Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 28 Agustus 2014

Kamisan #13 IKAN KOI; Hadiah Ulang Tahun

Gadis itu beranjak dari sofa dan melangkah ke arah pintu untuk membukanya setelah terdengar ketukan yang ketiga kalinya.

Seorang pria tinggi tegap tengah berdiri di balik pintu yang baru saja terbuka. Aroma Truth for Men Calvin Klein pun langsung menyeruak memberikan udara bebas bagi siapa saja yang menghirupnya. Aroma yang memiliki wewangian woody aromatic yang selalu mampu memberikannya rasa nyaman. Dan gadis itu sungguh merindukannya. Kenyamanan yang selalu mampu diberikan oleh lelakinya yang kini berdiri di hadapannya. Gadis itu rindu lelakinya. Rindu dekapannya. Dan, wangi parfum itu.

Hening. Mereka masih membisu dengan mata yang masih saling menatap. Saling menenggelamkan diri pada kedalaman tatapan. Masih saling menelanjangi pikiran lawan dan mencari jawaban, 'apakah aku juga menjadi kerinduan untukmu?'. Hingga akhirnya lelakinya menyodorkan sebuah plastik berpita ungu penuh udara dan air. Sebentar, ada yang bergerak-gerak di dalam sana. Ada yang hidup. Seekor ikan berwarna putih dengan corak merah.

"Untukmu," kata lelakinya seraya menunggu gadis itu menerimanya.
"Apa ini?" tanya gadis itu heran.
"Ikan koi," jawabnya singkat.
"Untuk apa?"
"Untukmu."
"......."
"Hadiah untuk ulang tahunmu," lanjut lelakinya lagi.
"Hari ulang tahunku sudah tiga hari yang lalu." Raut wajah gadis itu berubah menjadi kusut. Ia kembali teringat betapa kecewanya ia ketika lelakinya tak mengingat hari ulang tahunnya. Mengabarinya saja tidak. Sejak hari ulang tahun gadis itu, lelakinya hilang bagai ditelan bumi. Dan kini, tiba-tiba, makhluk yang begitu dirindukan gadis itu telah kembali dan berdiri di hadapannya. Dengan membawa seekor ikan yang disebut koi, kata lelakinya. Apakah gadis itu masih merasa kecewa? Atau harus bahagia? "aku tidak butuh hadiah."
"Maaf," ucap lelakinya singkat.
"Masuklah."
"Tidak, terima kasih. Terimalah agar aku tak merasa bersalah lagi."
"Aku tidak menyalahkanmu," ucap gadis itu seraya mengambil kantong plastik transparan berpita ungu itu.
"Syukurlah. Kalau begitu aku pulang dulu."
"PULANG?!"
"Ya, dan mungkin aku akan menghilang lagi dari hari-harimu."
"Kenapa?" Kini gadis itu tengah menahan isak.
"Koi itu akan menemanimu, menggantikanku. Koi itu varietas kohaku, kohaku dianggap sebagai koi yang pertama dan terakhir."
"Maksud semua ini apa? Kamu menghilang sejak hari ulang tahunku dan sekarang kamu mau menghilang lagi dengan meninggalkan seekor ikan ini?" Gadis itu meluap-luap.
"Kuharap kamu mengerti makna dibalik koi itu. Maafkan aku." Lelakinya berbalik tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sedangkan gadis itu, ia kini terisak. Air matanya lumer membanjiri pipi kemerahannya. Matanya penuh dengan pekat yang kelam. Tangannya hampir saja menghempaskan bungkusan itu. Tapi masih bisa ia tahan dan membawanya masuk ke dalam.

Gadis itu hanya memiliki akuarium berbentuk persegi panjang di dalam kamarnya. Ia menuang ikan koi itu ke dalam sana. Masih dengan wajah sembab dengan mata yang banjir ia mengamati ikan itu. Entah bagaimana, gadis itu menemukan lelakinya dalam mata ikan koi itu. Namun yang ditemukan gadis itu adalah tatapan kesedihan.

Suara handphone gadis itu berdering nyaring membuyarkan perhatiannya pada ikan koi itu.

"Hallo," jawab gadis itu.
Terdengar suara isak dari seberang telepon sana. Dan kemudian hening. Hening yang panjang penuh dengan kepedihan.
Gadis itu menutup telepon dan kembali menghampiri ikan koi barunya.

"Apa ini kamu? Kenapa? Tolong jelaskan padaku!" Lirih ia bertanya pada koi yang masih menatap gadis itu dengan tatapan kepedihan. Gadis itu menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Ia terisak. Semakin terisak. Lelakinya kini telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya sejak hari ulang tahunnya.

@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena