Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 10 November 2013

Kenangan



Kenangan. Kamu bebas memilih, apakah ingin bersahabat dengannya, atau bahkan merutuk dan membencinya.
Mungkin aku hanyalah sekelebat asap tak kasat mata di hadapanmu, atau sekedar cadangan dikala kau butuh tempat bersandar dan mengeluh. Kemudian, ketika kau tak lagi butuh sandaran, dengan mudahnya kau mendorongku ke lubang gelap tanpa pernah bertanya tentang perasaan. Dan pada akhirnya aku berhenti untuk bertahan, jaring pengikatmu tak lagi kuat untuk menahan bebanku.
***
Desember basah. Puncak dengan senja yang juga basah. Ingatkah kau tentang liburan akhir tahun kita yang takkan pernah bisa kulupakan? Ada sunrise hingga sunset dan tanah basah yang asik bercumbu dengan derasnya hujan.
Kau tak pernah mengeluhkan lelah, kau tak pernah mengeluhkan kantuk, kau tak pernah mengeluhkan apa-apa. Untukku, kau selalu tersenyum dan dan berkata ‘aku tidak apa-apa’.
Namun, kini semuanya telah berlalu. Karena tepat beberapa minggu setelah liburan ‘romantis’ kita itu, kau berubah. Entah aku yang salah, kau yang salah, atau justru keadaanlah yang salah. Aah,,, sudahlah… aku tak ingin merutuk pada keadaan.
Malam itu. Malam sebelum kau benar-benar meninggalkanku tanpa kutahu apa salahku, kau berkata, “Kamu tetap sahabatku sampai kapan pun. Aku tidak ingin pacaran lagi. Sahabat bagiku lebih berarti.” Dan malam itu, kita kembali menjadi sahabat. Sahabat yang saling mengisi kekosongan masing-masing.
Aku kembali menjadi sahabatmu yang dengan setia mendengarkan curhatanmu. Kemudian aku bertanya tentang Wanita itu__teman satu fakultasmu. Kau bercerita panjang lebar tentangnya. Tentangnya yang juga maniak coklat sepertiku. Dan kau selalu berkata dan meyakinkanku, bahwa kau dan wanita itu takkan pernah bersatu. Entah apa alasanmu berkata seperti itu.
Tahukah kamu, bahwa aku tengah menertawai diriku sendiri ketika beberapa hari setelah malam itu aku melihat relationship dan fotomu bersama wanita itu? Dan tahukah kamu, bahwa ternyata aku telah tertipu (lagi) ?
Dan, entahlah, aku tak pernah menyalahkan dan membencimu atas relationship-mu itu, tapi kenapa justru kaulah yang menjauhiku? Seoalah akulah orang yang paling bersalah dalam kisah ini. Kisah yang mana? Kisahku denganmu?
Sudahlah,, hatiku sudah terlanjur berserakan jatuh tertinggal pada setiap jengkal kenangan yang telah kita lalui. Lalu, kini kau hukum aku juga dengan memutuskan persahabatan kita yang tak bersalah itu?
Perasaanku kini tak lagi penting. Yang terpenting adalah kau dengan wanitamu. Semoga tak ada lagi hati dengan yang tercecer di setiap jengkal kenanganmu dengannya…
Perlahan telah kukubur kenangan kita keping demi keping. Dan, maaf, kini aku tak bisa lagi percaya pada tiap kata yang meluncur dari bibirmu yang pernah mengatakan janji-janji ‘surga’ padaku. Aku pun mulai berhenti bertahan sebagai sandaranmu yang kini mulai lenyap dalam nyata.
Kenangan. Yang harus kau tahu, aku tak pernah membenci kenangan kita…
Karena kenangan telah mengantarkanku menjejakkan kaki saat ini, di tempat ini. Dan tanpa kenangan, aku tidak akan berdiri di sini bersama lelakiku, saling mengaitkan jemari dan turut mendoakan kisahmu yang juga semoga indah…




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena