Feti Habsari

Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 11 Juli 2017

Pendakian Gunung Semeru; Menuju Puncak Tertinggi Pulau Jawa


Ranu Kumbolo

Terkadang perjalanan hanyalah sebuah upaya menemukan diri sendiri yang sebenar-benarnya diri sendiri. Sampai di titik mana kita mampu mengendalikan diri, menekan ego, dan merangkul satu sama lain.

Berlokasi di Jawa Timur, gunung yang merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Kerinci dan Rinjani ini memiliki puncak dengan ketinggian 3.676 mdpl yang disebut dengan puncak Mahameru. Puncaknya para dewa. 

Kawah di puncaknya disebut Jonggring Saloko yang menyemburkan gas beracun. Gunung yang merupakan tertinggi di Pulau Jawa ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gunung Tengger antara lain; Gunung Bromo (2.392m), Gunung Batok (2.470m), Gunung Kursi (2,581m), Gunung Watangan (2.662m), dan Gunung Widodaren (2.650m).

Normalnya, diperlukan waktu empat hari tiga malam untuk mendaki gunung ini hingga puncak dan kembali lagi ke basecamp Ranupani. Namun kami melakukan pendakian selama tiga hari dua malam pulang-pergi menuju puncak. Dengan waktu seperti tersebut, tenaga memang agak sedikit diforsir.

Untuk tiba di gerbang pendakian, dari Kota Malang kita bisa naik angkutan umum hingga Desa Tumpang. Kami menyewa satu angkutan umum dengan biaya Rp 120.000 sekali jalan. Dari Tumpang, kami kembali menggunakan jeep atau mobil pickup untuk bisa tiba di pos Ranupani. Satu jeep bermuatan maksimal 12 orang berkisar mulai dari Rp 1.300.000 untuk pulang pergi. Ranupani merupakan desa terakhir di kaki Gunung Semeru. Setibanya di Ranupani, kita harus melakukan pendaftaran simaksi dan briefing sebelum melakukan pendakian.

Menurut itinerary awal yang sudah dibuat, saya dan rombongan yang terdiri dari 11 orang (4 perempuan, 7 laki-laki) akan melakukan pendakian sekitar pukul 13.00. Namun karena satu dan lain hal semua jadwal molor hingga sore. Sekitar pukul 14.30 kami baru meluncur dari Pasar Tumpang menggunakan jeep sewaan. 



Setibanya di Ranupani sekitar pukul 16.00, kondisi masih ramai oleh para pendaki. Ternyata banyak yang tidak mendapat kuota untuk melakukan pendakian hari itu. Berhubung sebelumnya kami telah mendaftar simaksi online, maka kami mendapatkan kuota pendakian pada hari itu juga. Saat musim liburan, disarankan melakukan simaksi online untuk pendakian Gunung Semeru agar jadwal pendakianmu tidak molor dan terpaksa harus bermalam di Ranupani. Sebab saat ini sufah diterapkan sistem yang sangat ketat di Taman Nasional ini.

Setelah melakukan pendaftaran ulang dan simaksi, kami mendapatkan briefing singkat dari Saver (Sahabat Volunteer Semeru) sebelum melakukan pendakian. Kami memulai pendakian sekitar pukul 17.00. Terlalu sore memang. Tetapi kami tetap melakukan pendakian pada sore itu juga. Berhubung hari sudah sore, maka kami memutuskan untuk  membagi kelompok menjadi dua. Dua orang yang dirasa kuat melakukan pendakian cepat agar bisa tiba di Ranu Kumbolo lebih awal dan segera mendirikan tenda untuk kami semua.




Dari gerbang pendakian menuju pos satu memakan waktu satu setengah jam bagi kami, kelompok kedua. Kondisi yang sudah sore menjelang malam memberikan pressure tersendiri bagi kondisi tubuh dan mental. Belum lagi saat pergi berkelompok, kita juga harus memperhatikan kondisi teman seperjalanan. Hari semakin malam, diusahakan untuk tidak berpencar oleh rombongan yang lain.

Menuju pos dua waktu yang kami butuhkan sekitar setengah jam. Dari pos satu menuju pos dua jaraknya agak dekat sehingga bisa ditempuh dalam waktu yang cukup singkat. Menuju pos tiga kita akan melewati kawasan Watu Rejeng. Di sini terdapat batuan terjal dengan view indah ke arah lembah dan bukit. Berhubung perjalanan kami telah malam, kami ditemani oleh taburan bintang yang sangat cantik.

Sekitar pukul 20.30 kami masih berjalan di kawasan Watu Rejeng dan menemui hal yang menambah beban mental tersendiri bagi saya pribadi. Di tengah jalan saya mendengar suara yang tidak biasa. Saya berjalan pada urutan ketiga malam itu, dan akhirnya saya bertanya pada kedua teman yang berjalan di depan saya. Orang paling depan akhirnya berhenti, memtikan lampu senter dan menyuruh kami semua untuk berhenti dan hening sampai akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kembali. Semakin lama terdengar lantunan ayat-ayat al-quran dan teriakan. Di situlah kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang salah satunya tengah mengalami kerasukan makhluk halus.

Rombongan kami berhenti dan memberi kontak perugas basecamp yang bisa dihubungi. Sebagian di antara kami sibuk membaca doa dalam hati. Tekanan mental kembali besar bagi saya jika sudah menemui hal seperti itu di tengah hutan di malam hari pula. Saya dan teman perempuan lainnya diperingatkan untuk tidak cemas dan takut oleh teman rombongan kami, sebab hal tersebut justru akan mengundang hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya kami dipersilahkan lewat oleh rombongan yang tengah terkena musibah tersebut meski salah satu temannya belum kunjung sadar dari kerasukan. Kami hanya diperingatkan untuk berjalan dengan tidak melihat ke arah korban yang tengah mengalami kerasukan. Di sepanjang jalan kawasan Watu Rejeng saya memang mencium aroma amis darah saat wanita sedang haid. Di situ saya berpikiran apakah saya haid, sebab memang bertepatan dengan jadwal yang seharusnya. Pikiran saya tersebut semakin menambah kekhawatiran saya. Sepanjang perjalanan yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan dzikir di dalam hati.

Sebelum tiba di pos tiga kami melewati dua jembatan. Menurut informasi dari Saver yang memberikan kami briefing singkat di Ranupani, setelah melalui jembatan diharap waspada oleh kehadiran macan tutul yang masih berhabitat di gunung ini. Disarankan untuk tidak berjalan sendirian di waktu gelap. Selain hal mistis, satu lagi yang saya khawatirkan dari pendakian malam adalah serangan dari makhluk buas. Kami tetap berjalan santai sembari terus waspada dan berdoa. Hingga akhirnya tiba di pos tiga dan berpapasan dengan beberapa pendaki lainnya.

Perjalanan kami yang lambat dan banyak berhenti hingga akhirnya tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul 23.30 dengan kondisi yang sudah semakin menurun ditambah cuaca yang dingin. Di perkemahan satu kami tidak menemukan teman kami yang telah lebih dulu tiba dan mendirikan tenda. Setelah berkontak melalui HT, ternyata mereka mendirikan tenda tepat di depan danau yang masih harus melalui jarak tempuh yang lumayan naik dan turun. Akhirnya kami tiba sekitar pukul 00.30. Terbilang sangat lama memang perjalanan kami malam itu untuk tiba di Ranu Kumbolo.

Semuanya sudah lelah. Masuk ke tenda dan tidur. Sedang saya dan beberapa teman lainnya justru belum merasakan kantuk. Hawa dingin pun rasanya telah lenyap dari tubuh saya. Kami yang masih di luar tenda membuat minuman hangat dan makanan untuk mengisi perut. Sekitar pukul 02.00 dini hari barulah saya masuk ke dalam tenda untuk tidur. Beruntung cuaca Ranu Kumbolo malam itu sangat bersahabat. Tidak mencapai minus.

Sebelumnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian dan turun kembali ke Ranupani jika memang saya tengah haid, sebab disarankan oleh Saver di Ranupani pun saat tengah haid lebih baik tidak mendaki menuju puncak para dewa. Namun setibanya di Ranu Kumbolo ternyata saya tidak haid. Maka esoknya saya melanjutkan pendakian menuju Kalimati bersama rombongan. Saya tidak ingin memikirkan lebih lanjut aroma amis apa yang saya cium selama jalur Watu Rejeng semalam.


Adek lelah, mazz

Ranu Kumbolo merupakan kawasan seluas 14 hektar dengan danau yang cantik dan pemandangan yang memukau. Berada di ketinggian 2.400 mdpl, tempat ini dijadikan camping ground pertama saat melakukan pendaakian Gunung Semeru. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan fenomena sunrise yang muncul dari balik danau. Sayangnya pagi itu sunrise tidak hadir dengan cantik.



Setelah berfoto dan sarapan, kami melanjutkan pendakian sekitar pukul 09.00. Trek pertama yang harus dilalui adalah tanjakan terjal menuju bukit cinta. Mitosnya, saat kita berhasil mendaki bukit cinta hingga puncak tanpa menoleh ke belakang, kisah cintamu akan berakhir dengan bahagia, dan sebaliknya. Percaya tidak percaya, sebagian orang memiliki pandangannya masing-masing. Terlepas dari segala mitos tersebut, saya tidak ambil pusing dengan perkara mendaki kemudian menoleh ke belakang. Yang saya tahu dan yakini, saat berdiri di puncak bukit ini, mata kita akan dihamparkan dua keindahan yang pastinya tidak akan pernah bisa ditolak yang terpisah oleh bukit ini. Ranu kumbolo dan juga Oro-oro Ombo.

Bagian Dapur

Sarapan

Tanjakan Cinta


Setelah melalui bukit cinta, trek akan menurun menuju padang rumput yang sangat luas dengan bentangan bukit-bukit yang bernama Oro-oro ombo. Di sini merupakan spot foto yang juga indah. Berselimut rerumputan dan ilalang berwarna ungu yang menyebabkan seringnya disebut Lavender, namun ternyata bukan.

Bernama Verbena Brasiliensis ini merupakan tumbuhan semak tahunan berumur pendek. Tanaman ini boleh dipetik, namun jangan dibuang di sembarang tempat sebab bisa tumbuh dengan sendirinya dan menjadi hama. Meski tampak indah, kehadiran Verbena Brasiliensis justru mencemaskan. Tanaman asing ini bersifat invasif, bisa terus mendominasi dan menguasai habitat sehingga menggusur spesies tanaman asli Gunung Semeru.

Selfie dulu buat riyakk


@kaosbigmag

Seusai melalui bentangan kawasan Oro-oro Ombo, kami mencapai Pos Cemoro Kandang yang cukup rindang dan nyaman digunakan untuk melepas penat. Setelahnya trek akan sedikit mendaki dan cepat membuat lelah. Memasuki hutan di mana akan dijumpai beberapa burung hingga akhirnya tiba di Pos Jambangan.




Di Pos Jambangan ini Puncak semeru sudah terlihat menanti. Diperlukan waktu yang tidak rerlalu lama dari Pos Jambangan menuju Kalimati. Kalimati merupakan camping ground kedua dan terakhir sebelum melakukan pendakian ke puncak Mahameru. Berlokasi di ketinggian 2.700, di sini terdapar sumber mata air yang disebut Sumber Mani yang jaraknya cukup lumayan untuk ditempuh, sekitar satu jam pulang-pergi.

Di Kalimati, setelah mendirikan tenda kami bisa sedikit bersantai dan beristirahat sebelum melakukan pendakian pada dini hari. Sekitar pukul 20.00 kami masak makan malam untuk energi pendakian yang akan dilakukan pada pukul 23.00. Untuk mencapai Puncak Mahameru diperlukan sekitar 5 jam pendakian dari Kalimati. Saya memutuskan untuk tidak ikut summit bersama dua teman perempuan lainnya. Keduanya sudah tidur lebih dulu dan tidak mau bangun untuk ikut makan, sementara cuaca di Kalimati malam itu cukup dingin dan menusuk tulang. Sebaiknya perut harus terisi di cuaca yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana nantinya. 

Alasan saya tidak ikut pendakian menuju puncak Mahameru adalah tenaga yang tidak ingin terlalu diforsir sebab esoknya kami akan langsung turun hingga ranupani tanpa berkemah lagi. Di lain sisi juga masih ragu terhadap batuan yang bisa tiba-tiba mengancam nyawa saat di jalur pendakian. 

Setelah yang lainnya bersiap untuk melakukan summit dan segala perlengkapan pun sudah dimasukkan ke dalam tenda agar aman, saya memutuskan untuk masuk ke tenda dan tidur. Setelah merasa hangat, saya justru tidak bisa tidur karena suara-suara yang terdengar di dekat tenda kami. Akhirnya sepanjang dini hari saya benar-benar tidak bisa tidur dan mengalami menggigil yang tak kunjung berhenti.

Sekitar pukul 05.00 ada panggilan dari luar tenda. Beberapa rombongan kami yang summit turun kembali membawa satu orang teman kami yang kondisinya menurun. Dan akhirnya hanya ada dua orang yang berhasil mencapai puncak tertinggi di Pulau Jawa ini.

Puncak sudah dekat



Cuaca malam itu cukup dingin dengan hempasan angin yang cukup kencang membuat kondisi tubuh menurun di saat tidak melakukan aktifitas terlalu lama. Sedangkan untuk naik ke puncak pun harus menunggu giliran sebab jalurnya yang kecil dan cukup berbahaya. Untuk melakukan pendakian ke puncak, setiap pendaki harus sabar dan waspada, karena batuan dari atas bisa tiba-tiba jatuh dan mengenai para pendaki. Disebutkan bahwa kematian di Gunung Semeru 60%nya adalah kecelakaan tertimpa batu di jalur pendakian puncak Semeru.

Belum lagi yang banyak dibicarakan, saat melalui pos Arcopodo, pikiran kita seolah dimainkan dan menjadi hilang. Ada pressure yang tinggi lagi di titik ini. Entah sugesti terhadap mitos atau apa pun itu, namun menuju puncak para dewa kita memang harus memiliki niat yang baik dan tidak boleh sembarangan. Lagi-lagi, kita harus bisa menekan ego sendiri. Bukan lagi soal puncak yang harus ditaklukkan, tetapi justru diri sendiri yang harus ditaklukkan.

Pendakian menuju puncak harus dilakukan pagi-pagi sekali karena saat siang hari angin cenderung ke arah utara menuju puncak dan membawa gas beracun dari Kawah.

Paginya, saat keluar tenda, embun-embun yang menghiasi rerumputan di Kalimati telah ditemukan menjadi kristal-kristal es. Maka bisa dipastikan suhu semalam mencapai minus. Kami memasak untuk sarapan sembari menunggu teman kembali dari puncak.

Embun es di Kalimati

Edelweis dan Mahameru
Via Kalimati

Camping ground Kalimati

Laper


Sarapan

Barulah sekitar pukul 11.30 kami melakukan pendakian turun. Target saya sendiri ingin tiba di Ranupani sebelum maghrib, sebab siang itu juga barulah saya benar-benar haid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka saya ingin mencapai Ranupani sebelum gelap.

Di tengah jalur pendakian selepas dari Ranu Kumbolo akhirnya bertemu Irvan dan Kak Ray. Irvan yang pada mulanya merencanakan pendakian bersama saya, tetapi malah berangkat bersama Kak Ray. Mulanya saya memang ingin melakukan pendakian sendiri dan hanya ditemani Irvan yang sudah khatam naik turun Semeru. Namun menjelang keberangkatan banyak teman yang akhirnya ikut. Dan kebetulan juga Kak Ray minta ditemani. Mereka berdua sempat tertahan satu malam di Ranupani yang akhirnya membuat mereka molor satu hari pendakian.

Irvan, Kak Ray

Saya dan beberapa teman memang berjalan ngebut. Hingga tiba di pos satu tepat saat maghrib. Akhirnya salah satu teman membuat target dari pos satu menuju Ranupani cukup setengah jam. Saya pesimis, sebab jaraknya yang lumayan jauh. Akhirnya kami berjalan ngebut tanpa istirahat yang terbilang cukup tidak manusiawi namun bisa tiba di Ranupani sekitar pukul 18.30.

Ada tiga orang teman yang tertinggal di belakang dan belum tiba. Mulanya teman kami akan menyusul mereka untuk membawakan barang-barang, namun kondisi tubuh yang sudah turun menyebabkan kami untuk menunggu mereka saja. Mereka baru tiba sekitar pukul 20.00 lewat. Dan katanya, mereka dibuat muter-muter dari pos satu. Entah mistis kembali bermain atau sekadar sugesti lelah.

Saat perjalanan kembali menuju Pasar Tumpang dan mengobrol sedikit dengan sopir jeep, kawasan Watu Rejeng dan jalur pos satu terkenal dengan mistisnya yang masih sangat kental. Memang ada beberapa titik lagi yang memiliki daya magis. Mereka menyarankan jika sudah seperti itu, berhenti sejenak dan tenangkan pikiran, nyalakan rokok, lalu tinggalkan.

Saat perjalanan turun menuju Ranupani, kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang baru saja ingin naik dan melakukan pendakian. Terpikir oleh saya akan sampai di Ranu Kumbolo jam berapakah mereka. Sebab saya pribadi memang tidak menyukai pendakian malam hari. Yang menarik di jalur pendakian Semeru saat siang hari, pendaki akan menemui warga setempat yang menjual potongan semangka segar, gorengan dan juga air mineral di setiap posnya. Potongan semangka dan gorengan dijual dengan harga Rp 2.500 perpotong.

Kami tiba di Pasar Tumpang sudah larut malam dan bermalam di rumah pemilik jeep sebelum keesokannya kembali menuju Kota Malang.

Bukankah dari setiap perjalanan kita akan selalu mendapatkan pengalam baru, pelajaran baru. Perihal hidup dan apa-apa yang sudah semestinya dijalani. Manusia bisa berencana, alam bekerja, Tuhan yang menentukan.

Berjalanlah, maka akan kamu temukan dunia-dunia baru yang sebelumnya tidak pernah ada dalam bayanganmu. Berjalanlah, temukan keluarga-keluarga baru di setiap perjalananmu. Berjalanlah, kuaklah sisi lain yang tersembunyi dari dirimu.





@fetihabsari

Read More

Jumat, 05 Mei 2017

Selamat Ulang Tahun, Ibu



Seharusnya tulisan ini muncul di tanggal 28 Maret 2017, kenapa? Sebab memang di tanggal itulah hari spesial yang seharusnya menjadi waktu publishnya catatan ini. Tetapi manusia memang hanya bisa berencana. Ditambah rasa malas yang cukup lama menyerang dengan beralasan sibuk piknik dan weekend di bulan April yang dipenuhi oleh jadwal bolak-balik ke luar kota. Baiklah, semua itu memang sekadar alasan pendukung rasa malas.

28 Maret, seseorang yang saya cintai dalam hidup saya telah berkurang kembali usianya, tetapi tidak pernah mengurangi rasa cintanya terhadap saya. Ibu. 

Kemarin, di tanggal 28 Maret, saya mengajukan pertanyaan, “ibu mau hadiah apa?”. Beliau selalu menjawab tidak ingin apa-apa. Begitulah. Ibu selalu berujar, “orang tua tidak menginginkan apa-apa dari anaknya, yang penting anak-anaknya bahagia,” dan “yang namanya orang tua itu nggak pernah mau minta, kalau dikasih ya syukur, enggak yaudah,” begitu katanya.

Maka, berhubung tanggal 28 Maret kebetulan jatuh di tanggal merah, saya memutuskan untuk mengajak ibu jalan-jalan di kawasan Kota Tua Jakarta dan naik bus tingkat, tetapi ada beberapa halangan hingga akhirnya batal. Esoknya, saya pulang membawa donat dan lilin, tetapi tidak jadi tiup lilin. Katanya, “nggak usah pakai tiup-tiup lilin”.

Seharusnya weekend itu juga saya mengajak ibu jalan-jalan sebagai ganti tanggal 28, tetapi saya harus melarikan diri ke Madura. Akhirnya, tanggal 9 April baru bisa terealisasi. Menggunakan commuterline, kami berdua kencan ke kawasan Kota Tua. Panas. Jelas. Tidak bertahan lama kami bertahan di kawasan tersebut, kemudian memutuskan untuk untuk mencoba bus tingkat yang butuh penantian panjang. Busnya bagus, karena masih baru. Yang kurang adalah tidak adanya tourguide atau pun speaker yang bisa menjelaskan apa-apa saja yang tengah kami lalui.

Rute bus tingkat yang tidaklah terlalu panjang itu kami akhiri kembali di kawasan Kota Tua. Kami jajan, makan, pulang.




Sepanjang perjalanan hari itu, yang paling saya sadari adalah, sepertinya ibu benar-benar sudah menginginkan merawat cucu dari anaknya sendiri, bukan lagi dari keponakan-keponakannya. Ibu memang selalu berhasil menarik perhatian banyak anak kecil. Nggak paham kenapanya. Di rumah, sering anak-anak kecil betah main saat siang hari menemani ibu yang sedang sendirian. Dan kemarin, di dalam commuterline, ibu selalu dan mudah sekali ditempeli oleh anak-anak kecil. Entah ada magnet apa. Tapi yang pasti, ibu sangat menikmatinya. Dan saya, hanya bisa tersenyum dan menikmati pemandangan tersebut. Hal itu terjadi pada perjalanan pulang maupun pergi menggunakan commuterline.


6 Aprilnya, Kak Dewi mengabarkan ingin ke rumah meminjam action cam untuk perjalanannya ke Pahawang weekend itu. “Masuk ke dalam aja ya nanti, ngobrol-ngobrol dulu tuh sama emak, udah lama kan nggak mampir,” itu perintah saya. Biasalah kita saling memerintah. Tapi tetap sayang kan.

“Aku bawa mobil, kutunggu di depan aja ya, mau ngambil doang terus langsung pergi,” jawabnya dengan enak.

“Oh,” sayanya mulai agak bete sih.

Malamnya, saat rumah kosong dan hanya ada saya sendiri di atas, ternyata pintu bawah diketuk. Lama. Kak Dewi sudah di depan pintu bersama Arya, membawa sekotak kue ulang tahun. “Emak mana, Fet? Tiup lilin yuk!”

Hwaaa, surprise banget. Berasa saya yang diberi surprise. Tidak berapa lama, ibu pulang. Akhirnya, malam itu jadi juga ibu tiup lilin. Kak Dewi ini sukses banget ambil hati ibu. Teman yang sudah selayaknya keluarga ini memang begini kelakuannya. Kakak yang sering nyebelin ini kadang bisa bikin makin sayang juga. Terima kasih kakak angkat yang berbakti banget jadi anak angkatnya emak 😋❤ Saya, sebagai anak kandung jadi merasa gimana gitu ya malah nggak memberi surprise apa-apa. Alamat tergadaikan nih drama hidup anak yang tertukar.



Bagi saya, Ibu adalah sosok yang tak akan pernah terganti dalam hidup saya. Kemarin, di saat saya tengah berada pada titik terendah, merasakan hancur sehancur-hancurnya, Ibu adalah orang yang sebenarnya lebih hancur, namun berusaha tetap tegar agar anaknya tidak semakin rapuh. Ibu, yang selalu lebih dahulu memikirkan segala hal yang saya butuhkan di saat saya belum mulai memikirikan apa yang saya butuhkan. Ibu, sosok yang mau mendekap saya dalam keadaan apa pun dan di mana pun. Ibu, yang selalu mampu menghapus air mata saya tanpa perlu menyekanya secara langsung.

Pernah salah seorang teman berujar di sela-sela makan malam pada sebuah trip ketika saya sedang berusaha menghubungi ibu di tengah sinyal yang datang dan pergi, “dekat banget ya sama ibunya.” Saya bahagia mendengar kalimat tersebut. Saya bersyukur. Sangat bersyukur. Saya memang dekat dengan ibu. Sangat dekat. Segala hal apa pun tentang hidup saya, ibu adalah sosok yang paling tahu meski tanpa diberi tahu. Ibu adalah tujuan awal saat saya membutuhkan teman berdiskusi perihal hidup dan segala pilihannya. Ibu adalah orang pertama yang akan saya mintai pendapatnya saat saya harus memilih sebuah pilihan. Hal itu berlaku pula saat memilih pasangan. Tanpa terkecuali.

Ibu yang selalu merelakan kebahagiaannya untuk saya dan adik saya satu-satunya. Saya selalu ingat ibu. Saat harus meninggalkan rumah seharian bahkan berhari-hari, saya mewajibkan diri untuk selalu menghubungi ibu seminimal-minimalnya sekali dalam sehari. Begitu pun sebaliknya, saat Ibu harus meninggalkan rumah dalam waktu beberapa hari, komunikasi tetap harus terjalin.

Ibu yang selalu setia menanti anaknya saat pulang telat hingga larut malam sekali pun. Ibu yang selalu sabar menjadi pendengar untuk segala keluh kesah anaknya. Ibu yang selalu memberi kebebasan, tetapi juga dengan batasan wajar pada anaknya. Ibu yang selalu menjadi tameng dan berada  di barisan paling depan saat terjadi pertengkaran sang anak dengan ayahnya. Ibu yang menjadi penghubung suara anaknya kepada saang ayah. Ibu, superhero yang luar biasa.

Ibu, akankah aku bisa menjadi sepertimu? Menjadi perempuan luar biasa yang multitasking meski dalam keadaan lelah sekali pun dan tanpa pernah mengeluh. Bisakan aku membesarkan anak-anakku kelak sebaik engkau membesarkanku dan adikku hingga sebesar ini?

Ibu, jangan pernah lelah menghadapi anakmu yang egois dan sering emosi ini. Meski sejauh apa pun kami nantinya dipisahkan oleh jarak, ibu adalah satu-satunya tempat untuk pulang. Menjadi rumah sekaligus surga untuk tempat menetap.

Sehat selalu, Ibu. Panjang umurlah hingga kelak Ibu puas melihat anak-anakmu sukses dan merawat cucu-cucumu yang lucu dengan penuh cinta dan kasih. Ibu, tetaplah berbahagia selalu. Percayalah, kami, anak-anakmu, sangat-sangat mencintaimu dan ingin selaalu melihatmu bahagia. Dekaplah kami selalu dalam doa dan kasih sayangmu.


@fetihabsari

Read More

Kamis, 13 April 2017

Bukit Kapur Arosbaya; Sensasi Antelope Canyon Milik Indonesia ??


Berjalanlah, temukan beragam hal baru hingga pada halaman terakhir.

Bukit Kapur Arosbaya merupakan tambang kapur yang tiba-tiba menjadi ramai dikunjungi para wisatawan. Selain Bukit Jaddih yang lebih dulu populer, ternyata Pulau Madura memiliki bukit kapur yang hits lainnya. Bukit Kapur Arosbaya ini lah tempatnya.

Berlokasi di Desa Berbeluk, Kecamatan Arosbaya, lokasinya yang berdekatan dengan makam Air Mata Ibu membuat tempat ini cukup mudah ditemui, sebab makam Air Mata Ibu sudah cukup populer di Madura. Untuk tiba di Bukit Kapur Arosbaya, kita harus melalui gang kecil dengan jarak sekitar 500 meter dari gerbang masuk Air Mata Ibu.

Saat tiba di lokasi Bukit Kapur Arosbaya kemarin, ada seorang teman asal Bandung yang langsung nyeletuk, "begini doang? Ini sih di Lembang juga ada."

Memang, ekspektasi kami yang terlalu tinggi pada tempat ini cukup sangat membuat kecewa. Keinginan terbesar mengunjungi Bukit Jaddih yang diganti dengan Bukit Kapur Arosbaya menambah kecewa berlipat-lipat sebenarnya. Tetapi berhubung sudah sampai, sebaiknya memang disyukuri saja.



Kami tiba saat hujan turun dengan sangat derasnya. Seketika membuat tempat ini menjadi becek dan tampak banyak genangan di beberapa sudutnya. Selain itu, sampah pun seolah merusak keindahan tempat yang terkesan tidak terawat ini. Tidak tersedianya sarana tempat sampah tampaknya membuat kesadaran menjaga keindahan di tempat ini agak diabaikan oleh beberpa pihak.

Saat memasuki kawasan bukit kapur lebih dalam, kita akan menemui beberapa tangga untuk naik ke atas tebing. Untuk menaikinya dibutuhkan kehati-hatian yang ekstra, sebab tangga hasil pahatan tambang ini sangat curam dan tanpa pegangan serta pengaman.


Perbedaan Bukit Kapur Arosbaya dengan Bukit Kapur Jaddih terletak pada warnanya. Jika di Jaddih kita akan menemui warna putih di mana-mana, di Bukit Kapur Arosbaya ini warna didominasi oleh warna cokelat.

Tempat ini memang cukup eksotis dijadikan spot bagi pecinta fotografi meski harus melalui proses editing di sana-sini. Latar belakang berwarna cokelat dipadu dengan hijaunya ilalang sekitar akan menampakkan keeksotisannya tersendiri. Belum lagi lorong-lorong buatan yang tercipta mengesankan keunikan yang menarik. Jika ada yang mengatakan selayaknya berada di Antelope Canyon Arizona, saya belum merasakan hal tersebut.

Tempat ini sepertinya hanya butuh perhatian dan perawatan yang lebih baik lagi agar tidak terkesan 'tak terawat'.

Tempat ini masih merupakan kawasan tambang kapur aktif, maka kita akan menemui para penambang kapur dan beberapa warga yang tengah memahat dinding kapur dengan peralatan sederhana. Bekas pahatan-pahatan pada dinding kapur inilah yang menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya.




See you, gengs

Read More

Air Terjun Toroan; Eksotisnya Air Terjun di Bibir Pantai Toroan Khas Madura



Air Terjun Toroan telah menjadi destinasi favorit para wisatawan saat singgah di Pulau Madura. Kondisi alam Madura yang dikenal gersang dan luar biasa panas nyatanya tidak membatasi pesona alam yang ditawarkannya. Sebuah air terjun muncul sebagai pelepas dahaga di tengah kepungan pulau-pulau kecil nan cantik.

Berlokasi di Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, Air Terjun Toroan merupakan satu-satunya air terjun yang ada di Kabupaten Sampang. Maka, sudah bisa dipastikan, saat kamu mengunjungi pulau yang super panas ini, jangan saampai melewatkan wisata Air Terjun Toroan.

Keistimewaan yang lain adalah airnya yang jatuh langsung ke lautan lepas. Memiliki ketinggia  20 meter yang bersumber dari Sungai Sumber Payung, letaknya yang menyatu langsung dengan lautan lepas pantai utara memang menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Aliran air mengalir deras dan jatuh langsung menuju muara laut Pantai Toroan.

Tempat ini layak banget dijadikan spot untuk fotografi sebab panoramanya yang memang memikat. Datanglah saat menjelang matahari tenggelam, dijamin kamu akan mendapatkan gradasi pesona yang benar-benar sempurna. Suara deburan ombak dan hempasan air terjun menyatu dengan lautan lepas berpadu bersama langit yang kemerah-merahan.



Namun jika kamu mengunjungi saat di siang hari, bersiaplah untuk menerima sengatan matahari khas pantai Pulau Madura yang sangat terik. Saat air laut surut, wisatawan bisa turun ke bawah air terjun dan merasakan sesasinya berenang di bawah air terjun yang asin. Sedangkan saat laut sedang pasang, wisatawan hanya bisa menyaksikan perpaduan air terjun dan pantai ini dari sisi daratan.

Kemarin, saat mengunjunginya kondisi air laut tengah pasang dan tinggi-tingginya, sehingga hanya bisa merasakan sensasinya dari sisi daratan. Merasakan dinginnya air laut di tengah teriknya matahari siang sebenarnya membuat diri ingin bermain air di bawah guyuran air terjun yang tampaknya sangat segar. Saat siang hari sebenarnya kita tidak akan benar-benar menikmati wisatanya, sebab cuaca yang sangat panas.

Akses menuju ke destinasi wisata ini tidaklah sulit sebab jalannya yang sudah bagus. Saat tiba di parkiran, kamu harus berjalan kaki ke bawah dan menyusuri tepi pantai sebelum tiba di lokasi air terjun.

Di tempat ini bisa ditemukan sedikit ketenangan yang masih menyatu bersama alam. Terlebih saat senja dan pengunjung sedang tidak ramai. Sepertinya bisa kita temui nyanyian alam yang riuh dan ramai. 





@fetihabsari

Read More

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena