Kamis, 02 Juli 2015
Selasa, 10 Maret 2015
Kamisan S3 #4; Menggarami Luka
Hati yang memilihmu tetap akan memilihmu, meski kecewa tak semudah itu tenggelam dan menghilang. Sebab menguburkan rasa kecewa tak semudah menenggelamkan diri pada ombak yang murka. Dan memakamkan rasa sakit tak semudah menggali lubang untuk menguburkan diri sendiri.
Tema Kamisan 4; Dokumentasi Mbak Yola
Kamis, 12 Februari 2015
Kamisan S3 #2; Merawat Kenangan
![]() |
| Tema Kamisan 2 pic by Fahmi Amrullah |
Ada yang pergi tanpa pernah kembali. Ada yang masih diam menanti. Pada riak gelombang bergelung janji, janji yang musnah ditelan takdir.
Minggu, 25 Januari 2015
Kamisan S3 #1 ; Perajut Hujan
![]() |
| Tema ke-1 Kamisan season 3 |
Kita lihat, siapa yang lebih dulu jatuh, air hujan atau air mataku.
Dan kita lihat, siapa yang lebih bertahan untuk terus jatuh tanpa mengenal kata selesai, hujan atau tangisku.
Kamis, 17 Juli 2014
Kamisan #9 PULANG; Pria Hujan
Rindu ini belum selesai, atau bisa jadi rindu ini tak akan pernah selesai. Entah sudah hujan keberapa rindu ini mengais. Pada senja yang juga tak pernah bosan menampilkan kembali kenangan, ada rindu-rindu yang semakin membuncah. Desir angin menemani tawa getir di tiap rindu yang hanya akan selalu tersimpan rapi pada tempatnya. Sendiri ia belajar mandiri, merawat luka yang inginkan temu. Memupuk angan yang menanti gamang.
***
Setelah hujan menguap dan tanah basah kemarin menjadi kering, pria itu benar-benar pergi, menghilang, dan entah apakah ia akan kembali atau tidak. Langit cerah, berwarna biru dengan awan putih bersih yang bergumul. Tak ada mendung apalagi pekat muram. Tak ada sedikit pun pertanda bahwa akan turun hujan. Apalagi pertanda bahwa pria itu akan (segera) kembali.
Sedangkan gadis itu, gadis itu masih terus selalu kembali. Berdiri di depan sebuah gedung kesenian. Kadang ia duduk di bawah rindangnya pohon mahoni. Dan terkadang ia berdiri di depan sebuah warung sederhana beratap usang. Dengan tatapan yang tak pernah lepas dari langit. Melekat, lalu menyatu. Keduanya terletak di depan gedung kesenian itu. Dan keduanya pula adalah tempat ia dan pria itu menghabiskan senja ketika hujan turun. Tempat berbagi cerita melalui diam dan dekap dalam hujan yang tumpah.
Gadis itu tak pernah lelah untuk kembali ke tempat itu. Entah apa yang ia pikirkan. Entah apa yang ia tunggu. Pria itu? Pria hujannya? Ternyata cinta telah membuatnya bertahan sebegitu keras. Tak peduli sudah hujan keberapa ia berdiri kokoh menanti, pria hujannya tak kunjung kembali. Entah pada senja yang keberapa gadis itu akan mulai lelah dan berhenti. Berhenti bertahan untuk cinta yang tak kembali.
Cinta adalah kuatmu dalam bertahan. Tetapi jika bertahanmu tidak dihargai, lepaskanlah.
Namun gadis itu belum berhenti. Gadis itu belum menganggap bahwa bertahannya tidak dihargai. Ia yakin, hati kecilnya berkata bahwa pria hujannya akan kembali pulang. Ia percaya bahwa pria hujannya butuh tempat untuk pulang.
Seperti apa pun keadaannya, setiap orang pasti ingin pulang. Ingin kembali pada suatu keadaan yang membuatnya seperti tanpa beban. Dan, gadis itu yakin, selalu yakin, bahwa prianya pun butuh pulang. Kembali pada keadaan yang bisa disebut sebagai tempat untuk pulang. Meletakkan beban dan melepas segala peluh.
Gadis itu yakin bahwa prianya akan kembali. Pulang ke dalam hatinya. Entah ia akan menunggu sampai kapan. Mungkin sampai langit senja tak akan pernah lagi menampakkan jingganya. Atau bahkan sampai senja selesai dan tak akan pernah hadir lagi.
"Entah, aku yang terlalu bodoh, atau kamu yang terlalu hebat memupuk rasa cintaku yang setiap detik semakin rindang. Hanya untukmu."
"Aku biarkan kamu pergi hingga senja datang, berharap kamu tak lupa tempatmu pulang. Aku." Gadis itu berucap pada langit yang mulai menyiratkan jingga berbalut abu-abu.
Senin, 07 Juli 2014
Kamisan #8 PERLINA; Dalam Hujan
Dalam hujan, kita berbagi cerita dalam diam, pada dekapan yang lebih rapat, lebih hangat. Ada doa yang dirapal pada masing-masing hati, apakah doa kita sama? Seperti dua pasang mata yang sama-sama memandang langit gelap dan menembus hujan pada titik yang sama. Kemudian kau berbisik, 'berterimakasihlah pada hujan' sambil merapatkan kembali tanganmu yang mendekap hangat dari belakang tubuhku. 'Terima kasih kau telah menyeretku pada rasa yang semakin dalam' bisikku pada hati yang kuharap tak akan pernah membeku. Dalam hujan, semoga tak akan pernah ada janji yang berkhianat.
Kemudian setelah hujan usai, dekapan mulai merenggang. Dingin pun mulai merayap. Bisikan-bisikan mesra mulai menguap. Belaian-belaian manja mulai pupus. Dan seribu janji manis mulai terbang tak tentu arah. Tak mampu lagi kugapai.
Semuanya mulai perlina seiring hujan yang telah usai.
Hati yang semula kuharap takkan pernah membeku kini pun mulai membeku. Janji yang semula kuharap takkan pernah berkhianat kini pun mulai berlalu tanpa ragu. Harapan-harapan itu kini telah pupus tersapu hujan yang tak lagi menyisakan basah. Basah yang telah menguap bersama dekap, harap, janji, dan cintamu.
Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi dalam diam. Tak ada lagi tawa yang akan kita rasakan bersama. Tak ada lagi kaki yang melangkah bersama mencipta ricik pada jalanan yang becek. Tak ada lagi jemari kuat yang menggenggam tanganku lebih rapat. Tak ada lagi dekap yang menghangatkan hati yang tengah resah. Tak ada lagi bisik merdu yang menyejukkan. Apalagi janji yang membumbungkan harapan.
Lalu pada hujan-hujan selanjutnya, tak lagi kutemui kamu. Yang kutemui hanyalah butir air yang berkoalisi dengan karbon dioksida, sulfur, nitrogen dan unsur pencemar lain dalam udara. Menambah pekat pH asam pada hujan yang turun. Menyukseskan kadar perih yang meningkat tersebab hujan yang semakin asam. Hanya hujan dan asam.
Semuanya telah perlina seiring hujan yang mulai menguap malam itu.
Mungkin ada doa yang terlewatkan olehku untuk dirapalkan. Yaitu memohon agar hujan tak pernah usai dan basahnya tak pernah menguap pada detik itu.
Kamis, 03 Juli 2014
Kamisan #7 Game of Love; Mantan Kekasih dan (Mantan) Sahabat
Kamis, 26 Juni 2014
Kamisan #6 Martabak Telur; vs Martabak Manis
"Nggak ke mana-mana. Kenapa?"
"Nanti malam aku jemput ya."
"Okey."
“Ya, aku sehat,” jawabmu singkat.
“Syukurlah.”
“Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
“Bicaralah.”
“Sepertinya kita membutuhkan hubungan yang lebih ringan.”
“Maksudmu.”
“Bagaimana kalau kita berteman saja?”
“Aku Cuma nggak mau membuatmu tersiksa dengan segala sikapku. Kamu harus bahagia dan memikirkan hal-hal penting lain dalam hidupmu. Jangan terus terpaku pada hubungan ini.”
