Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 11 Juni 2014

Kamisan #4 HALUSINASI; Pria Halusinasi


Terdengar suara ketukan di pintu depan ketika aku tengah asyik menonton film dari laptopku di kamar. Kulirik jam dinding berbentuk babi dengan hidung berwarna pink yang tampak mendominasi penglihatan itu. Pukul tujuh. Siapa yang bertamu jam segini? Lagi pula mama dan papa kan sedang tidak di rumah. Aku bermonolog sendiri dalam hati. Tanpa menyelesaikan monologku, aku melangkah tanpa ragu menuju pintu depan dan membukanya.
“Kamu?!” pekikku bahagia tak percaya. Tanpa basa-basi aku langsung memelukmu erat. Dan tubuh bidangmu membalas pelukanku dengan hangat. Membenamkan tubuh kecilku dalam pelukanmu. Jemarimu membelai tiap helai rambutku yang selalu kubiarkan terurai sambil sesekali mengecup ubun-ubunku.
“Hei, kamu excited sekali,” ucapmu dengan senyuman mengembang yang selalu membuatku ingin merengkuh wajahmu dan mengecupnya.
“Aku kan kangen! Nggak tahu apa kalau kangennya pake banget!” rengekku manja dan masih dalam pelukanmu.
“Iyakah?” tanyamu menggoda.
“Iiihh,, nyebelin!” pekikku sambil mencubit perutmu__hal yang paling kusukai__sebelum akhirnya aku bergelendot manja dalam pelukanmu. Jika kamu sudah merasa menyerah dan kegelian otomatis kamu akan menghentikan tingkahku dengan mendekapku dalam pelukanmu. Kemudian kami akan tertawa bersama. “Yuk, masuk.” Aku mengajaknya masuk ke ruang tengah.
“Kok sepi?” tanyamu heran.
“Iya. Semua pergi ke Bandung,” ucapku sembari menyalakan televisi. “Sebentar ya aku ambil minuman dulu.” Aku meninggalkanmu dan melangkah ke dapur. Aku hapal minuman yang selalu kamu inginkan. Orange sirup takaran tiga sendok makan dengan segelas air dingin berukuran 250ml dan tambahan lima balok kecil es batu. Aku pernah bertanya mengapa harus tiga sendok, mengapa harus 250 ml, dan mengapa harus lima balok kecil es batu. Jawabannya selalu sama. Kamu hanya tersenyum dan berkata ‘rahasia’. Sialnya, aku selalu tak berkutik jika kamu sudah tersenyum dan menerima apa pun yang kamu katakan.
“Kok kamu nggak ikut ke Bandung?” tanyamu ketika aku kembali dengan dua gelas orange sirup kesukaanmu.
“Nggak. Kalau aku ikut, aku membuang kesempatan untuk ketemu kamu.”
“Aku kan nggak bilang kalau mau datang malam ini.”
“Memang. tapi feelingku bilang kalau kamu akan datang malam ini. Kenapa kamu baru datang lagi?” Aku duduk di sampingnya dan mendengus.
“Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulutmu. Dan, lagi-lagi, aku bagai terhipnotis menerima segala makna dari setiap jawaban singkatmu.
“Aku kangen.” Aku bersandar pada dadamu yang bidang. Tempat yang selalu kuinginkan untuk terlelap bermain bersama mimpi.
Kamu hanya tersenyum sembari membelai lembut rambutku dan sesekali mengecup kepalaku. Hanya itu hal yang selalu kamu lakukan. Dan aku selalu nyaman dengan segala perlakuanmu.
Aku tak akan pernah bosan. Tak akan pernah bosan berdiam dalam dekapanmu. Tak akan pernah lelah mengerti segala diam dan cuekmu. Aku hanya bisa merutuk waktu jika ia seoalah tak pernah berpihak padaku. Waktu selalu tak mau bertoleransi padaku. Berhenti berdetik detik ini juga misalnya. Waktu justru berputar semakin cepat dan mengharapkan segera perpisahanku denganmu. Benarkah perasaanku itu? Entahlah. Yang pasti, jika ada yang harus disalahkan, aku masih akan terus merutuk waktu.
“Sudah jam sepuluh, aku harus pulang,” katamu.
Tuh, kan. Baru saja aku memeluknya beberapa menit yang lalu, tetapi kenapa waktu sudah berputar berjam-jam. “Sebentar lagi,” rengekku tanpa melepaskan pelukannya.
“Sudah malam. Nggak enak sama tetangga. Lagipula kamu juga butuh istirahat.”
“Tapi aku masih kangen.” entahlah, ini sudah rengekan keberapa yang keluar dari mulutku.
“Besok aku kembali lagi, ya.” Kamu membujukku dan melepaskan pelukanku.
“Bohong! Setelah ini pasti kamu akan menghilang tanpa kabar lagi! Kamu tega membuatku hampir mati karena rindu?” ucapku dengan penuh emosional.
Kamu malah terbahak mendengar perkataanku yang terdengar berlebihan itu. “Lantas apa yang bisa membuatmu percaya?”
Aku hanya membisu dan menatap dalam matamu, tenggelam dalam keteduhan yang tanpa sadar membuat bulir bening rembes dari kelenjar air mataku.
“Hei, kenapa kamu menangis?” Raut wajahmu berubah menjadi khawatir. Jemarimu dengan sigap menghapus setiap bulir yang jatuh di pipiku. “Apakah aku menyakitimu? tanyamu.
Aku menggeleng.
“Lantas?”
“Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu," ucapku lirih.
“Lantas mengapa kamu menangis?”
“Aku menangis, sebab aku merasa bahwa kita tidak pernah ditakdirkan untuk bersama.”
“Aku menyayangimu.” Kamu menarikku ke dalam pelukanmu. Erat. Hangat. Damai.
Bukannya mereda, air mataku malah semakin deras. Tak ada suara tangis yang menggema. Hanya isakan yang semakin lama semakin berat. Kamu mulai melepaskan pelukanmu.
“Kumohon jangan menangis. Aku tidak ingin kamu sakit.” Kamu memohon.
Aku membisu. Air mata tak bisa lagi kubendung. Aku ingin menumpahkan segala rasaku padamu yang terpendam di dalam sini. Di hati. Tanpa kuduga, kamu merengkuh wajahku, dan perlahan melumat habis setiap kata dengan bibir lembutmu. Bukannya menolak dan menghindar, aku justru menerima dan membalasnya dengan segala rasa.
Entah, rasa apa ini. Seperti ada listrik jutaan volt yang menyengat tubuhku. Bukan sakit yang kurasakan. Bukan. Justru rasa rileks yang membuatku lepas dari segalanya. Aku menikmatinya. Menikmati setiap kecupan yang berkali-kali kamu lumatkan habis pada bibirku yang mulai kembali hidup.
Selesai. Kamu selesai membuatku kembali hidup dengan menyuntikkan berjuta-juta endorphin dari bibirmu itu. “Aku menyayangimu. Apa kau percaya itu?” tanyanya kemudian.
Aku membisu. Tak bisa berucap. Badai masih bergemuruh dalam dada. Kecupanmu ibarat morfin yang seketika membuatku sakau. Aku merengkuh wajahmu dan melumat bibirmu. “Aku menyayangimu,” ucapku lirih tanpa melepaskan lumatan morfinku ini.
Kamu membiarkanku sampai aku selesai mengobati sakauku. Setelahnya kamu menarikku dalam dekapanmu dan membiarkan aku tertidur di dalamnya.
“Tidurlah. Aku akan menemanimu malam ini.”
***

“Anila!” suara teriakan yang begitu kukenal telah membuyarkan tidur lelapku yang paling damai yang pernah kurasakan selama dua puluh dua tahun ini.
Aku membuka mata perlahan. “Apa sih, Ma?”
“Itu pintu depan dari kapan nggak kamu tutup? Ceroboh banget sih, kalau ada maling masuk bagaimana?”
“Hah?!” aku langsung tersadar detik itu juga. Aku menoleh ke sana ke mari. Bingung.
“Kamu cari apa? ada yang hilang?” tanya mama.
“Dia. Semalam dia datang ke sini, ia menemaniku, lalu aku tertidur. Di mana dia?” kataku kacau.
“Dia? Dia siapa? Pasti pria halusinasimu lagi!” Mama mendengus kesal.
“Bukan. Dia bukan halusinasiku. Jelas-jelas semalaman ia menemaniku.”
“Kalau memang benar dia ada, kenapa selama ini kamu tidak pernah mempertemukannya dengan kami, dan selalu saja tiba-tiba menghilang misterius?”
“Ma,,,”
“Sudahlah. Jadi kapan kamu mau ikut mama ke psikiater?”
“Aku tidak sakit, Ma!” pekikku keras. Aku langsung berlari masuk ke kamar dan membanting pintu kamar.
Aku tidak berhalusinasi. Jelas tidak! Masih kurasakan bekas air mata yang sudah mengering dari semalam di pipiku. Masih kurasakan hangat dekap pelukmu. Dan masih membekas lumatan bibirmu semalam. Kembali, bulir bening tak hentinya mengalir.
“Jangan menangis. Kumohon," katamu yang tengah duduk di sofa kecil berbentuk babi kesukaanku yang terletak di sudut dekat jendela kamarku. Dengan raut wajah menyiratkan bahwa semua akan baik-baik saja, kamu kembali berkata, “aku menyayangimu.”






@fetihabsari

2 komentar:

Cikie Wahab mengatakan...

Wow. speclessss :)

me mengatakan...

halusinasinya nakal XD

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena