Feti Habsari

Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Jumat, 21 Desember 2018

Our Wedding



Be the princess and the prince in the day that never imagined. With all the happiness and tears, millions of angels pray for us. Still be a brother, a bestfriend, and the best life partner.

Langit masih gelap, sedang ayam-ayam pun belum terjaga dari lelapnya, namun seisi rumah sudah gaduh terbangun dari tidurnya yang juga tidak nyenyak. Ribut antre toilet dan dentingan baris gelas-gelas berisi teh panas mengepul. Saya sudah siap. Diantar paling awal ke gedung tempat acara akan berlangsung. Di make up. Dengan mata yang terpaksa segar dan pikiran yang masih belum sepenuhnya sadar. Hari ini saya akan menikah. 28 April 2018.

Setelah melalui beragam kisah dan cerita, yang lebih banyak tangis dibanding tawa, beraneka drama yang tercipta. Pada akhirnya kita akan tiba pada sebuah tujuan akhir. Bukan untuk selesai, tetapi untuk membuka pintu baru dengan tanggung jawab yang lebih besar, dengan ujian yang lebih menantang, dengan segala kesabaran yang mungkin siap tergadaikan.

Kita tiba di tujuan akhir untuk menetap, bukan sekadar singgah. Maka bersabarlah, sebab usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Di saat kamu sedang patah sepatah-patahnya, ingatlah bahwa Tuhan tidak tidur. Saat kamu sedang hancur sehancur-hancurnya, ingatlah bahwa Tuhan selalu ada. Saat kamu sedang kecewa sekecewa-kecewanya, ingatlah bahwa Tuhan telah mempersiapkan kejutan indah. - and he was the only one. hopefully forever.



“Aku udah bilang ibu. Pinginnya awal tahun depan. Tapi kemungkinan akad nikah aja, tanpa resepsi. Gimana?”

Bagi sebagian perempuan, beberapa moment penting yang tampak sederhana bagi orang lain memang akan selalu lekat di pikiran dan kekal dalam ingatan. Tanpa terkecuali moment di mana sang pria melamarnya. Terkadang perempuan membayangkan dilamar di sebuah tempat romantis dengan beberapa tangkai bunga atau sebuah cincin yang manis. Berbeda dengan kehidupan nyata, tak segala yang dibayangkan bahkan diimpikan itu sesuai. Sebab percayalah, Tuhan selalu memberikan apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan.

Di sebuah gerbong lokomotif kereta api tujuan Yogyakarta – Jakarta yang cukup bising oleh suara mesin dan guncangan khas kereta api, ada sebuah prosesi sang pria melamar perempuannya. Entahlah itu bisa dibilang melamar atau hanya obrolan biasa, tapi bagi saya itu ibarat sebuah pertanyaan “will you marry me?”. Pada pertengahan Desember 2017 yang basah itu, tanpa pernah terduga dan dibayangkan, Galih mengajak saya menikah. Dalam situasi dan suasana yang jauh dari kata romantis yang banyak diangankan sebagian besar perempuan.

Sebelumnya kami memang belum pernah serius membicarakan perihal pernikahan. Hanya sesekali saya menanggapi keinginan Galih yang ingin menikah di awal tahun 2018, sembari mengamininya meski entah naantinya dengan siapa. Saya memang mulai membatasi diri dalam membahas rencana pernikahan secara lebih jauh dan mendalam sebelum ada kejelasan dari kedua keluarga besar saya dan pasangan saya nantinya. Rasa trauma itu masih ada. Saya tidak ingin lagi terlalu berharap dan jatuh pada rencana-rencana yang melangkahi Tuhan. Maka, saya agak kaget saat Galih mengutarakan niatnya yang sudah dibicarakan bersama orangtuanya tanpa saya ketahui meski saat itu saya juga ada di rumahnya.

Saat Galih mengutarakan niatnya tersebut, saya diam. Saya tahu dia tidak sedang bercanda, maka saya kehilangan kosa kata sembari berpikir keras. Hingga akhirnya saya menjawab, “nanti aku bicarakan dulu sama ibu kalau sampai Jakarta.”

Kedua orang tua saya langsung mengiyakan, menyetujui niat baiknya. “soal biaya bisa dipikirin bareng nanti, orang tua juga kan nanti ikut bantu,” begitu jawaban dari orang tua saya. Sedikit menenangkan pikiran pada saat itu memang.

Setelahnya, waktu cepat sekali beranjak. Satu demi satu rencana terlaksana. Belum genap sebulan dari kejadian di dalam gerbong lokomotif kereta itu, keluarga Galih datang ke Jakarta. Kami mengadakan acara lamaran. Beberapa minggu setelahnya foto prewedding terlaksana.

Kami berdiskusi. Berpikir keras soal dana. Galih tidak ingin membuang uang untuk sebuah pesta, ia berfikir bahwa uangnya bisa digunakan untuk hal lain. Saya utarakan, sekecil dan sesederhana apa pun, setiap perempuan pasti punya pesta pernikahan impiannya sendiri. Saya cerita, saya punya tabungan dan ingin memakainya untuk acara pernikahan nanti. Galih paham dan mengiyakan. Tanpa salah mengartikan apa maksud yang saya utarakan. Kami mencari WO yang cocok dan menggenapi tabungan semaksimal mungkin. “setelah nikah, kita mulai dari nol nih. Semua tabungan pasti habis terpakai,” begitu perbincangan kami saat mempersiapkan segala perihal pesta pernikahan. Sebab percayalah, sesederhana apa pun pesta pernikahan, dana yang dikeluarkan itu nggak sedikit.

Beruntungnya kami sepakat dan sejalan dalam hal tidak ingin membebani orang tua perihal biaya. Memang, orang tua itu masih punya tanggung jawab dalam hal menikahkan anaknya, tetapi sebisa mungkin kami ingin mengatasinya sendiri. Meski pada akhirnya kedua orang tua kami juga ikut membantu sedikit banyak dalam hal dana, tenaga, dan pikiran.


Kami memilih WO dari pada urus semua-muanya sendiri karena pertama, saya dan Galih bekerja yang artinya waktu kami sedikit untuk mencari catering, dekor, rias, dll. Kedua, saya tidak ingin membebani orang tua, biarlah orang tua duduk anteng di rumah istirahat tanpa wara-wiri ikut bantu anaknya cari ini itu untuk acara. Ketiga, kami sudah cukup pusing dan lelah jadi kami tidak ingin membuang tenaga dan pikiran untuk segala halnya itu. Beruntung kami menemukan WO yang tepat dan sesuai setelah bertemu dengan berbagai macam WO. Kami merasa terbantu dan berterima kasih sekali dengan jasa WO. Tinggal bicarakan dan tuangkan ide serta ingin kalian di hadapan mereka, maka mereka akan mewujudkannya.

Awalnya, kami punya konsep yang simple dan nggak mau ribet. Temanya nasional dengan gaun dan jas tanpa ada acara adat. Begitu yang kami tuangkan ke pihak WO dan sudah digambarkan. Tetapi saat meeting bersama keluarga, berubah menjadi adat. “pernikahan kan sekali seumur hidup, dua-duanya juga jawa, kalau bisa adatnya jangan dihilangkan,” begitu katanya. Akhirnya tema resepsi berubah menjadi adat jawa dengan segala prosesinya itu. Dan artinya juga tambah biaya. “Memang jika ada prosesi adat itu selalu ada biaya tambahan, makanya sekarang banyak yang nggak pakai adat dan maunya simple,” begitu memang kata WO-nya.




Tersebab saya yang ‘agak’ banyak inginnya ini, ada beberapa hal yang harus kami urus sendiri. Nggak banyak memang, tapi itu saja sudah cukup banyak menguras tenaga dan emosi.


Pertama, undangan. Dari awal belum punya pikiran mau buat undangan model apa dan bagaimana. Inginnya yang simple, praktis tapi tetap bagus dan cute. Intinya sih semua hal urusan undangan mulai dari design dan apa-apanya itu Galih yang urus. Kita googling dan search di IG model undangan yang lucu-lucu, muncul beberapa pilihan sampai akhirnya jatuh ke undangan bambu ini.

Mulailah kami keliling Jakarta untuk cari tempat yang bisa buat undangan sesuai keinginan, dan hasilnya nihil. Kita menemukan undangan model ini memang dari instagram yang kesemuanya produksi di Jogja. Akhirnya undangan ini pun dipesan di Jogja. Lagi lagi Jogja.

Setelah jadi, undangannya kami ambil sendiri langsung ke rumah produksinya. Modelnya masih home industry banget gitu ternyata. Yang mengerjakan pun mbah-mbah yang sudah tua gitu.

Hasilnya? Sebenarnya jauh banget dari ekspektasi karena persoalan bambunya yang kualitasnya kurang bagus. Kalau hasil cetakan kertasnya lumayan sesuai. Bambu yang digunakan tidak melalui proses apa-apa selain pemotongan dan pembentukan, sehingga di beberapa slongsong bambunya masih banyak serbuk bambu dan serangga kecil-kecilnya. Akhirnya sampai di rumah disortirin satu-satu mana bambu yang layak dan tidak. Ngesortirin ini pun butuh pengorbanan yang lumayan. Dengan personel yang kadang ada aja yang bantuin belum lagi durasi sortir yang lebih dari tiga malam.

Mulanya agak kecewa sih dengan hasilnya, tapi kalau ingat-ingat rumah produksinya, ya nggak apa-apa kasih rejeki ke mereka kan. Kami sih nggak komplain, tapi saya yang ngedumel sama Galih karena hasilnya yang jauh banget dari ekspektasi, tapi disabar-sabarin sama Galih. Akhirnya, undangan disebar. Dan banyak aja yang bilang lucu atau kayak jaman kerajaan dulu aja.

So, di balik sebuah pengorbanan itu akan ada hasil yang baik juga. Gitu sih kayaknya.


Untuk wedding invitation video, kami pesan di @yourwish_picture juga. Puas dengan hasilnya pokoknya deh. Pinginnya sih untuk dokumentasi acara pernikahan pakai @yourwish_pictures juga, sayangnya jauh.

Kedua, souvenir. Yang satu ini pun kami juga belum kepikiran mau buat souvenir apa. Pinginnya yang lucu tapi bermanfaat. Mulanya memilih telenan lukis, yang nantinya dilukis sesuai design yang kami miliki. Tapi kata teman sayang, sudah dilukis nanti dibuat potong-potong sayur di dapur. Akhirnya kami mendapat rekomendasi dari WO untuk datang ke Alfrianda Souvenir di Cipinang, yang katanya di situ terkenal lengkap dan murah-murah. Saya pribadi baru dengar kalau ada tempat souvenir besar dan murah di sana. Dan benar saja, tempatnya rame banget dan pengunjungnya dari mana-mana.

Setelah dua kali datang ke sana, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil totebag kanvas dengan list batik di bawahnya. Pemesanan ini butuh waktu dua bulan lamanya, jadi jangan dadak kalau kamu ingin pesan souvenir dengan design sendiri. Kalau souvenir tanpa design di sini tersedia banyak dan bisa langsung bawa pulang.


Ketiga, gaun dan jas. “untuk akad bikin aja, ya, biar bisa disimpan buat kenangan nantinya,” begitu keinginan Galih. Oke, akhirnya kita buat jas dan gaun yang pakai drama galau hingga pingin ganti bahan. Tapi hasilnya memuaskan juga.

Kenapa kami buat jas dan gaun? Rencananya kami ingin pakai satu baju saja untuk acara akad sekaligus resepsi. Seperti rencana awal acara resepsi dengan tema nasional dan simple tanpa adanya prosesi adat jawa. Karena berubah rencana, maka gaun dan jas hanya dipakai untuk acara akad. Itu kenapa saat akad saya tidak memakai kebaya seperti biasanya. Anti mainstream juga toh.



Keempat, wedding shoes. Saya pingin wedding shoes seperti yang ada di angan-angan saya. Galih mengiyakan apa yang saya inginkan.  Mulailah cari-cari toko sepatu wedding yang recomended tapi ramah di kantong. Sebab hemat itu harus tetap dijaga, sis.

Akhirnya Galih menemukan sebuah toko sepatu perempuan yang ternyata letaknya dekat dengan rumah. Di @slightshop bisa pilih sepatu dan design sesuai keinginan kita sendiri. Contoh-contoh sepatunya yang ada di toko lucu-lucu. Memang sih sempat ada trouble saat memesan sepatu ini sampai saya agak bete dan kehilangan mood, tapi tetap optimis dan percaya kalau hasilnya bakalan bagus.

Sepertinya karena kesalahpahaman pegawai yang kurang mengerti. Jadi sebelumnya saya sudah ngobrol design yang saya inginkan di store Pondok Kelapa, tapi belum fix memesan. Saat ingin fix memesan, ternyata store Pondok Kelapa saat weekend tutup. Akhirnya harus ke store di Kota Kasablanca. Di sana ada dua pegawai yang saat saya memesan dan membicarakan design keinginan memang agak bingung-bingung iya, tapi ya saya tetap percaya meski agak ragu karena nggak semeyakinkan mbak-mbak yang di store Pondok Kelapa. Dan memang benar, akhirnya ada kesalahpahaman dalam hal design. Tapi setelah melalui revisi dalam waktu yang panjang, hasilnya cukup sesuai juga. Di akhir, saya dikasih diskon sebagai permintaan maaf dari toko.


Kelima, ring box. Katanya nggak mau ribet, tapi tetap maksa tempat cincinnya mau buat sendiri. Calon pengantin labil sih ya. Saya pinginnya tempat cincin yang dibuat sendiri dari hasil tangan sendiri. Katanya, biar kelihatan beda dari yang lain dan lebih puassss dilihatnya. Alhasil, jadilah hasil kreasi alakadarnya dengan perlengkapan ala-ala kadarnya juga.

1. Wadah kayu segienam. Mulanya saat saya mengutarakan ingin buat tempat cincin sendiri, Galih langsung menyuruh tukang di proyek untuk buat kotak kayu dan sudah jadi. Lalu, waktu pulang ke Magelang lihat wadah yang udah disiapin ibu dan niatnya mau dijadiin wadah hantaran tapi nggak jadi dipakai karena kekecilan, akhirnya diambil satu. Lebih eksklusif ada nama dan tanggal. Unik pula bentuknya.

2. Rumput sintetis. Yang ini bisa dapat cuma-cuma, di bawain sama Galih dari proyek. Untuk memotong dan membentuk si rumput sintetis itu ternyata berat, Dilan. Milea butuh tenaga dalam pakai gunting super tajam.

3. Bunga dan dedaunan sintetis. Hasil rampasan waktu bridal shower yang disiapin teman-teman kemarin. Antara ngirit atau malas cari, waktu lihat yang lucu-lucu dan bisa langsung rampas, buru-buru deh dikantongin.

4. Wadah cincin. Yang ini juga hasil rampasan dari toko hantaran di Cikini Gold Center waktu lagi beli perintilan untuk hantaran. Dikasih cuma-cuma sama abangnya setelah dirayu-rayu karena beli banyak. Kemudian dibungkuslah sama pakai bahan cokelat yang nggak tau apa namanya. Cuma lucu aja kalau diaplikasikan. Untuk bahannya beli di intermedia.

5. Busa kapas. Nggak tau namanya apa, cuma bentuknya kayak gitu. Untuk pengganjal di bawah rumput biar kelihatan tinggi. Belinya di intermedia juga.

Dan, jadilah hasil kreasi suka-suka ini. Niat hati pinginnya pakai bunga-bunga dan dedaunan asli, tapi mikir harus fresh dan kapan beli plus hias-hiasnya. Dan puas dengan hasilnya. Yaiyalah, dia yang bikin sendiri.



Keenam, kain dan perintilan untuk bridesmaid dan groomsman. Untuk groomsman ini yang paling praktis dan gampang banget kami dapat perintilannya. Lain halnya untuk bridesmaid. Saya yang tidak paham dan tidak tahu soal jenis-jenis bahan yang bagus dan pas ini merasa frustasi saat cari bahan untuk para bridesmaid ini. Hingga akhirnya memutuskan untuk cari bahan di Jogja bareng ibu biar bisa dipilihin dan dikasih saran.

Ketujuh, boneka. Kami merencanakan adanya doorprize sebuah boneka ukuran besar bagi yang mendapat hand bouque saat pelemparan. Tidak hanya itu, kami juga mempersiapkan 20 pcs boneka berukuran kecil yang siap dilemparkan ke para tamu. Jadi, agar acaranya tidak membosankan, kami disarankan oleh WO membuat selingan dengan hal-hal lucu ini.



Kedelapan, sulap.  Ini bagian yang dipersiapkan oleh Galih sendiri yang bekerjasama dengan tim WO tanpa sepengetahuan dari saya. Galih menyiapkan kejutan untuk saya saat acara. Saya sempat kaget saat di tengah acara MC menyebutkan kalau mempelai pria mau sulap untuk mempelai perempuan. Moment ini cukup bikin heboh dan membuat para tamu maju mendekati panggung. Saya yang spechless cuma bisa nyengir geli.

Itu beberapa bagian yang kami persiapkan sendiri di luar dari persiapan besar yang kami serahkan ke pihak WO. “Sebaik-baiknya kita mempersiapkan acara, tetap tidak akan pernah ada yang sempurna,” begitu pesan dari pihak WO.

Dan semua berjalan lancar. Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan banyak membantu. Saya dan Galih memohon maaf jika ada kekurangan atau pun kesalahan baik yang disengaja atau pun tidak disengaja.



Di sini saya menyadari, saat kita hidup dengan tulus dan ikhlas menerima segala yang digariskan Tuhan, lebih peka menerima jawaban Tuhan atas semua doa-doa, segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan. Cobalah untuk tidak lagi menyakiti diri sendiri dengan memaksa apa-apa yang memang bukan ditakdirkan untukmu. Berharap apa-apa yang memang tidak baik untukmu. Memperjuangkan apa-apa yang nyatanya telah lebih dulu melepasmu.

Tuhan selalu memiliki cara dalam menjawab doa-doa. Selalu memiliki kejutan indah yang tak pernah bisa kita tebak. Sebab hanya Tuhan yang paling tahu apa-apa yang memang milik kita dan terbaik untuk kita.

Bersyukur adalah cara menikmati hidup paling indah. Jangan pernah memaksa jika nyatanya hal itu justru akan menyakiti dirimu sendiri.









Organized : Kalandra Wedding Organizer
Photo : Gading Pro Photography
Venue : GOR Senam DKI
MUA : Viola Sanggar Rias

 

Read More

Lovely Bridal Shower



Mereka itu keluarga, meski tak sedarah. Teman, sahabat, kakak dan bisa menjadi apa saja. Salah satu anugerah yang Tuhan kirimkan dan harus saya jaga dengan baik. Mereka yang tak bisa terdefinisikan oleh aksara terindah sekalipun.

Minggu, di pertengahan April yang sendu. Langit kala itu sedang teduh-teduhnya. Awan bergumul memayungi bumi yang terhindar dari terik. Siang itu, saya sudah ada rencana dengan Galih untuk menyelesaikan hal-hal yang belum tuntas terkait persiapan pernikahan. Hari ini harus selesai, sebab minggu depan (minggu terakhir sebelum hari H) kami disarankan oleh WO untuk tidak bertemu sampai pada hari H acara.

“Datang jam berapa?”

“Belum tahu.”

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Siang berganti sore. Teduh berganti hujan, tapi Galih belum juga muncul di rumah. Sempat kesal dan terjadi perdebatan di whatsapp.

“Udah sore. Nggak usah ke sini. Percuma!” saya kesal. Serpong – Jakarta membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 – 3 jam. Belum lagi kalau pulang harus kejar krl dari rumah jam 9 malam.

Sekitar pukul 17.00, di saat saya sudah kesal akibat rencana yang gagal, tiba-tiba Galih telpon. "Siap-siap ya. Aku udah mau sampai. Dandan yang cantik. Pakai baju putih.”

“Apaan sih? Udah sore gini. Hujan pula. Ngapain coba?”

“Udah nggak usah ngambek-ngambek. Buruan ya dandan pakai baju putih.”


Seharian bikin kesal karena super php dan bikin orang sakit nunggu dari pagi sampai sore. Wacana yang gagal total, padahal sudah nggak punya banyak waktu lagi untuk selesaiin semuanya. Tiba-tiba datang di sore yang hujan. Meski sudah diwarning nggak boleh pulang malam karena imun sudah melemah dan kesehatan mulai drop. Tanpa rasa bersalah malah menyuruh dandan dan ganti baju. Yang disuruh anaknya nurutan banget lagi kalau yang namanya diajak jalan-jalan.

Saya nggak berfikir macam-macam. Hanya berfikir, mungkin Galih ada acara dadakan sore ini. Selang beberapa menit dia datang, dan langsung bawa saya pergi.

“Kita mau kemana?”

“Udah ikut aja. Senang deh pokoknya.”

Saat Galih akhirnya nyeplos lokasi yang kita tuju, radar saya mulai paham. Meski dia bilang cuma berdua buat dinner. Saya mulai tahu kenapa saya dibawa ke tempat ini. Ditambah lagi Galih yang paling ahli gagalin surprise ini kebingungan mencari tempat pasti di mana segerombolan rusuh itu berdiam.



           BRIDE


               TO


              BE



Nggak tahu gimana ceritanya, yang jelas lagi sakit-sakit dibawa pergi.  Setelah saling berkonspirasi sebelumnya sampai telpon emakku diam-diam demi ijin anaknya bisa diculik keluar. Karena tempat sudah direservasi beberapa bulan lalu katanya, (lebay sih). Dipermalukan yang padahal memang sudah nggak punya malu. Kurela dijadiin badut dadakan selama mereka bahagia.

“Kamu kan belum kesampaian pingin banget ke sini, Fet, makanya kita booking deh.”

“Kita udah telpon emakmu biar dapat ijin nyulik kamu malem-malem.”

“Gue udah diwarning WO kalian padahal buat nggak bawa calon pengantinnya main mulu.”

Begitulah ceriwisnya mereka. So, 90% mereka berhasil bikin surprise untuk saya yang saat itu sedang kurang enak badan.  10%nya lagi sudah terbaca waktu Galih kasih tahu lokasi yang mau dituju sewaktu di jalan. Si Bear mah suka gitu, ngebocorin rahasia yang sedikit lagi sudah mau berhasil. Dan Galih berhasil ngerjain saya membuat sebal, kesal, dan super menunggu seharian.





Anyway, thank you. For everything. Not only to surprise that night, but for all that we have been through together for this. lopelopelopeyouall.



Read More

Senin, 10 Desember 2018

The Story of Our Prewedding


"Sesungguhnya sebanyak-banyaknya foto prewedding ialah demi kepuasan si perempuan."

Untung Galihnya sabar. Sabar banget. Ketika saya sudah lelah atas segala sabar yang tampak disia-siakan bertahun-tahun lalu, Galih datang menuntun dengan sabar. Mengingatkan kembali arti sabar. Memberikan lagi asupan sabar.

Setelah melalui tahap perkenalan dan  lamaran, kami mulai membicarakan soal foto prewedding. Kepingin aja gitu punya kisah yang nantinya bisa jadi cerita ke anak cucu melalui foto prewedding. Terlalu jauh sih mikirnya. 😆

"Aku kepingin prewed, yang bagus!"

"Mau di mana?"

"Nggak tahu. Bingung. Indonesia semuanya bagus."

"Sumba apa?" 

Yakinlah, tawaran itu pada akhirnya hanya sekadar tawaran. Memang benar, dalam mempersiapkan pernikahan segalanya harus diperhitungkan dengan matang, terlebih soal dana. Meski yang katanya, "kata teman di sana nggak usah mikirin soal biaya fotografernya, tinggal datang aja," ya tetap saja kan biaya pp Jakarta-Sumba untuk dua orang itu sudah berapa juta sendiri? Belum jajan dan kawan-kawannya. Sebab untuk sesi foto prewedding ini si perempuan pasti nggak mau pusing-pusing untuk urus perjalanan ala backpacker

Alhasil, tertariklah dengan hasil karya dari @yourwish_picture yang mana itu ya teman sendiri. Lebih enak toh, pakai teman sendiri juga, lokasinya lebih ramah biaya, sekalian pulang lagi. Paket lengkap.

Jadi, si calon pengantin akhirnya memutuskan untuk melakukan sesi foto prewedding di seputaran Magelang dan Jogja. Meski banyak pertanyaan datang yang isinya "Kirain udah trauma sama Jogja?", bagaimanapun saya tetap cinta Kota Jogja.

Untuk tema, semuanya diserahkan kepada si sang perempuan yang banyak banget maunya. Sementara si pria iya-iya saja dan manut. Meski beberapa ide juga tertuang bersama.

Malam sebelum hari foto prewedding, terbersit foto ala-ala di pasar malam. Langit gelap mulai menjatuhkan rintik demi rintik air yang menimbulkan keresahan dan batin kegagalan rencana malam itu. Tapi mobil tetap dilaju menuju pasar malam. Dan benar saja, sesampainya di sana rintik hujan berhenti.

Memang dasarnya pasar malam yang kalau hujan selalu identik dengan becek dan genangan di sana-sini. Ditambah kepadatannya yang sangat amat tidak efektif untuk melakukan kegiatan foto. Akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobil dan menyerah, namun si fotografer menyarankan pindah lokasi ke sebuah kafe. Jadilah foto malam itu dengan tema santai di sebuah kafe. Kaos couple yang digunakan malam itu sudah dipersiapkan oleh sang pria tanpa sepengetahuan si perempuan sebenarnya.


Location Bond Cafe
Tshirt @kaosbigmag















Keesokannya, hawa dingin Kota Magelang memang membuat hasrat ingin terus bergumul di dalam selimut sangat kuat. Sedang MUA yang dipesan sudah siap menunggu di depan pintu rumah. Malamnya memang sempat bertemu dan bertanya perihal jam berapa saya harus sudah siap dimake up. Jawaban dari MUAnya memang agak sedikit bikin kecewa karena harus bangun subuh yang awalnya nggak disangka harus siap sepagi itu. Udah kayak mau nikah aja.

Jam 06.00 akhirnya sang perempuan mulai didandani dengan mata yang masih setengah mengantuk. Ternyata bukan hanya make up untuk acara nikahan saja yang membutuhkan waktu lama, make up untuk prewedding juga memakan waktu yang cukup lama.

Saya pribadi puas banget dengan hasil make up dari mbak Novi. Hasilnya flawless rapi dan halus. Belum lagi kesabarannya menemani kami seharian penuh dari pagi hingga hampir di hari. Kalau saja mbak Novi di Jakarta, mungkin di acara pernikahan saya akan pakai mbak Novi sebagai MUA.

Tema pertama, tetap mengusung adat jawa. Berpakaian kebaya dan beskap yang dipadu dengan kain couple. Kostum yang dipakai ini koleksi pribadi, tanpa sewa kecuali alas kaki. Untuk tema ini kita pilih lokasi di Balkondes Bumiharjo, Magelang. Apasih Balkondes? Buat kamu yang nggak tahu apa itu Balkondes, googling deh. Lagi hits loh di Magelang dan jadi destinasi wisata alternatif di sana.

Sesi foto untuk tema pertama ini yang paling total dan maksimal. Sesi pertama yang belum capek tanpa merasa dikejar waktu dan juga cuaca yang cerah membuat hasilnya juga oke dan memuaskan.





Tema kedua, sebenarnya ingin melakukan sesi foto di candi. Tetap dengan nuansa jawa dengan latar candi, tetapi menggunakan busana formal nuansa putih. Dan hal itu tidak terjadi karena nggak diperbolehkan foto di candi meski ijin dari pihak candi telah kami kantongi. Kenapa? Ya tahulah ya beberapa mitos tentang candi. Dan sekadar info, untuk melakukan sesi foto di candi itu memang butuh ijin dari pihak pengurus / penanggung jaawab dari tempat itu sendiri, tapi beberapa candi tidak mempersulit dalam pemberian ijin loh. Meski memang jangan dadakan yaa.

Akhirnya tema kedua beralih ke Gumuk Pasir Parangkusumo di Jogja. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga jam ini hampir membuat lelah. Cuaca yang naik turun pun hampir menurunkan mood yang harusnya tetap terjaga dengan baik.





Tersebab kebanyakan mau yang harus diselesaikan dalam sehari, akhirnyalah beberapa tema nggak maksimal dan nggak sesuai angan-angan. Cuaca saat itu juga agak menghambat proses memang.

Pindah ke pantai parangtritis untuk mendapatkan sunset, tetapi langit sedang tidak berpihak. Gumpalan awan mendung menutupi matahari dan angin juga berembus dengan bringas tak bersahabat.
         
         
            





Langit sudah hampir gelap, tapi masih ada satu tema yang diinginkan. Mobil dilaju menuju landasan pacu Pantai Depok. Seketika langit berubah menjadi keemasan. Awan menyibak langit, menampakkan kemilau senja yang ditunggu sedari tadi.

Tiba di pintu masuk, kawasan sudah ditutup untuk umum. Kami bernegosiasi dengan penjaga hingga akhirnya diijinkan masuk dan diberi waktu hanya sekitar setengah jam. Senja memang tak layak diburu dan dikejar. Ia sebaik-baiknya dinikmati selayaknya dan sewajarnya. Cukup dikagumi, sebagai pelepas penat atau pelega dahaga yang rapuh. Tidak untuk dimiliki layaknya Sukab yang mencurinya.

Bergegas ganti kostum sebelum keemasan langit berganti gelap, hanya tersisa beberapa detik dan akhirnya dapat. Meski siluet, ternyata hasilnya cukup memuaskan. Berlanjut akhirnya foto di tengah kegelapan yang semestinya tidak ada di daftar tema. Tema yang terakhir ini diambil dengan perjuangan keras dan paling ribet. Mulai dari lighting dan embusan angin pantai yang agak menyulitkan. Semua team ikut turun tangan. Dan hasilnya, puas banget!




The Happy Team


Thank you Yourwish Picture
and the great team
yang telah sabar dan maksimal dalam mewujudkan keinginan kami dengan hasil yang menyenangkan dan memuaskan

MUA by @novibundar





Read More

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena