Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 11 Juni 2015

Cinta Pertama


Gadis itu masih terpaku di sana, duduk di kursi halte yang basah oleh rintik-rintik hujan, sebab sebelumnya, hujan itu tertiup angin yang berembus. Hujan yang turun tidak terlampau deras. Sebelumnya memang deras. Akan tetapi, kini hujan yang deras itu telah berganti menjadi gerimis kecil-kecil.
Tidak ada orang lain selain gadis itu di sana. Semua orang yang sebelumnya ada di sana sudah menaiki bus masing-masing. Bus gadis itu sendiri sebenarnya sudah lewat berkali-kali. Namun, Gadis itu membiarkannya saja. Ia masih enggan beranjak dari tempatnya.
Ia masih ingin lebih lama duduk ditempatnya. Menikmati tiap bulir air yang jatuh dari langit. Mengenang pertemuan beberapa hari yang lalu. Di tempat ini.
Ada sesak yang masih membekas pada awalnya. Masih segar terngiang dalam ingatannya. Ketika seseorang yang tiba-tiba datang menemuinya. Menemaninya menunggu bus yang tak kunjung datang. Seorang pria berparas manis dengan lesung pipit di pipi kiri yang akan dengan sempurna terbentuk ketika pria itu tersenyum. Senyuman terindah. Seindah cinta pertama. Dan senyuman itu telah satu paket dengan cinta pertamanya. Pria itu adalah cinta pertama Gadis itu.
“Belum pulang?” tanya pria itu.
“Busnya belum datang.”
Kemudian pria itu duduk di sebelah gadis itu. Di bangku yang sedikit basah akibat rembesan air hujan. Pria itu turut larut memandangi bulir air yang jatuh. Gadis itu dan prianya menikmati hujan yang turun malam itu dalam kebisuan. Kebekuan yang butuh dihangatkan.
Lalu ada dering suara dengan volume kecil yang seketika memekakkan suasana hening. Handphone pria itu berdering. Tanpa sengaja gadis itu melirik layar handphone prianya yang menampilkan gambar seorang wanita.
Debar jantung gadis itu seketika berhenti. Gambar seorang wanita yang tertampil tidak sendiri. Bersamanya duduk seorang pria. Pria yang kini tengah menemaninya. Cinta pertamanya yang hanya akan menjadi kenangan dalam lembaran hidupnya.
Kini gadis itu sadar. Semua kesalahan bukan terletak pada prianya yang tak pernah tahu perasaannya. Sebab cinta bukanlah kebisuan.
Gadis itu naik ke bus dan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan kenangannya. Menginggalkan angan perihal cinta pertamanya. Hening. Sepi. Rindu.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena