Feti Habsari

Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 10 Desember 2018

The Story of My Pre-Wedding


"Sesungguhnya sebanyak-banyaknya foto prewedding ialah demi kepuasan si perempuan."

Untung Galihnya sabar. Sabar banget. Ketika saya sudah lelah atas segala sabar yang tampak disia-siakan bertahun-tahun lalu, Galih datang menuntun dengan sabar. Mengingatkan kembali arti sabar. Memberikan lagi asupan sabar.

"Aku kepingin prewed, yang bagus!"

"Mau di mana?"

"Nggak tahu. Bingung. Indonesia semuanya bagus."

"Sumba apa?" 

Yakinlah, tawaran itu pada akhirnya hanya sekadar tawaran. Memang benar, dalam mempersiapkan pernikahan segalanya harus diperhitungkan dengan matang, terlebih soal dana. Meski yang katanya, "kata teman di sana nggak usah mikirin soal biaya fotografernya, tinggal datang aja," ya tetap saja kan biaya pp Jakarta-Sumba untuk dua orang itu sudah berapa juta sendiri? Belum jajan dan kawan-kawannya. Sebab untuk sesi foto prewedding ini si perempuan pasti nggak mau pusing-pusing untuk urus perjalanan ala backpacker. 

Alhasil, tertariklah sama hasil karya dari @yourwish_picture yang mana itu ya teman sendiri. Lebih enak toh, pakai teman sendiri juga, lokasinya lebih ramah biaya, sekalian pulang lagi. Paket lengkap.

Jadi, si calon pengantin akhirnya memutuskan untuk melakukan sesi foto prewedding di Magelang dan Jogja. Untuk tema, semuanya diserahkan kepada si sang perempuang yang banyak banget maunya. 

Malam sebelum hari foto prewedding, terbersit foto ala-ala di pasar malam. Langit gelap mulai menjatuhkan rintik demi rintik air yang menimbulkan keresahan dan batin kegagalan rencana malam itu. Tapi mobil tetap dilaju menuju pasar malam. Dan benar saja, sesampainya di sana rintik hujan berhenti.

Memang dasarnya pasar malam yang kalau hujan memang selalu identik dengan becek dan genangan di sana-sini. Ditambah kepadatannya yang sangat amat tidak efektif untuk melakukan kegiatan foto. Akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobil dan menyerah, namun si fotografer menyarankan pindah lokasi ke sebuah kafe. Jadilah foto malam itu dengan tema santai di sebuah kafe.

















Keesokannya, hawa dingin Kota Magelang memang membuat hasrat ingin terus bergumul di dalam selimut sangat kuat. Sedang MUA yang dipesan sudah siap menunggu di depan pintu rumah. Malamnya memang saya bertanya perihal jam berapa saya harus sudah siap dimake up. Jawaban dari MUAnya memang agak sedikit bikin kecewa karena harus bangun subuh yang awalnya nggak disangka harus siap sepagi itu. Udah kayak mau nikah aja.

Jam 06.00 akhirnya sang perempuan mulai didandani dengan mata yang masih setengah mengantuk. Ternyata bukan hanya make up untuk acara nikahan saja yang membutuhkan waktu lama, make up untuk prewedding juga memakan waktu yang cukup lama.

Tema pertama, tetap mengusung adat jawa. Berpakaian kebaya dan beskap yang dipadu dengan kain couple. Untuk tema ini kita pilih lokasi di Balkondes Bumiharjo, Magelang. Apasih Balkondes? Buat kamu yang nggak tahu apa itu Balkondes, googling deh. Lagi hits loh di Magelang dan jadi destinasi wisata alternatif di sana.

Sesi foto untuk tema pertama ini yang paling total dan maksimal. Sesi pertama yang belum capek tanpa merasa dikejar waktu dan juga cuaca yang cerah membuat hasilnya juga oke dan memuaskan.





Tema kedua, si perempuan inginnya melakukan sesi foto di candi. Tetap dengan nuansa jawa dengan latar candi, tetapi menggunakan busana formal nuansa putih. Dan hal itu tidak terjadi karena nggak diperbolehkan foto di candi meski ijin dari pihak candi telah kami kantongi. Kenapa? Ya tahulah ya beberapa mitos tentang candi.

Akhirnya beralih ke Gumuk Pasir Parangkusumo di Jogja. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga jam ini hampir membuat lelah. Cuaca yang naik turun pun hampir menurunkan mood yang harusnya tetap terjaga dengan baik.





Tersebab kebanyakan mau yang harus diselesaikan dalam sehari, akhirnyalah beberapa tema nggak maksimal dan nggak sesuai angan-angan.

Pindah ke pantai parangtritis untuk mendapatkan sunset, tetapi langit sedang tidak berpihak. Gumapalan awan mendung menutupi matahari dan angin juga berembus dengan bringas tak bersahabat.
         
         
            





Langit sudah hampir gelap, tapi masih ada satu tema yang diinginkan. Mobil dilaju menuju landasan pacu Pantai Depok. Seketika langit berubah menjadi keemasan. Awan menyibak langit, menampakkan kemilau senja yang ditunggu sedari tadi.

Tiba di pintu masuk, kawasan sudah ditutup untuk umum. Kami bernegosiasi dengan penjaga hingga akhirnya diijinkan masuk dan diberi waktu sekitar setengah jam. Senja memang tak layak diburu dan dikejar. Ia sebaiknya dinikmati selayaknya dan sewajarnya. Cukup dikagumi, sebagai pelepas penat atau pelega dahaga yang rapuh. Tidak untuk dimiliki layaknya Sukab yang mencurinya.




The Happy Team


Thank you Yourwish Picture
and the great team
yang telah sabar dan maksimal dalam mewujudkan keinginan kami dengan hasil yang menyenangkan dan memuaskan

Photo by @yourwish_picture
MUA by @novibundar





Read More

Rabu, 14 November 2018

The Story of My Engagement




A true gantleman always keeps his words.

Saya nggak bisa langsung yakin sama Galih. Dia membuat saya ragu. Ragu banget. Bahkan saya berdiskusi langsung dengan kedua orang tua. Saya hanya berusaha menjaga hati dan orang tua agar tidak jatuh pada kecewa mendalam lagi seperti kemarin.

Ditambah lagi jika saya memilih Galih, artinya saya memilih hubungan LDR lagi, yang sudah banyak ditentang banyak orang terdekat akibat melihat perjuangan saya yang kemarin. Tetapi saya yakin, sebuah hubungan LDR itu bukan LDR-nya yang salah, tetapi yang menjalaninya. Bisakah mereka tetap saling menggenggam dan memperjuangkan tanpa pernah lelah dan melepas.

25 Mei 2017 saya mencoba meyakinkan diri dan membuka hati. Memberikan tangan untuk digenggamnya menuju apa yang ia utarakan. Namun sebuah harapan tetap saya letakkan pada Tuhan.

Singkat memang. Tidak butuh waktu lama untuk saling meyakinkan dan mencoba untuk yakin. Nyatanya, pilihan saya tidak lagi keliru.

Agustus 2017, Galih datang ke Jakarta. Melengkapi hari ulang tahun saya dengan penuh kejutan. Dan saat itu ia memutuskan untuk menetap di Jakarta yang artinya nggak perlu LDR lagi. Galih dengan cepat memenuhi ucapannya perihal jarak.

Desember 2017 saya diajak pulang ke Magelang untuk kedua kalinya. Saat perjalanan kembali ke Jakarta, di gerbong kereta Galih bicara lagi soal keseriusan. "Aku sudah bilang ibu tadi sebelum berangkat soal niat keseriusan kita." Di sini Galih bicara panjang lebar menjelaskan yang pada intinya seperti dia melamar, meminta saya untuk melangkah lebih jauh lagi bersamanya. Lagi-lagi nggak romantis banget momentnya. Di atas gerbong kereta habis makan rujak.

Dimulai dari itu, waktu seolah bergerak lebih cepat dan sangat cepat. Tiba-tiba satu persatu obrolan dan rencana antar keluarga telah tercatat dan tanggal pun telah ditetapkan. Sementara perkiraan kami tidak akan secepat itu langkahnya.

Galih memang tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan saya. Begitu pun dalam membuktikan ucapannya sebagai laki-laki, ia tak perlu jutaan janji bahkan tawaran angan-angan semu.

Ia menepati janjinya, memenuhi ucapannya, memegang kata-katanya. Yang selalu saya tekankan adalah, laki-laki yang dipegang itu ucapannya, tanggung jawabnya. Dan Galih berhasil membuktikan itu. Galih memberi sebuah kepastian dan kejelasan. Di 10 January 2018 ia mengikat saya dan meminta saya dari Bapak. Tanpa jangka waktu yang panjang, tanpa janji-janji manis yang hanya menguap, ia berikrar untuk selalu bertanggung jawab dan membahagiakan.

ekspresi mau dilamar

Our Heaven


Saya pernah terbuai pada janji-janji menahun yang ternyata hanya menguap dan berlalu. Galih pernah terbawa arus pada keyakinan yang ternyata semu.

Mungkin Tuhan telah merancang semuanya. Mengatur segalanya. Mungkin kami dipertemukan melalui sebuah pertemanan, tetapi kami disatukan oleh luka yang sama.

Semoga Galih merupakan jawaban dunia akhirat bagi saya. Semoga kami bisa saling bertahan dan memperjuangkan satu sama lain, tidak saling melepas apa pun alasannya.

Tanpa ada rencana sebelumnya, dengan rentang waktu kurang lebih sebulan saat Galih 'seperti' melamar saya di atas gerbong kereta itu, 10 January 2018 kedua keluarga dipertemukan sebagai saksi dari keseriusan kami. Menguji dan mempererat kisah yang akan terus berjalan. Tanpa pernah ada luka dan kecewa yang tak terselesaikan.



my brides



Read More

The Story Our Love


Kalau ada yang tanya "Kapan? Di mana? Dan Bagaimana?". This is the beginning of our love story.

Yogyakarta, 20 November 2015 adalah pertemuan pertama yang tidak pernah terencana dan tanpa kesan. Ingat namanya saja samar-samar. Ngobrol juga sekadarnya. Biasa banget.

pertemuan pertama
angkringan stasiun Lempuyangan
Saat itu saya dan teman-teman sedang liburan di Jogja. Mereka yang merupakan Komunitas Berbagi Nasi, setiap mengunjungi kota mana pun pasti selalu meluangkan waktu untuk ikut aksi. Saat itu, Bernas Jogja melaksanakan aksi di hari Jum'at. Kita pun menuju mepo malam itu.

Seorang teman yang sudah seharian nyetir memutuskan nggak ikut muter, mau tidur di mobil, saya pun ikut-ikutan butuh tidur. Bukannya ke mobil dan tidur, kami malah dibawa ke angkringan dekat Stasiun Lempuyangan.

Mereka yang mengajak ke angkringan ini ternyata pejuang Bernas dari Magelang (yang memang kalau ada tamu pasti disamperin). Sepertinya mereka nggak ikut muter karena sengaja untuk menemani kami yang nggak ikut muter. Tapi kami ngantuk bro, bukan pingin jajan di angkringan. 😂

Seusai pejuang nasi yang lain selesai aksi membagikan nasi dan menyusul ke angkringan, kita memutuskan pulang untuk tidur dan istirahat. Tapi saya malah kebelet pipis, yang mana di angkringan pinggir jalan pastinya nggak ada toilet dong. Angkat suara lah satu sosok yang sedari tadi ngobrol sama teman di angkringan untuk mengantar saya mencari toilet. Ternyata itu si Galih (tetuanya Bernas Magelang). Yang pada saat itu saya nggak kenal dan nggak tahu dia siapa.

Galih antar saya muter-muter cari toilet yang ternyata susah. Ya iyalah cari toilet yang buka dini hari. Alhasil numpang di alfamart 24 jam. Selesai, sudah. Hanya sebatas itu. Nggak ada obrolan dan perbincangan apa pun. Murni mengantar cari toilet.

Keesokannya teman-teman saya pergi ke Magelang karena diajak Galih dan yang lainnya untuk rafting. Sementara saya tetap stay di Jogja. Kenapa?  A story from my past that probably most people already know. (Sok Famous)

Semenjak pertemuan pertama di November 2015, saya dan Galih nggak pernah ada kontak pribadi apa pun. Selain saling komen di path atau fb. Itu pun komen di kolom status kakmer, kakdew, atau teman yang lain.

Sebagai teman yang sering banget menghabiskan waktu bersama mereka yang memang anak-anak Bernas, nggak heran banget kalau sosmed saya ikut-ikutan difollow sama anak-anak Bernas dari yang memang benar kenal sampai yang nggak kenal termasuk Galih.

Saat itu saya masih menjalani hubungan LDR Jakarta-Jogja sama si penyair yang yakin banget punya akhir bahagia meski banyak air matanya. Begitu pun dengan Galih yang menjalani LDR Magelang-Jogja yang sudah bertahun-tahun lamanya tapi menyedihkan juga. Kemudian kisah kami masing-masing kandas dengan beragam cerita pilu yang sakit banget deh. 😂✌

Jadi, jelas banget kan kalau saat pertemuan pertama itu nggak pernah ada yang nyangka kalau akhirnya kami bisa melangkah bersama. Saling meyakinkan diri untuk bersama-sama menghapus luka dan mulai membangun masa depan. Menggenggam takdir bersama.

first flower

April 2017 saya  bertemu Galih untuk yang kedua kalinya semenjak di 2015. Galih ke Jakarta dalam rangka liburan panjang sepertinya. Denger-denger sih baru patah hati juga. Dia di Jakarta dari Februari, tetapi saya baru ada waktu di awal April untuk ikut main bareng.

Saat itu memang bertepatan dengan kondisi saya yang sedang nggak baik. Upaya saya untuk bisa tetap bertahan dan hidup dengan normal kembali adalah dengan menyibukkan diri hingga benar-benar lupa pada diri. Hampir dua minggu sekali saya keluar kota dalam upaya melupakan luka. Mengikuti kaki melangkah untuk mencari kembali utuhnya diri, menemukan jiwa yang hilang, dan mendapatkan kembali hati yang tercecer sia-sia. Dengan banyaknya perjalanan.

Beberapa hari setelah pertemuan kedua itu saya mendapat bisik-bisik dari Kak Dew yang ternyata dibisikin juga dari Arya. "Galih tertarik sama Feti semenjak pertemuan pertama di Jogja dulu".

Reaksi pertama saya saat mendengar itu adalah ketawa ngakak. Kak Dew berpendapat kalau kayaknya kami nggak mungkin karena sudah baik-baik temanan aja. Sementara Arya mencoba meyakinkan Galih untuk mencoba mendekati saya saat itu karena posisinya kami sama-sama sedang sendiri. Dan sama-sama sedang melangkah untuk move on dari drama-drama pilu.

Nggak tahu gimana ceritanya Arya meyakinkan Galih, sampai akhirnya dia berani maju untuk terus terang kepada saya.

Setelah sebelumnya di akhir April Galih sempat mampir Semarang saat saya ada di sana, lalu di pertengahan Mei Galih kembali ke Jakarta, khusus untuk main ke rumah. Kemudian minta diajak main ke Museum Pancasila Lubang Buaya.

Seusai berkeliling museum, kami duduk di taman, kemudian Galih menanyakan satu hal, "Mau nggak kalau aku ajak serius?" dan reaksi saya malah ketawa.

"Ini serius, bukan lagi becanda," katanya lagi. Okey. Tapi saya nggak tau harus gimana saat itu. Mendadak nggak punya pikiran. "Boleh dipikirin dulu jawabannya, tapi kalau bisa jangan lama," katanya lagi.

Entah ada sejarahnya apa, kenapa Galih menyatakan perasaan di Museum Lubang Buaya yang nggak ada romantis-romantisnya itu. Jelas dong saya bukannya terenyuh haru biru gimana gitu, tapi malah nggak bisa mikir.

Itulah Galih. Dia bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan sekaligus romantis. Dia bisa menjadi orang yang sangat menjengkelkan sekaligus menyenangkan.

Cerita kedekatan kami tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali keluarga saya, bahkan teman-teman terdekat pun tidak ada yang tahu. Hingga perlahan saat kami mulai terbuka perihal hubungan kami, semua teman merasa 'kecolongan' dan nggak menyangka. Tapi dukungan dan doa-doa baik tetap berlimpah.

Memang saat pertama kali Galih main ke rumah, saya langsung cerita ke kedua orangtua saya perihal niat serius Galih. Keduanya menyarankan saya untuk mencobanya dan membuka hati. Memang saat itu saya masih berusaha menyembuhkan luka dan agak trauma, tapi keduanya tidak ingin saya terus larut dalam kondisi itu. Maka saat respon positif dari kedua orangtua sudah saya dapatkan, saya mencoba untuk berjalan bersama Galih.


And our love story begins....


pertama kalinya antar ke Kantor
setelah tiba-tiba jemput ke kantor
demi surprise ulang tahun
Read More

Selasa, 13 November 2018

Kamisan S4 #3 ; Rawon

pic by link


“Kamu pernah makan rawon?”

“Apa itu rawon?”

Kemudian ia melaju motornya dengan ringan. Menimbulkan hembusan-hembusan kecil angin yang memainkan tiap helai rambutku yang tidak terlindungi helm. Ia mengendarai motornya dengan perlahan dan hati-hati untuk memastikan bahwa aku akan selalu baik-baik saja saat bersamanya.

“Ini yang namanya rawon,” ujarnya saat dua porsi rawon yang ia pesan ketika kami telah tiba di sebuah warung makan yang cukup sederhana namun ramai pengunjung ini terhidang.

“Iih, warnanya kok hitam gitu? Agak gimana gitu ya mau makannya.”

“Jangan lihat dari tampilannya, kalau sudah sekali coba dijamin kamu ketagihan sama rasanya.”

Aku mencicip dengan ragu sedikit kuah berwarna hitam dengan aroma aneka rempah yang menyeruak ke dalam indera penciumanku. Lidahku mulai merasa kuah hitam itu dan melalui kerongkongan. 

“Enak,” seruku dengan wajah berbinar.

Itulah awal mula perkenalanku dengan rawon yang pada akhirnya menjadi makanan favoritku. Sebenarnya bukan murni karena rasanya, tetapi karena siapa yang mengajakku mencicip rawon. Pria itu, yang sangan menyukai rawon dan memasukkannya ke dalam daftar makanan favoritnya. 

Tidak selamanya hitam itu gelap. Dan pekat itu muram. Serupa Rawon yang berkuah hitam dengan rasa super istimewa. Hitam pekatnya kuah bukan berarti rasa yang pahit dan tidak enak, namun sebaliknya. Makanan asal Jawa Timur ini kini nggak hanya eksis di kota asalnya, tetapi juga di berbagai kota dengan berbagai variasinya yang berkembang.

Aku telah terbiasa dengan makanan berkuah hitam itu. Aku bahkan terbiasa membuat dapur ibu berantakan untuk selalu berusaha menciptakan rawon yang lezat untuk priaku itu. Puluhan kali gagal, hingga akhirnya aku menemukan cita rasa yang pas dan dengan yakin priaku akan menyukainya. Kukemas dalam kotak makan penghangat agar rasanya tetap terjaga dalam kehangatan.

Aku tiba di rumah kosnya yang sepi dan tak banyak kegiatan. Kala itu hujan tengah jatuh tanpa ragu. Langit juga pekat. Saat yang tepat untuk menikmati rawon yang hangat, pikirku. Pintu kamar tertutup, ada sepasang sepatu perempuan di depannya. Aku terhenti dan mematung. Mendengar apa yang terjadi di dalamnya.

Kuputuskan untuk menaruh kotak makanan berisi rawon itu di depan pintu dan pergi menjauh. Tidak ingin mendengar lebih lanjut apa yang terjadi. Tidak ingin berada di bawah terangnya lampu lorong ruangan.

Mungkin di bawah pekatnya langit lebih baik. Dan di tengah guyuran hujan lebih baik untuk bersembunyi. Menyembunyikan sesuatu yang patah dan merembes. Ternyata priaku telah mengenalkanku pada sesuatu yang hitam dan pekat agar aku bisa terbiasa dengan itu saat harus mengalaminya sendiri. Aku tahu. Aku akan tetap menyukai rawon, tetapi bukan lagi karenanya, tetapi rasanya. Rasa yang memang tidak tampak seperti kelihatannya. 

Terkadang cinta mengajarkan, kita bisa terjebak dalam cerah dan terbebas dalam pekat. Bukankah apa yang kita lihat tidak selalu seindah yang terlihat?


Bekasi, 13 November 2018

Read More

Kamisan S4 #2 ; Galau




Ada yang lebih galau dari hati, lebih kacau dari perasaan. Logika yang tak tentu arah dan mati saat bertemu rasa bernama cinta. Percayalah, cinta tidak  sesederhana pernyataan ‘aku suka kamu’ atau ‘aku cinta kamu’. Cinta tidak semudah makan bareng atau sekadar tertawa bersama. Siapa yang pernah merasakannya dan berhasil melaluinya pasti pada akhirrnya ia akan terbahak-bahak dan menjadikan cinta yang rumit itu sebagai lelucon klasik.

Cinta selalu berkelakar tentang kebahagiaan, tetapi ia lupa jika hidup juga selalu tentang keserasian yang saling berdampingan. Saat ada kebahagiaan, maka sisi lainnya yang selalu dilupakan itu juga akan ada. Kesedihan.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa. Memangnya kenapa?”

“Status dan tulisan-tulisan di sosmedmu kok galau terus.”

“Memangnya kalau aku tulis galau itu artinya aku lagi galau?”

“Ya nggak tahu. Tapi orang pasti berfikir kayak gitu. Kamu galau terus. Dan aku, sebagai kekasihmu pasti yang akan tertuduh penyebab galau dan sedihmu yang berkepanjangan itu.”

Sang perempuan tidak pernah menyangka bahwa laki-laki super idealis yang sungguh ia kagumi dapat berpikir sedangkal itu. Semenyedihkan itu. Ia yang berpikir bahwa akan hidup serasi selamanya bersama laki-laki dengan pandangan dan gagasan yang selalu menurutnya indah ternyata patut dipertanyakan lagi.

Bukankah dia seharusnya tahu genre apa yang selalu kutulis. Dan bukankah ia paham bahwa apa yang dituangkan tidak selalu perihal diri kita. Bahwa ide-ide bisa muncul dari mana saja. Bahwa passion harus bisa terus dipertahankan dan dikembangkan. Hal itu yang ia ajarkan kepadaku. Sebuah pemikiran maju nan idealis yang memang kuakui, aku beruntung memilikinya. 

“Jadi kamu merasa menjadi korban atas apa yang aku tulis?” 

“Entahlah. Apa kamu bisa berfikir dulu sebelum menulis?”

“Maksudmu apa?”

“Mungkin jika kamu terus bersamaku, kamu akan terus sedih dan tidak bahagia seperti ini. Cinta itu harusnya bahagia. Kalau sedih, buat apa?”

“Aku bahagia bersamamu. Tapi bukankah cinta juga nggak melulu soal bahagia? Sama seperti hidup. Akan ada ujiannya yang buat kita naik kelas dan lebih hebat.”

“Apa kamu bahagia bersamaku?”

“Ya. Kamu bagaimana?”

“Entahlah.”

“Apa itu artinya kamu yang tidak bahagia?”

Laki-lakinya diam. Sang perempuan juga diam. Mereka membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing atau bahkan perasaan sendiri-sendiri. Jika suara terkecil pun bisa terdengar, mungkin hanya suara gemertak hati yang mulai retak dan derap logika yang mulai berlarian.

“Baik. Apakah yang kamu inginkan adalah dengan kita berpisah?” perempuan itu memecah kebisuan.

“Jika kita harus berpisah, aku ingin itu keputusan dari kita berdua.”

“Oke. Jadi bagaimana sebaiknya?”

“Kamu setuju?”

“Kalau itu bisa membuatmu bahagia dan terbebas dari tuduhan-tuduhan yang kamu khawatirkan itu, aku bisa apa.”

“Kamu baik-baik saja?”

“Apakah ada yang baik-baik saja dalam sebuah perpisahan?”

“Mungkin kita akan lebih baik jika menjadi teman. Atau kakak-adik.”

“Ya, mungkin. Dan satu hal yang ingin kuperjelas di sini. Semoga kamu mengerti perihal tulisan-tulisan galauku yang nggak melulu itu menggambarkan kalau aku sedang galau atau sedih. Begitu juga dengan yang pernah kamu ungkapkan. Bahwa move on nggak melulu harus selalu sudah dapat pasangan baru. Itu lebih kepada diri sendiri dan hanya kita yang paham bagaimana diri kita.”

Laki-lakinya terdiam. Dengan raut wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosong, ia masih membisu. Masih sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Mungkin. Sedangkan sang perempuan tengah berusaha terlihat tegar. Mencoba menerima bahwa laki-laki idealis yang dikaguminya tak lagi miliknya. Mengikhlaskan hatinya yang selama ini selalu berusaha mengerti laki-laki yang dianggapnya hebat, untuk ditata kembali.

Galau. Sebuah awal dimulainya perbincangan yang menjadi alibi sebuah ketidakbahagiaan. Galau. Mungkin kini ia tengah benar-benar berada di fase itu. Bukan lagi sekadar tulisan, tetapi juga terjadi benar dalam hidupnya. Mencintai atau melepaskan, keduanya memiliki kepedihan yang sama. Terlebih saat mempertahankan apa yang tidak mempertahankanmu kembali.

“Semoga kamu bahagia,” ucap sang perempuan sembari tersenyum dan melangkah pergi.

Ada yang sedang ia pertahankan untuk tidak terlihat. Air mata.



Jakarta, 13 November 2018

Read More

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena