Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 05 Juni 2014

Kamisan #3 ENDORFIN; Singgah

pic by @rizkaniaDR


Hai, Desember basah yang sendu, mungkin aku tak butuh tempat untuk singgah dalam perjalananku meluruhkan jarak, sebab jarak di antara aku dan dirinya hanyalah waktu. Waktu yang terus berdetak tanpa celah untuk singgah barang sedetik pun.

***

Tampaknya langit masih ingin melanjutkan tangisnya. Hamparan yang biasanya biru dengan semburat jingga itu pun kini tampak hitam pekat. Air masih tetap turun dari atas sana, semakin deras dan semakin mencekam. Apa sebenarnya yang tengah terjadi pada langit sore di bulan Desember ini?
Aku melemparkan pandangan ke luar saung rumah makan sunda yang terbuat dari bambu-bambu sederhana tanpa kaca jendela. Semilir angin tajam menusuk kulit hingga menyentuh sendi. Ada perih yang tiba-tiba terasa menyakitkan. Hanya angin, padahal hanya angin! Rumah makan ini berbentuk saung-saung kecil yang terpisah satu sama lain, sehingga pengunjung memiliki privasi masing-masing.
Aku menatap kosong bulir-bulir air yang jatuh dari langit. Menikmati dengan nanar alunan derasnya hujan. Ada kekosongan dan kehampaan yang seketika merasuki jiwa.
"Bagaimana? Kamu keberatan dengan keputusan ini?" tanyanya dengan nada lembut yang selalu mampu meluluhkan segala logikaku. 
"Aku bisa apa jika itu sudah menjadi keputusanmu," ucapku datar menahan segala tangis yang tengah berkecamuk dalam dada.
"Bukan seperti itu yang kumaksud. Harusnya ini keputusan bersama. Kalau kamu tidak setuju, kita bisa kembali lanjutkan apa yang sedang berjalan ini."
"Kalau kita masih bertahan menjalaninya, bagaimana denganmu?"
"Aku masih bisa mencoba untuk bertahan."
'Masih bisa mencoba untuk bertahan.' ? Entahlah, sudah kali keberapa kau bicara tentang bertahan. Dan pada akhirnya selalu sama, bahwa nyatanya kamu tidak bertahan dan justru melepas. 
Aku hanyalah manusia biasa yang punya batas dalam hal menunggu terlebih dalam bertahan sendiri. Dan mungkin ini sudah saatnya aku pun turut ikhlas untuk melepas.
"Aku nggak mau memaksamu bertahan lebih lama lagi pada hal yang nggak kamu inginkan. Anggap saja ini keputusan bersama,” kataku pasrah.
"Kamu yakin?"
"Jangan lagi pikirkanku, aku akan baik-baik saja. Berbahagialah pada pilihanmu."
Dialog di penghujung senja yang kelam kembali terputar setiap aku kembali ke tempat ini.
Harusnya tak lagi aku datang ke tempat ini. Harusnya tak lagi aku meratap kisah yang telah berakhir. Harusnya tak lagi aku mengais janji yang telah pudar.
Mungkin aku adalah persinggahan sesaatmu. Jika saja waktu bisa berpihak pada kita, kuharap aku menjadi persinggahanmu selama-lamanya. Kupikir ada yang lebih menyesakkan dibanding jarak kilometer, yaitu waktu. Kita tidak akan pernah bertemu jika waktu terus berdetak, sementara kita berjalan sendiri-sendiri. Kita tidak akan pernah sama, jika poros tetap berputar sementara salah satu di antara kita hanya diam.
Kupikir, aku tak lagi butuh mencari tempat untuk singgah selama-lamanya setelah bertemu denganmu. Kupikir segala angan indah yang kau ucapkan adalah nyata untuk kurengkuh di depan nanti. Namun nyatanya semua tinggallah semu. Kamu pergi mencari tempat persinggahanmu selanjutnya. Tempat persinggahan akhir untuk hatimu. Dan itu bukan aku.
Ada celah yang tengah menahan perih. Perih teramat dalam dengan luka menganga. Perih ini butuh sesuatu. Butuh kamu lebih tepatnya.
Kamu yang selama ini mampu menghilangkan rasa seperih apa pun. Melenyapkan segala kecewa yang bahkan kecewa itu besumber darimu. Kamu serupa morfin yang bertindak memproduksi endorfin berjuta-juta kali lipat untuk hidupku. 
Jika rindu adalah candu, maka temu adalah heroin yang mampu menenangkan resah untuk menebus segala. Jika jarak adalah sakau yang menyakitkan, maka kecup ibarat morfin yang berhasil menekan segala sakit.
Harusnya aku sadar bahwa kamu tak mampu lagi menjadi morfin yang mampu memproduksi endorfin dalam hari-hariku. Meski nyatanya yang kubutuhkan saat ini adalah endorfin penekan rasa sakit yang membuncah di dada. Itu masih kamu.
Sudahlah, aku sudah terbiasa merawat luka hati sendiri. Meski aku meragukan apakah endorfin dalam tubuhku mampu berproduksi lagi.
Jika harus ada yang kecewa (lagi), biar aku saja, jangan yang lain... Perihal rindu yang menggebu, biar kusimpan saja sendiri meski pilu. 
Terima kasih telah menjadi endorfinku, meski sesaat. Selamat berbahagia tanpaku. Mungkin.



@fetihabsari

7 komentar:

Diah Rizki mengatakan...

Duh, kak Feti, i fell you :'))
Be happy.

Feti Habsari mengatakan...

ihihihiii...
you too, Dek :*

Anonim mengatakan...

*cuma mau kasih peluk aja*

kecebonk mengatakan...

inikah endorfin kepedihan :o
fet sini fet d traktir es klim sama tante Ar x))))))

kecebonk mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Feti Habsari mengatakan...

*peluk ka Aria*
yess ditraktir es krim sama kak Aria sama kak Feb juga yess!!

Aria Anggana mengatakan...

Ish! Kok jadi aku yg traktir -,-

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena