Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 16 Juni 2015

Secangkir Kematian

Pic by Dhewi Liem


"Tidak akan lagi ada luka, tidak akan lagi kubuat hatimu kecewa", janjimu yang bahkan belum kering jika dibanding tanah merah pemakaman. Masih terngiang jelas ditelingaku. Akan selalu tertancap kata-kata manismu.
Kata-kata indahmu, janji-janji manismu akan dengan mudah menjelma belati yang dengan sigap menyayat-nyayat hati. Membunuh rasa, membekaskan kecewa. Akankah selalu seperti itu?
Bisa kau jelaskan tanpa memutarbalikkan kesalahan? Bisa kau sedikit lebih peduli pada perasaan?
Jika kau ingin lebih peduli pada perasaan, kuharap jangan lagi gunakan kata-kata manismu. Janji-janji yang kau pun tahu tak akan pernah selesai. Tikam aku, bunuh aku dengan cara lain. Yang tak lebih menyakitkan dibanding tertikam kata serta janji yang tak kunjung selesai. Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding tertikam rindu. 
Kau bisa menusukkan belati tajam yang baru kau asah tepat pada hati, jantung, paru-paru, serta kepalaku. Agar berhenti segala detak kehidupan. Agar tak lagi hidupmu terganggu masalah sepele tersebab aku.
Atau, jika mungkin kau ingin terlihat lebih manis, kau bisa racikkan secangkir cokelat panas dengan sedikit tambahan bubuk arsenik. Kemudian dengan bujuk lembut kau minumkan padaku. Dan aku, yang selalu luluh pada kelembutanmu, akan dengan berbunga menandaskan secangkir cokelat panas beracun itu tanpa sisa.
Setelah cokelat panas mengandung serbuk metaloid dengan nomor atom 33 itu menjalar rata dalam darahku, senyawanya mulai merusak sistem pencernaanku, kemudian selanjutnya menghentikan kehidupanku, dan kau bisa dengan bebas memilih wanita baru yang lebih segala dariku. Tentunya.
Atau bahkan kau akan kembali pada salah satu wanitamu terdahulu. Wanitamu sebelum aku. Mereka yang hebat dan cerdas itu. Mereka yang tak membuatmu ragu memamerkannya dalam duniamu.
Bodoh itu memang milikku. Cerdas, hebat, terkenal, dan segala yang baik hanyalah milikmu. Dan wanita-wanita cantikmu sebelum aku.
Mungkin yang kututurkan di atas adalah cara yang paling tepat untuk menikam rasa. Menghentikan kebodohan. Memusnahkan rindu yang mulai tercecer. Rindu yang tak lagi memiliki penampung dan tempat untuk pulang.
Cara yang tak lagi menggoreskan luka. Mengkhianati rasa. Dan rindu yang sia-sia. Sebab semua akan terkubur dalam-dalam bersama jasadku. Tanpa ada lagi bekas. Selain gundukan tanah merah yang mungkin tanpa bunga darimu.
Rindu dan arsenik bisa jadi sejenis. Kembar. Satu golongan. Satu periode. Mematikan.


@fetihabsari

2 komentar:

awang bimbimshop mengatakan...

Keren.....

Feti Habsari mengatakan...

Terima kasih sudah mampir:)

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena