Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 07 Agustus 2014

Kamisan #10 SEMADI; Melamun.

"Melamun lagi?" suara pria yang datang dari arah belakangku.
"Hhmmm, nggak juga," kataku.
"Nggak usah bohong sama dirimu sendiri."

Aku menoleh dan mendapatinya sedang tersenyum jahil. Kutinju bahunya pelan untuk kemudian kami tertawa bersama.

"Nggak bosan melamun mulu?" tanyanya lagi.
"Jahil banget kamu, kak."
"Loh bener, kan. Hobi kok melamun. Melamuninnya hal yang itu-itu mulu lagi."
"Hhmmm..." aku hanya menggumam tak menghiraukan lebih lanjut perkataan pria yang notabennya sepupuku itu. Kembali tatapanku melayang kosong.

Kembali pada situasi yang selalu diinginkannya. Kembali pada sesuatu yang belum ingin dilepasnya. Kembali pada apa yang masih lengket melekat di hati. Kamu.
Ia tahu bahwa yang diinginkannya sudah tak lagi bisa digenggam. Ia sadar bahwa yang diharapkannya sudah tak lagi bisa direngkuh. Ia tahu. Ya, ia sadar. Tapi hatinya tak lebih kuat dari tahunya. Ingin yang masih menguasai hatinya ialah ingin yang belum bisa melepas. Belum bisa merela. Belum bisa ikhlas.
Kamu. Masih akan selalu menjadi inginnya. Menjadi harapnya. Dan menjadi hidupnya. Mungkinkah kamu merasa akan hal itu?

Kemudian ada yang mencubit gemas kedua pipiku. "Mulai lagi!! Aku nggak mau lihat adikku yang nyebelin ini jadi perenung gini aahh. Mana adikku yang bawel?"
"Kaaakk,,,"
"Kita semadi aja, yuk."
"Semadi? Di gua? Mistis-mistis gitu? Hiih..."
"Kenapa jadi mistis sih," ucapnya dengan ekspresi yang cemberut. "Aku sering semadi kalau lagi stress."
"Kamu bisa stress juga, kak?" tanyaku jahil.
"Ngece, kamu! Stress lah mikirin pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi."
"Stressan mana sama yang ditinggal demi orang lain?"
"Heyy, orang kayak gitu harusnya sudah kamu lupakan dari dulu!"
"Nggak semudah itu, Kak. Kekuatan hati setiap orang itu berbeda."
"Ya, tapi orang sperti itu nggak pantas buat dipertahanin di hati."
"Kamu orang kesekian yang bilang gitu."
"Nah, kan! Makin kurus kamu kalau lemah mulu sama hati," ucapnya sembari berdiri dan ingin berlalu.
"Mau ke mana?"
"Kamar."
"Untuk?"
"Semadi. Meditasi."
"Apa bedanya semadi sama melamun. Sama saja!"
Ia menjitak pelan kepalaku. "Sok tahu kamu. Selama meditasi, detak jantungmu akan melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stress menurun. Meditasi juga melatih otak untuk menghasilkan lebih banyak gelombang Gamma, yang dihasilkan saat orang merasa bahagia. Kamu butuh itu!"
"Aku nggak stress, kok."
"Nggak sih. Cuman rapuh!" Kemudian ia berlalu setelah memberi penekanan saat mengucapkan kata 'rapuh' sambil menjulurkan lidahnya untuk meledekku.

2 komentar:

kecebonk mengatakan...

Lebih stress mana, yang ditinggal demi orang lain menjelang pernikahan yg sebulan lagi :'(

Tuh kan kamu fet makin kurus dan ((rapuh))

*ditabok bolak balik sama feti*

Feti Habsari mengatakan...

Sakitnya tuh di sini, kak *nunjuk hati*
tanggung jawab kamu, kak!!

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena