Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 07 Juli 2014

Kamisan #8 PERLINA; Dalam Hujan

Dalam hujan, kita berbagi cerita dalam diam, pada dekapan yang lebih rapat, lebih hangat. Ada doa yang dirapal pada masing-masing hati, apakah doa kita sama? Seperti dua pasang mata yang sama-sama memandang langit gelap dan menembus hujan pada titik yang sama. Kemudian kau berbisik, 'berterimakasihlah pada hujan' sambil merapatkan kembali tanganmu yang mendekap hangat dari belakang tubuhku. 'Terima kasih kau telah menyeretku pada rasa yang semakin dalam' bisikku pada hati yang kuharap tak akan pernah membeku. Dalam hujan, semoga tak akan pernah ada janji yang berkhianat.

Kemudian setelah hujan usai, dekapan mulai merenggang. Dingin pun mulai merayap. Bisikan-bisikan mesra mulai menguap. Belaian-belaian manja mulai pupus. Dan seribu janji manis mulai terbang tak tentu arah. Tak mampu lagi kugapai.

Semuanya mulai perlina seiring hujan yang telah usai.

Hati yang semula kuharap takkan pernah membeku kini pun mulai membeku. Janji yang semula kuharap takkan pernah berkhianat kini pun mulai berlalu tanpa ragu. Harapan-harapan itu kini telah pupus tersapu hujan yang tak lagi menyisakan basah. Basah yang telah menguap bersama dekap, harap, janji, dan cintamu.

Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi dalam diam. Tak ada lagi tawa yang akan kita rasakan bersama. Tak ada lagi kaki yang melangkah bersama mencipta ricik pada jalanan yang becek. Tak ada lagi jemari kuat yang menggenggam tanganku lebih rapat. Tak ada lagi dekap yang menghangatkan hati yang tengah resah. Tak ada lagi bisik merdu yang menyejukkan. Apalagi janji yang membumbungkan harapan.

Lalu pada hujan-hujan selanjutnya, tak lagi kutemui kamu. Yang kutemui hanyalah butir air yang berkoalisi dengan karbon dioksida, sulfur, nitrogen dan unsur pencemar lain dalam udara. Menambah pekat pH asam pada hujan yang turun. Menyukseskan kadar perih yang meningkat tersebab hujan yang semakin asam. Hanya hujan dan asam.

Semuanya telah perlina seiring hujan yang mulai menguap malam itu.

Mungkin ada doa yang terlewatkan olehku untuk dirapalkan. Yaitu memohon agar hujan tak pernah usai dan basahnya tak pernah menguap pada detik itu.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena