Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 12 Februari 2015

Kamisan S3 #2; Merawat Kenangan

Tema Kamisan 2 pic by Fahmi Amrullah


Ada yang pergi tanpa pernah kembali. Ada yang masih diam menanti. Pada riak gelombang bergelung janji, janji yang musnah ditelan takdir.
 ***
Pada sebuah tepi berpasir halus ditancapkannya sebilah bambu, dibentuknya segitiga menyerupai sebuah lahan untuk menjemur pakaian. Bukan, tapi bukan pakaian yang digantungkan di sana. Melainkan sebuah jaring-jaring sederhana berwarna dengan dua ukuran dan memiliki kerangka berwarna biru.
Angin barat yang berembus tak mampu menahan terik yang menghunus kulit. Sering angin-angin itu hanya membuat kulitnya terasa lengket dengan keringat yang perlahan mengering. Di depan, ombak bergelung syahdu. Teratur dan tenang.
Ia terduduk di atas pasir halus tanpa alas untuk sekedar melindungi kain yang dikenakannya sebagai bawahan. Sedang ujung-ujung baju longgarnya yang tertiup-tiup angin turut bermain dengan pasir. Rambut tipis yang mulai berubah warna itu digelungnya keatas membentuk sanggul acak. Dengan mengenakan caping rotan ia berharap dapat sedikit terlindung dari terik mentari tengah hari yang terkadang tak ramah.
Ibu Mia, namanya. Seorang penjual jaring di tepi pantai selatan Gunungkidul, Yogyakarta. Usianya hampir menginjak kepala lima, kulitnya sudah membentuk lipatan-lipatan halus, pandangannya mulai mengecil. Ia dan jaring-jaringnya tak pernah absen dari tempat itu.
Tak pernah ada yang tahu pasti, kenapa Ibu Mia selalu bertahan pada posisi yang sama setiap harinya bersama jaring-jaring yang diberi harga lima ribu rupiah untuk ukuran kecil dan sepuluh ribu rupiah untuk ukuran besar. Hingga suatu ketika ditemukan sebuah catatan yang tertinggal. Catatan yang hampir terkubur di bawah pasir. Catatan kisah perihal Ibu Mia.
Hampir separuh masa hidupnya ia habiskan di tempat ini. Duduk memandang ombak yang bergelung, menikmati terik bersama embusan angin laut, dan menunggu bocah-bocah lucu membeli jaring-jaring yang ia gantungkan pada bilah bambu. Hal-hal tersebutlah yang membuatnya bertahan di sini. Bertahan pada kisah yang cocok diberi tema 'menunggu' ini. Sebuah kenangan. Kenangan yang telah tertanam di pantai ini. Dan segala kehilangan.
Dua puluh lima tahun yang lalu, tempat ini menjadi saksi atas sebuah janji sepasang kekasih. Janji untuk saling melengkapi, membahagiakan satu sama lain, menghabiskan hidup bersama, bermain pasir dan menjaring ikan manis bersama anak-anak mereka kelak, serta menghabiskan masa tua dengan duduk bersama di bibir pantai menghabiskan senja tenggelam.
Namun nyata tak seindah ingin. Hidup tak semudah angan. Segala janji tergerus takdir. Ombak menenggelemkan segala angan. Kisah ini tercipta melalui proses alam yang panjang. Seperti proses terciptanya pantai ini. Pantai cantik dengan segala kenangan yang timbul tenggelam ini dahulu berada di dasar laut. Bedanya adalah, jika pantai ini akhirnya timbul menjadi daratan, sedangkan ia yang mencipta janji tenggelam menjadi kenangan.
Ibu Mia begitu setia pada pantai ini dan juga jaring-jaringnya. Bahagia baginya saat ini hanyalah ketika anak-anak manis menghampirinya dan membeli jaring-jaringnya. Bukan. Bukan personal karena ia mendapatkan uang dari jaringnya yang terjual, tetapi lebih kepada raut ceria wajah-wajah polos itu. Dengan jaring-jaring yang dijual ibu Mia, mereka bisa menangkap beragam ikan hias yang menampakkan diri dari balik karang-karang indah di bibir pantai.
Tawa riang mereka ketika mampu mendapatkan ikan damselfish kuning dengan aksen biru di punggungnya, atau gelak bangga saat menjaring ikan kepe (butterflyfish) bergaris biru tua dan muda, atau memamerkan ikan Bestum, ikan Pogat serta ikan Tiger kepada temannya, hal-hal semacam itulah yang membuat ibu Mia bertahan bersama jaring-jaringnya di sini.
Belum lagi hamparan hijau perbuktian kapur dengan air biru yang menyajikan harmoni serasi bersama ricik gelombang yang memecah karang. Tak ada alasan baginya untuk meninggalkan tempat ini. Tak ada alasan baginya untuk berhenti bertahan di tempat ini. Hanya tempat ini yang membuatnya terasa masih hidup meski dalam bayang-bayang masa lalu.
Ia memandang anak-anak yang berlarian riang dengan jaring-jaringnya sebagai anak-anak pada angan-angannya dahulu. Ia memandang perbukitan hijau sebagai tempatnya menghabiskan senja seperti inginnya dahulu. Ia memandang ombak yang bergelung dari bibir pantai beralas pasir seperti mimpinya dahulu. Segala harapan perihal hidupnya ada di tempat ini.
Ibu Mia masih tetap bertahan. Entah ia yang teramat setia atau ia yang teramat bodoh. Ketika janji-janji telah tergerus takdir, kekasih masa lalunya terseret ombak kenyataan, ia masih bertahan. Ia tahu pasti, hatinya tak pernah berhenti mencintai kekasih masa lalunya. Meski hatinya sendiri pun tak tahu di mana kekasih masa lalunya kini berada. Apakah sudah berada di sisi Tuhan, atau bahkan masih berada di sisi perempuan yang telah menjadi istrinya. Ibu Mia masih tetap bertahan bersama kenangannya. Hingga pada sore ini, tak ada lagi sosoknya yang menunggui jaring-jaring. Hanya ditemukan sebuah buku catatan lusuh terbenam pasir yang hampir tergerus air.
Tak ada kisah pasti perihal menghilangnya kekasih masa lalu ibu Mia. Yang tergambar pasti hanyalah perihal sosok ibu Mia yang tetap bertahan tanpa pernah melepas. Di pantai ini, Ibu Mia merawat segala kenangannya dengan setia. Sebuah pantai di selatan Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai Krakal namanya.



Jakarta,  Februari 2015
@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena