Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 12 Desember 2013

Aku ingin



Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan, dan isyarat yang tak sempat disampaikan.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tanpa sebab dan karena.

"Haii, Arman!!" sapa seorang gadis manis berkulit putih dengan rambut panjang berwarna hitam yang tergerai lurus. Ia memiliki manik mata yang indah. Senyumnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya langsung jatuh hati padanya. "Apa kabar kleponku?" pertanyaannya itu yang selalu menyadarkan dari lamunan kekagumanku padanya. Padahal, sudah setiap hari aku mengaguminya, namun setiap hari pula aku selalu tak sadarkan diri jika melihatnya tepat dihadapanku.
"Oh, kleponmu baik-baik saja. Ini, sepuluh biji sudah kusiapkan khusus untukmu," kataku sembari menyodorkan kantong plastik berwarna putih yang berisi sepuluh biji klepon berwarna hijau lengkap dengan parutan kelapanya.
Gadis itu pun menerima kantong plastik yang kujulurkan untuknya. Ia menukarnya dengan uang lima ribu rupiah. Kemudian ia duduk tepat di sebelahku. Di bawah pohon beringin rindang dan sejuk. Hal itulah yang selalu ia lakukan di taman ini. Dengan anteng ia menatap langit menikmati senja yang mulai matang menguning. Sambil sesekali masukkan klepon-klepon itu ke dalam mulutnya yang imut.
Tak ada kata maupun isyarat lain. Tak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Ia seolah terhipnotis oleh senja yang selalu dikaguminya itu. Sedangkan aku, tak berani berkata. Hanya mampu memandangi senja sambil sesekali meliriknya diam-diam.
Sungguh perpaduan karya Tuhan yang sempurna. Kamu dan senja. Dan juga klepon yang tak pernah ketinggalan menemanimu. Gadis itu, Anila namanya. Nama yang cantik, secantik sang empunya nama.
Anila suka senja. Entah apa yang menjadi alasannya. Ia hanya pernah berkata, 'aku suka senja, hanya sesederhana itu,' katanya, ketika aku memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.
Dan, kalian tahu apa alasan lain ia selalu datang ke sini selain untuk menikmati senja? Yang jelas bukan aku, melainkan adalah klepon daganganku.
Ia sudah hapal, sisi taman mana yang harus didatangi untuk mendapatkan sepuluh biji klepon hijau dengan parutan kelapa yang banyak. Pernah suatu ketika kuberanikan diri lagi untuk bertanya padanya. 'Kenapa suka klepon? Kan banyak kue yang tidak kalah enak selain klepon.'.
'Aku suka klepon, hanya sesederhana itu,’ jawabnya. Lagi-lagi hanya sesederhana itu pun jawaban yang selalu kudapatkan darinya.
Tak penting apa yang menjadi alasannya. Yang terpenting bahwa aku bisa duduk bersamanya, menikmati senja di bawah pohon beringin tua yang menjadi saksi atas apa yang tengah terpendam. Dan, tampaknya aku harus berterimakasih kepada ibu yang telah membuat klepon terenak itu.
Setelah prosesi sakralnya tiap sore itu selesai. Jingga telah menghitam, klepon di dalam plastiknya hanya tersisa beberapa biji, kemudian ia bangkit dan pamit padaku. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Mengikuti langkahnya hingga bayangan indah itu masuk ke sebuah mobil BMW berwarna silver. Kemudian, tatapanku menjadi kosong dan nanar.
Aku telah jatuh cinta padanya. Tak perlu ia tahu. Cukup hati ini saja yang menikmati tiap jengkal bahagia dan luka. Aku ingin mencintainya dengan sederhana. Sesederhana keadaan yang telah membentangkan tembok pemisah antara budak dan ratu.
Dengan kata yang tak mampu diucapkan dan isyarat yang tak sempat disampaikan, aku mencintainya. Mencintai Anila tanpa sebab dan karena. Sesederhana itu pulalah aku mencintainya.



@fetihabsari
Inspiring by 'Aku Ingin' - Sapardi Djoko Damono

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena