu.
Hening. Mereka masih membisu dengan mata yang masih saling menatap. Saling menenggelamkan diri pada kedalaman tatapan. Masih saling menelanjangi pikiran lawan dan mencari jawaban, 'apakah aku juga menjadi kerinduan untukmu?'. Hingga akhirnya lelakinya menyodorkan sebuah plastik berpita ungu penuh udara dan air. Sebentar, ada yang bergerak-gerak di dalam sana. Ada yang hidup. Seekor ikan berwarna putih dengan corak merah.
"Untukmu," kata lelakinya seraya menunggu gadis itu menerimanya.
"Apa ini?" tanya gadis itu heran.
"Ikan koi," jawabnya singkat.
"Untuk apa?"
"Untukmu."
"......."
"Hadiah untuk ulang tahunmu," lanjut lelakinya lagi.
"Hari ulang tahunku sudah tiga hari yang lalu." Raut wajah gadis itu berubah menjadi kusut. Ia kembali teringat betapa kecewanya ia ketika lelakinya tak mengingat hari ulang tahunnya. Mengabarinya saja tidak. Sejak hari ulang tahun gadis itu, lelakinya hilang bagai ditelan bumi. Dan kini, tiba-tiba, makhluk yang begitu dirindukan gadis itu telah kembali dan berdiri di hadapannya. Dengan membawa seekor ikan yang disebut koi, kata lelakinya. Apakah gadis itu masih merasa kecewa? Atau harus bahagia? "aku tidak butuh hadiah."
"Maaf," ucap lelakinya singkat.
"Masuklah."
"Tidak, terima kasih. Terimalah agar aku tak merasa bersalah lagi."
"Aku tidak menyalahkanmu," ucap gadis itu seraya mengambil kantong plastik transparan berpita ungu itu.
"Syukurlah. Kalau begitu aku pulang dulu."
"PULANG?!"
"Ya, dan mungkin aku akan menghilang lagi dari hari-harimu."
"Kenapa?" Kini gadis itu tengah menahan isak.
"Koi itu akan menemanimu, menggantikanku. Koi itu varietas kohaku, kohaku dianggap sebagai koi yang pertama dan terakhir."
"Maksud semua ini apa? Kamu menghilang sejak hari ulang tahunku dan sekarang kamu mau menghilang lagi dengan meninggalkan seekor ikan ini?" Gadis itu meluap-luap.
"Kuharap kamu mengerti makna dibalik koi itu. Maafkan aku." Lelakinya berbalik tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sedangkan gadis itu, ia kini terisak. Air matanya lumer membanjiri pipi kemerahannya. Matanya penuh dengan pekat yang kelam. Tangannya hampir saja menghempaskan bungkusan itu. Tapi masih bisa ia tahan dan membawanya masuk ke dalam.
Gadis itu hanya memiliki akuarium berbentuk persegi panjang di dalam kamarnya. Ia menuang ikan koi itu ke dalam sana. Masih dengan wajah sembab dengan mata yang banjir ia mengamati ikan itu. Entah bagaimana, gadis itu menemukan lelakinya dalam mata ikan koi itu. Namun yang ditemukan gadis itu adalah tatapan kesedihan.
Suara handphone gadis itu berdering nyaring membuyarkan perhatiannya pada ikan koi itu.
"Hallo," jawab gadis itu.
Terdengar suara isak dari seberang telepon sana. Dan kemudian hening. Hening yang panjang penuh dengan kepedihan.
Gadis itu menutup telepon dan kembali menghampiri ikan koi barunya.
"Apa ini kamu? Kenapa? Tolong jelaskan padaku!" Lirih ia bertanya pada koi yang masih menatap gadis itu dengan tatapan kepedihan. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Ia terisak. Semakin terisak. Lelakinya kini telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya sejak hari ulang tahunnya.
@fetihabsari
"Melamun lagi?" suara pria yang datang dari arah belakangku.
"Hhmmm, nggak juga," kataku.
"Nggak usah bohong sama dirimu sendiri."
Aku menoleh dan mendapatinya sedang tersenyum jahil. Kutinju bahunya pelan untuk kemudian kami tertawa bersama.
"Nggak bosan melamun mulu?" tanyanya lagi.
"Jahil banget kamu, kak."
"Loh bener, kan. Hobi kok melamun. Melamuninnya hal yang itu-itu mulu lagi."
"Hhmmm..." aku hanya menggumam tak menghiraukan lebih lanjut perkataan pria yang notabennya sepupuku itu. Kembali tatapanku melayang kosong.
Kembali pada situasi yang selalu diinginkannya. Kembali pada sesuatu yang belum ingin dilepasnya. Kembali pada apa yang masih lengket melekat di hati. Kamu.
Ia tahu bahwa yang diinginkannya sudah tak lagi bisa digenggam. Ia sadar bahwa yang diharapkannya sudah tak lagi bisa direngkuh. Ia tahu. Ya, ia sadar. Tapi hatinya tak lebih kuat dari tahunya. Ingin yang masih menguasai hatinya ialah ingin yang belum bisa melepas. Belum bisa merela. Belum bisa ikhlas.
Kamu. Masih akan selalu menjadi inginnya. Menjadi harapnya. Dan menjadi hidupnya. Mungkinkah kamu merasa akan hal itu?
Kemudian ada yang mencubit gemas kedua pipiku. "Mulai lagi!! Aku nggak mau lihat adikku yang nyebelin ini jadi perenung gini aahh. Mana adikku yang bawel?"
"Kaaakk,,,"
"Kita semadi aja, yuk."
"Semadi? Di gua? Mistis-mistis gitu? Hiih..."
"Kenapa jadi mistis sih," ucapnya dengan ekspresi yang cemberut. "Aku sering semadi kalau lagi stress."
"Kamu bisa stress juga, kak?" tanyaku jahil.
"Ngece, kamu! Stress lah mikirin pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi."
"Stressan mana sama yang ditinggal demi orang lain?"
"Heyy, orang kayak gitu harusnya sudah kamu lupakan dari dulu!"
"Nggak semudah itu, Kak. Kekuatan hati setiap orang itu berbeda."
"Ya, tapi orang sperti itu nggak pantas buat dipertahanin di hati."
"Kamu orang kesekian yang bilang gitu."
"Nah, kan! Makin kurus kamu kalau lemah mulu sama hati," ucapnya sembari berdiri dan ingin berlalu.
"Mau ke mana?"
"Kamar."
"Untuk?"
"Semadi. Meditasi."
"Apa bedanya semadi sama melamun. Sama saja!"
Ia menjitak pelan kepalaku. "Sok tahu kamu. Selama meditasi, detak jantungmu akan melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stress menurun. Meditasi juga melatih otak untuk menghasilkan lebih banyak gelombang Gamma, yang dihasilkan saat orang merasa bahagia. Kamu butuh itu!"
"Aku nggak stress, kok."
"Nggak sih. Cuman rapuh!" Kemudian ia berlalu setelah memberi penekanan saat mengucapkan kata 'rapuh' sambil menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
![]() |
| Hutan Mati, Papandayan 2665 mdpl |
![]() |
| pic by @rizkaniaDR |
![]() |
“Rein, aku taruh sepedanya di sini, ya?” katanya, sembari meletakkan sepedanya di halaman rumahku. Tepat di depan jendela kamarku.
![]() |
| pic by google |
aku mencintai senja
selalu rindu dengan jingganya
langit keabu-abuan yang damai
ketika kita berebut senja yang sama
berdebat tentang kenangan di balik senja
menjadikan senja sebagai pelarian
atas sepi dan luka yang sama
senja mempertemukan kita
aku menanti malam
dan kamu menanti mentari
lalu di persimpangan kita bertemu
ya,, senja
senja yang kata mu anggun
tenang dan mendamaikan
dan,,
senja yang kata ku sepi
tak memberi nyawa pada kenangan pahit
lalu kamu bertanya
kenapa aku masih disini menatap senja?
karna aku masih rindu pada senja!
"Langit!" Ujarnya sembari menjulurkan tangannya.
"Senja!" Balasku tanpa menatapnya dan mengacuhkan uluran tangannya itu. Aku tetap asyik melukis senja.
"Senja? Nama kamu senja? Tapi kenapa kamu bilang senja sepi dan tak bernyawa!"
"Ya mungkin karna aku seperti itu!" Lagi-lagi jawaban ku yang acuh.
"Nggak suka senja tapi kok ngelukis senja!"
"Siapa bilang aku nggak suka senja! Maaf,, aku cuma lagi pengen sendiri disini!"
"Senja nggak pernah sendiri kan? Dia punya lagit yang menyediakan hamparan luas untuk melindunginya!"
Seketika tangan ku berhenti menggores di atas kertas. Kini aku menatapnya. Menatap wajahnya meminta penjelasan.
Bukan jawaban yang keluar dari mulutnya yang berwarna merah sehat itu. 'Seperti nya langit nggak ngerokok'. Hanya lengkungan senyum yang mencetak lesung pipi itu yang ku dapatkan.
Kemudian langit berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan ucapannya yang mengambang itu.
Kini aku sendiri. Menatap senja lebih dalam dan berusaha mencari kedamaian di dalamnya. Bukan lagi sepi dan tak bernyawa untuk kenangan pahit.
Lalu tatapanku menatap luas pada langit keabu-abuan yang melindungi jingga....
Langit dan Senja adalah sepasang
.....bersambung....mungkin!
terinspirasi dari KEUMALA
@fetihabsari
Feti Habsari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates