Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 10 Maret 2015

Kamisan S3 #4; Menggarami Luka


Tema Kamisan 4; Dokumentasi Mbak Yola
Hati yang memilihmu tetap akan memilihmu, meski kecewa tak semudah itu tenggelam dan menghilang. Sebab menguburkan rasa kecewa tak semudah menenggelamkan diri pada ombak yang murka. Dan memakamkan rasa sakit tak semudah menggali lubang untuk menguburkan diri sendiri.

***



“Tahun baru selanjutnya di mana ya?”
“Di kamar.”
“Di kamar masing-masing,” senyumku.
“Bareng dong,” tegasnya sembari mengusap lembut kepalaku.
“Aamiin.” Kuaminkan segala angan dan harapan baik yang terucap dari bibirmu.
Kami masih duduk berdampingan tanpa saling menatap mata namun memandang langit yang sama, langit gelap yang seketika terang benderang dihiasi cahaya berwarna-warni dengan suara dentuman yang menambah semarak suasana. Hening tanpa percakapan selanjutnya. Yang terdengar hanyalah doa-doa dan segala harap yang membumbung ke langit gelap bercahaya.
“Kenapa tahun baru identik dengan pesta kembang api yang kesannya malah membuang-buang uang ya?” tanyaku kemudian setelah leburan cahaya yang menghias langit gelap telah meredup dan dentumnya usai tak terdengar kembali.
“Bagi sebagian orang mungkin akan berfikir seperti itu. Tapi untuk sebagian lainnya mungkin juga tidak.”
“Maksudnya?”
“Di beberapa negara misalnya Cina, kembang api dipercaya mampu mengusir roh-roh jahat. Cahayanya menyimbolkan kemeriahan, kebahagian, dan kemenangan. Di Jepang, ada festival kembang api Sumidagawa yang diadakan  untuk mendoakan penduduk yang meninggal akibat epidemi kolera dan kelaparan besar.  festival ini termasuk ke dalam tiga pesta kembang api terbesar di Tokyo.
“Hhmmm,,, terus?”
“Kembang api juga dipakai dalam upacara pernikahan, agama, menang perang, dan acara penting lainnya. Mungkin kembang api mulai digunakan saat pesta tahun baru supaya di tahun yang baru kita bisa lebih bahagia dan dijauhkan dari sesuatu yang buruk.”
“Ooh,, jadi tergantung pemaknaan dari masing-masing orangnya ya. Doa-doa dan harapan baik semacam make a wish di malam tahun baru bisa saja terkabul dong ya?”
“Mungkin. Selama doa dan harapan itu dibarengi juga dengan usaha.”
“Tahun kemarin banyak sekali cobaan untuk kita, semoga tahun ini bisa semakin baik ya. Dan ucapanmu yang kuaminkan barusan, semoga tak hanya sekedar ucapan yang segera menguap.”
Ia menatapku lekat-lekat. Mengusap lembut kepalaku. Senyum yang memunculkan lesung pipi itu mengembang. Lebih indah dibanding kembang api malam ini.
“Aku berjanji, untuk selalu membuatmu bahagia,” ikrarnya.
Kusandarkan kepalaku pada pundak yang selama ini selalu nyaman dan menenangkan. Kuserap segala hangat dalam rangkulan teduhnya.
Sayang, jangan lagi kau buat api cemburuku meledak. Sebab kecewa tak semudah itu tenggelam bersama kata maaf. Dan rasa sakit akan dengan mudah kembali menggema. Jangan lagi kau biarkan aku menggarami luka atas kecewa-kecewa lalu yang tanpa pernah sengaja telah kau pupuk tumbuh subur.
Hati ini, hati yang tetap akan memilihmu. Kuyakin kita akan tiba pada sebuah ujung yang penuh dengan doa dan dekapan bahagia. Ikrar yang menyatukan hingga ajal memisahkan.
Kembang api malam ini menjadi saksi dan turut mengaminkan segala doa dan harapan baik.



Maret 2015
@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena