Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 26 Februari 2015

Kamisan S3 #3; Potongan Terakhir

Kalian pernah mendengar tentang seorang monster yang begitu mencintai panda? Oh, tenang, akan kuceritakan kisah itu. Kisah yang membuatku cemburu pada panda. Sebab monter lebih memilihnya untuk dicintai dibandingkan denganku.

Sebentar. Tapi hanya sedikit kisah singkat. Jangan berharap lebih. Ingat! Latihlah hatimu untuk tidak selalu berharap terlebih berharap yang terlalu tinggi. Pada hal apa pun, pada siapa pun, dan di mana pun. Kau tahu kan sebabnya akan seperti apa kalau kau masih melakukannya?

***

Pada suatu masa, ada seorang monster penuh kegelapan hingga segala muram dan kelam menyelubungi jiwanya. Namun ada hal yang menarik dari hidupnya. Perihal mimpi dan ambisi yang tiada akhir, tanpa kata menyerah dengan satu alasan apa pun. Muntahan caci maki yang keluar dari bibir gelap itu adalah pendorong bagi hidupnya. Tingkah yang abnormal dan di luar batas adalah warna indah bagi jiwanya. Kenyataan perasaan yang jelas meretakkan sendinya ia pendam hingga ke dasar. Tak ada kesempatan kalian untuk mengintipnya. Jangan berharap untuk tahu.

Ingin mendekap dan berbisik padanya, bahwa gelapnya telah menarikku terjerembab masuk dalam dunianya  yang sebenarnya tak kupahami, tapi berusaha dan ingin kumengerti. Ingin membelai pendengarannya dengan sajak-sajak indah bukan raungan murka. Ingin memberi warna dengan dongeng-dongeng manis, bukan berguling di trotoar. Ingin menariknya menanam bunga-bunga ranum pada tanah gembur, bukan bergelut dengan pekatnya crude oil pada pemanas tinggi.

Hai, monster yang kutahu lembut dan baik hati. Nyatanya kau lebih memilih Panda-makhluk berbulu putih hitam-itu untuk dicintai. Rupanya Panda lucu itu mampu melumpuhkan segala geram sangar gelapmu. Apa yang dimilikinya hingga kau begitu menggilainya? Bulunya kah? Hitam-putih warnanya kah? Atau, kau memiliki kisah masa lalu menyangkutnya?

Dear, monster. Yang kumiliki hanyalah sebuah ingin dan harap. Aku memiliki sepotong red velvet yang masih hangat dari pemanggang. Potongan terakhir. Teksturnya yang lembut dengan cita rasa manis cheesecream berpadu pahitnya cokelat. Ingin kusuapkan potongan terakhir ini untukmu. Sudikah kamu menerimanya?

Mungkin tak semanis Pandamu. Hanya sepotong red velvet. Hanya menginginkanmu merasakannya. Manis yang berpadu dengan pahit namun lembut untuk dinikmati. Mungkin bisa menegaskan juga perihal hidup.

Ingatlah, bahwa hidup tak akan selalu berjalan manis, tapi juga pahit. Hidup berjalan seimbang. Pun sebaliknya. Pahit tak akan selamanya pahit, manis yang kau dapatkan setelah pahit rasanya pasti akan berkali lipat. Jadi, ingatlah, bahwa gelap, suram, kelam tak akan selamanya hitam, pada akhirnya akan ada yang memberi warna lain. Perpaduan seimbang.

Kini, kutahu Pandamu telah memberi warna yang tak hanya gelap, suram, dan kelam untukmu.

Teruslah pada mimpi-mimpimu, taklukkanlah segal ambisimu. Kisahmu akan tertulis manis pada lembaran kata yang sedang kau susun. Ingatlah bahwa kita akan abadi, sebab kita menulis.

***

Sepertinya kali ini bukan kisah yang kutuliskan. Mungkin sebuah surat lebih tepatnya. Surat yang kutitipkan melalui potongan terakhir red velvet.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena