Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 07 Januari 2014

Punggung


“Jangan pergi…” ratap seorang perempuan kepada kekasihnya. Ia menatap tajam pada kedalaman mata lelakinya itu. Tak mampu lagi membendung lelehan air mata yang merembes membasahi pipinya. Kemudian, ia memeluk kembali lelakinya. Erat, lebih erat. Tak ingin melepaskannya, tak ingin membiarkan lelakinya pulang.
Suasana Stasiun Bandung malam ini terasa begitu kelam bagi perempuan berkulit putih dengan rambut sebahu itu. Kini wajahnya pucat, sembab tersebabkan oleh tangisnya.
Lelaki itu berusaha mengendurkan pelukan perempuannya. “Sudah, jangan menangis, aku harus pulang, Sayang,” bisik lelaki itu. Dengan lembut, jemarinya menghapus air mata yang terus membasahi pipi perempuannya itu. “Nanti aku akan kembali untuk menjengukmu, atau kamu yang ke kotaku,” lanjutnya lagi seraya menyunggingkan senyum.
Dan sialnya, senyuman itu menambah berat perempuan itu untuk melepaskan lelakinya pulang. Senyuman itulah yang selalu membuatnya tersenyum pula. Sapaan sayang yang selalu menghangatkan jiwanya. Pelukan yang selalu melindunginya. Semua hal dari lelaki itu membuat sang perempuan tak ingin sedetik pun melepaskannya.
“Aku kesal dengan waktu! Kenapa ia tidak mau berhenti berdetak, agar kita tak pernah kehabisan waktu!” pekik perempuan itu dengan suara yang sedikit tertahan.
“Heii, kamu tidak boleh kesal dengan waktu, Sayang. Yang tak bisa kita hentikan adalah waktu, sebab ia akan mengantarkan kita kepada masa depan yang lebih indah. Mungkin.” Lelaki itu berusaha menenangkan perempuannya itu.
“Kalau begitu aku benci pada jarak!”
“Jangan pernah membenci jarak, apalagi merutuk waktu. Sebab, merekalah yang mengajarkan kita tentang arti dan kedalaman sebuah rindu.”
“Tapi aku mau kamu ada di sini.” Air mata perempuan itu semakin deras meleleh.
“Aku mohon jangan menangis lagi, batinku tersiksa melihatnya,” mohon sang lelaki.
“Maaf,,, aku hanya ingin,,,” perempuan itu hanya tertunduk dan tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Aku mengerti, Sayang. Aku mengerti. Pada suatu hari nanti, akan ada saat di mana kita saling mencumbu rindu tanpa harus ada yang pulang meninggalkan yang lain.”
“Kereta Api Harina tujuan Stasiun Turi Surabaya akan segera diberangkatkan, kepada penumpang agar segera naik ke dalam kereta.” Sebuah suara yang sangat dibenci dan ditakuti oleh perempuan itu. Sebenarnya bukan masalah suaranya, tapi adalah isi pemberitahuannya.
“Aku harus pulang sekarang, Sayang. Aku tunggu kamu di kotaku,” ucap lelaki itu. Ia mengecup kening perempuannya, memeluknya sekali lagi dan membisikkan sesuatu.
“Pulanglah, kabari aku.” Hanya itu yang mampu keluar dari bibir tipis perempuan itu.
Kaitan jemari mereka perlahan mengendur dan akhirnya terlepas. Lelaki itu mulai melangkah menuju pintu masuk utama. Setiap detik, semakin terbentang jarak di antara mereka. Perlahan tapi pasti, sosok lelakinya itu akan segera menghilang dari pandangannya. Lelaki itu tak lagi menoleh ke belakang, hanya ada punggung yang sebentar lagi juga akan lenyap dari pandangan.
Pada suatu hari nanti, entah berapa minggu, bulan atau tahun lagi, jika jarak dan waktu tiba-tiba berkata lain. Jika takdir membawa lelakinya pergi dan menghilang dari hidupnya, ia akan selalu bisa menemukannya kembali. Meski harus mencari di antara lautan manusia yang terus berjalan membelakanginya. Perempuan itu tetap akan mengenali lelakinya. Meski hanya sebatas punggung, ia akan berlari dan memeluk lelakinya itu dari belakang, kemudian membenamkan wajahnya pada punggung itu. Punggung yang ia kenal dan akan selalu terpatri dalam ingatan. 





@fetihabsari

*Tulisan ini diikutsertakan pada 
Lelang Buku Bayar Karya
LoveBooksALotID

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena