Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 03 Juli 2014

Kamisan #7 Game of Love; Mantan Kekasih dan (Mantan) Sahabat


Tepat pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat, pesawat yang membawaku terbang dari Paris kini telah mendarat dengan cantik di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Perasaan bahagia memenuhi ruang di jiwaku. Entah berapa lama sudah lengkungan senyum mengembang di wajahku. Dan aku tak merasa lelah memamerkan senyum bahagiaku ini.
Pintu pesawat telah terbuka. Aku berjalan menuruni anak tangga satu demi satu. Masih dengan senyuman yang semakin mengembang dan sumringah kurasa. Aku melangkah dengan anggun menikmati tiap senti jarak yang kulalui bagai putri kerajaan yang telah dinanti.
Tiba di bawah aku berhenti sejenak. Menghirup dalam-dalam aroma senja kemudian menghembuskannya perlahan. Nikmat! Aaahh sungguh nikmat aroma senja Indonesiaku! Pandanganku sontak menatap hamparan langit biru beserta awan putih yang saling bergumul satu sama lain. Ada semburat jingga yang terlukis, menambah keindahan karya Tuhan sore ini.
Langsung saja aku memanggil taksi bandara. Setelah semua barang dan koperku masuk bagasi, aku langsung memberitahu alamat tujuanku pada sang supir taksi tersebut. Tanpa banyak bertanya sang supir pun langsung tancap gas membelah jalanan ibukota yang telah lama kutinggalkan.
Macet! Ya ibukota ini semakin lelah kurasa. Terlihat ia tak mampu lagi menampung ribuan kendaraan yang memenuhi jalanan ini. Ibukota telah sesak oleh gedung-sedung pencakar langit yang terlihat tak ramah lingkungan. Miris kulihat ibukota ini.
Sengaja aku tidak memberitahukan berita kepulanganku kepada siapapun termasuk kedua orangtuaku. Aku ingin memberikan surprise untuk mereka.
Genap empat tahun sudah aku meninggalkan Indonesia dan hijrah ke Paris. Paris kota romantis yang selalu aku impikan. Empat tahun yang lalu akhirnya aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Paris. Bahagia! Itu pasti. Aku terpaksa menitipkan cintaku pada langit Indonesia dan menjemput impian di kota romantis itu.
Cinta Rey yang aku titipkan pada langit. Rey adalah kekasihku sejak kami duduk di bangku SMA. Hingga suatu ketika saat pengumuman kelulusan dan ternyata aku berhasil mendapatkan beasiswa ke Paris.  Aku dihadapkan pada dua pilihan antara cinta dan mimpi. Antara  Rey dan Paris.
Aku beruntung memiliki Rey. Ia mendukungku untuk mengejar mimpi ke Paris. Dan akhirnya kita sepakat untuk menjalani hubungan long distance relationship antara Indonesia dan Paris. Rey begitu mencintaiku begitu pula aku yang sangat mencintainya.
Selama aku dan Rey menjalani hubungan long distance relationship, kami hanya dapat melepas rindu melalui kecanggihan teknologi saat ini. Seperti skype, twitter, webcam, video call, dan kecanggihan lainnya yang dapat mempertemukan kami meski terhalang oleh ribuan kilometer.
Teramat sering rindu menelusuk masuk dan menggedor relung hatiku, meronta-ronta untuk keluar bebas bertemu dengan sang pemilik rindu. Terkadang sering aku memaki keadaan. Menyalahkan jarak dan waktu yang telah memisahkan dua hati yang sedang dilanda rindu. Tak pernahkan jarak mengerti bagaimana sesaknya kala ditimpa sebuah rindu?
Aku hanya bisa mengungkapkannya melalui rangkaian kata yang selalu kukirimkan untuk Rey melalui e-mail.
“Aku ingin menggenggam tanganmu, meski jemari ini belum sanggup untuk bertemu. Aku ingin mendekapmu, meski raga ini belum kembali dipertemukan. Untuk Rey-ku tersayang.”
Dan Rey selalu membalas dengan kata-kata yang membuatku akhirnya luluh oleh keadaan.
“Meski kini jarak dan waktu sedang memisahkan kita. Meski setiap detik perlahan mulai menghapus kenangan indahnamun bagiku setiap detik menambah ingatanku untuk selalu mengingat segalanya tentang kamu. Kita akan tetap bertahan di bawah teriknya mentari yang mengganas, di bawah sinar senja yang indah, di bawah langit bertabur bintang yang akan menjadi saksi atas kisah indah ini. Untuk Rara-ku Tersayang.”
Oohh Tuhan begitu indahnya dunia kurasa. Tak sabar aku untuk kembali menatap wajah itu dalam nyata. Kembali menggenggam jari jemari itu. Saling bergandeng tangan menyusuri taman kota menikmati senja bersama.
Kini aku kembali untuk menebus semua rasa rindu yang selama ini hanya mampu tersimpan dalam relung jiwa, berdesak-desakan karena saking penuhnya dan tak ada tempat lagi untuk menampungnya. Itulah rindu yang tertahan.
Dan kini rindu itu telah tiba pada gerbang kebebasan. Rindu ini telah bersiap membuka pintu dan keluar bebas bertemu dengan sang pemiliknya, Rey! Tak terasa taksi yang ku tumpangi telah berhenti tepat di tempat yang kutuju.
Tiba di depan kompleks rumah Rey, aku turun dari taksi. Sengaja aku tidak turun di depan rumahnya agar lebih surprise. Aku berjalan memasuki kompleks itu dengan menyeret sebuah koper dan menenteng sebuah lukisan senja yang tergambar di atas menara Eiffel. Anggun dan indah! Aku sangat menyukainya dan kurasa Rey pasti juga sangat menyukainya.
Aku baru saja melewati gerbang kompleks yang terasa lebih ramai dan riuh dibanding empat tahun yang lalu ketika terakhir kalinya aku ke tempat ini. Aahh untuk apa pula kupikirkan. Aku melangkah perlahan menanti detik-detik menyaksikan wajah terkejut Rey.
Tiba di depan rumah Rey aku hanya bisa menatap heran. Banyak sekali karangan bunga yang bertuliskan “Turut Berbahagia”. Di dalam rumah juga begitu ramai seperti sedang ada pesta.
Pandanganku tertuju pada satu karangan bunga yang bertuliskan “Selamat Berbahagia Untuk Rey & Astrid”. Aku langsung membeku di tempatku berdiri saat ini. Tanganku kaku mencengkram erat koper dan lukisan yang kubawa.
Rey? Astrid? Apa maksud semua ini? Siapakah Rey yang dimaksud ini? Ribuan pertanyaan memasuki otakku. Hati dan perasaanku bergemuruh liar meminta penjelasan akan semua ini.
“Rara?!” Seseorang menepuk pundakku.
Sontak aku tersadar dari gemuruh perang yang ada dalam hatiku. Pandanganku teralih pada seseorang yang menyapaku itu.
“Nadia!” Aku langsung mengenali sahabatku yang satu ini. Aku langsung memeluknya karena sadar bahwa sepertinya saat ini aku memang butuh pelukan untuk menenangkan gemuruh perang di hatiku.
“Kamu baru pulang dari Paris dan langsung ke sini?” tanyanya heran melihat pakaian dan koper yang aku bawa.
Aku hanya bisa mengangguk lesu. “Ada apa ini, Nad?” tanyaku kemudian.
“Kamu belum tahu, Ra?” kalimat Nadia terputus dan ekspresi wajahnya menyiratkan penyesalan harus melanjutkan kata-katanya “hari ini Rey menikah dengan Astrid, sahabat kita juga.
Petir bagaikan langsung menyambar tubuhku yang kuyu ini. Rasanya aku bagaikan dilempar dari ketinggian berkilo-kilometer dan tiba di dasar bumi yang hitam gelap pekat tertimbun oleh ribuan lapisan bumi.
Tuhan, apa maksud semua ini? Apa salahku Tuhan? Kenapa rindu yang seharusnya tersampaikan dan berakhir bahagia, kini harus meleleh tak tersisa bagaikan mentega yang dipanaskan di atas wajan.
Rey, tahukah kamu betapa merindunya diriku di negeri asing tanpa dirimu. Pernahkah kamu berfikir bahwa betapa sulitnya selama ini aku berusaha menata hati untuk meletakkan rindu ini pada tempat yang tepat sampai bertemu dengan pemiliknya, yaitu kamu Rey! Kenapa kamu setega ini.
“Ra, lo nggak kenapa-kenapa?” tanya Nadia menyadarkanku.
Aku mengacuhkan pertanyaan Nadia. Aku menguatkan hati. Meninggalkan koperku di depan halaman, berjalan menuju tempat kedua mempelai menyambut tamu. Aku hiraukan setiap mata yang memandang kearahku. Aneh! Itu pasti yang ada di pikiran mereka.
Jelas aku pasti terlihat paling aneh. Datang ke sebuah pesta pernikahan dengan t-shirt, celana jins, dan syal yang menggantung di leher. Dengan wajah yang memerah entah raut marah atau sedih. Lenyap sudah lengkungan senyumku yang selama ini telah kupertahankan.
Tiba di atas pelaminan, aku menghampiri Rey dan Astrid. Mereka terkejut dengan kedatanganku sebagai tamu yang tak diundang. Aku menjabat tangan Rey, bahkan aku memeluk Astrid entah datang dari mana kekuatan hatiku ini. Kulepaskan pelukanku pada Astrid. Sejenak hening, hanya jabatan tangan dengan tatapan tajamku terarah pada mata Rey. Tangan mereka dingin, beku seperti es.
“Selamat, ya!” ucapku singkat seraya memberikan lukisan yang kubawa
Tanpa menunggu kedua mempelai mengeluarkan kata-kata basa-basi, aku langsung melangkah pergi meninggalkan singgasana kedua mempelai. Aku mempercepat langkahku keluar ruangan. Menarik kembali koperku dan segera pergi dari tempat ini.
Semakin aku menjauhi tempat memuakkan itu semakin deras pula airmata keluar dari tempatnya. Perasaanku bagaikan di tenggelamkan dalam arus yang mematikan. Hatiku bagai direndam dalam air keras yang menyakitkan bahkan dapat membunuh raga ini.
Aku berusaha menahan aliran air mata ini agar tidak terus menerus keluar. Berkali-kali menghapusnya namun mengalir lagi. Apakah masih pantas semua ini untuk ditangisi ??
Mungkin hati ini selalu risau kala memendam rindu yang tak tersampaikan, namun semuanya akan segera meredup terkubur oleh waktu. Kini anganku telah sirna tenggelam oleh keadaan yang memisahkan, saatnya aku melupakan rasa dan mengubur angan.
Rindu dan harapan kini telah sirna, tenggelam dalam pekat yang meninggalkan semburat luka memerah. Yang tertinggal kini hanyalah luka berbalut kenangan yang lebih kelam dibanding pekatnya malam tanpa cahaya.
Jiwa ini telah hilang entah kemana, terjatuh dalam lingkaran kelam terbenam rasa dan harapan yang kau campakkan begitu saja. Rey, tidak mudah memang semua ini untuk dilupakan. Namun tak seharusnya juga aku terus menerus tenggelam dalam luka yang kau buat.
Terimakasih atas kisah yang pernah kau toreh dalam hidupku, Rey. Kini saatnya aku melupakanmu dan menuliskanmu sebagai sang mantan dalam lembaran kisahku. Dan kamu Astrid, sahabat baikku. Haruskah aku juga menuliskanmu sebagai (mantan) sahabat dalam lembaran kisahku?
Permainan ini telah selesai untukku. 



@fetihabsari

1 komentar:

hujan kirana mengatakan...

Duh dek! Ini lebih tragis dari kamisanku hahahaha :*

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena