Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 02 Juni 2016

Kisah Rama dan Sinta dalam Anak Bajang Menggiring Angin




Tak banyak karya sastra di Indonesia yang dicetak ulang beberapa kali seperti buku Anak Bajang Menggiring angin ini. Banyak pembacanya mengaku telah menemukan pegangan yang menguatkan dan mencerahkan hidupnya. Beberapa potongan kisahnya telah memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Di banyak SMU, buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.
Berangkat dari kisah Ramayana, buku ini menjadi karya sastra yang aktual untuk kehidupan masa kini. Dalam buku ini terkandung pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, tentang pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, tentang kesia-siaan kekuasaan, dan tentang kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup. Bagi sementara pengamat sastra, kisah buku ini merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan.
Banyak pengamat mengatakan, kekuatan Anak Bajang Menggiring Angin ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang klasik.

***
Sindhunata menuliskan kisah dalam Anak Bajang Menggiring Angin ini dengan sangat berhasil. Dari mulai penggunaan bahasa dan pemilihan diksi yang nyaman untuk dibaca, juga berisi pesan dan makna yang dapat pembaca ambil tanpa terkesan menggurui.
“Semoga akhirnya kau mengerti bahwa di dunia ini nafsu manusia itu bagaikan samudra,  sedangkan budinya hanyalah daratan kecil di tengah-tengahnya…” Hlm 24.
Penggalan kalimat tersebut menggambarkan perilaku manusia yang semakin terlihat belakangan ini. Segala nafsu manusia mulai dari yang licik hingga terkotor sekalipun. Keserakahan dan kekuasaan yang tidak semestinya. Sedangkan untuk menemukan sebuah kebaikan dan kejujuran sangatlah sulit.
Penderitaan dalam kisah ini tercipta sebab Dewi Sukesi dan Wisrawa yang gagal mendalami Sastra Jendra sehingga melahirkan keangkaramurkaan di dunia. Dari nafsu Sukesi dan Wisrawa lahirlah anak-anak berwujud raksasa yang penuh dendam dan keji. Salah satu yang paling jahat perilakunya adalah Rahwana.
Rahwana yang akhirnya memimpin Negeri Alengka. Alengka yang pada mulanya merupakan negri yang tenang dan teramat indah kini selalu haus oleh darah. Rahwana pun selalu memiliki nafsu untuk menikmati setiap perempuan, terutama Dewi Widowati dan Sinta yang kecantikannya tiada tertandingi. Rahwana merupakan salah satu penggambaran sesuatu terlahir yang bersumber dari hawa nafsu.
Pada akhirnya, Rahwana si raksasa jahat yang memiliki Aji Pancasona itu akan binasa oleh seekor kera bernama Anoman. Berkat ketamakan dan kesombongannya, Rahwana yang tidak akan pernah mati ketika ia menyentuh bumi itu akan merintih dan tanpa daya. Bumi pun tak kuasa lagi untuk menerimanya.
Perihal kesejatian dan kesetiaan cinta tergambar jelas melalui perjuangan Sinta yang turut mengembara dari satu rimba ke rimba lainnya demi kesetiaan cintanya terhadap Rama,  suaminya yang telah diusir dari negeri Ayodya. Sinta rela untuk merasakan penderitaan tersebab cinta, bahkan ia rela mati demi meempertahankan kesuciannya dari raksasa jahat bernama Rahwana hanya untuk Rama. Namun kesuciannya justru diragukan oleh Rama.
“Rama, kekasihku, tiada yang akan percaya cinta kita. Karena mereka tidak mengetahui, cinta adalah mawar yang mekar tanpa pertolongan musim mana pun jua. Cinta itu adalah anugerah dari yang ilahi, yang akan menuntun kita tanpa kita tahu tujuannya, dan barangkali cinta itu bisa menjadi derita seumur hidup kita….” Hlm 107.
Bagi kalian yang menyukai kisah pewayangan, pastinya buku ini sangat menarik untuk dihabiskan. Jika kalian bukan penyuka kisah pewayangan, buku ini akan membuatmu tertarik untuk mengorek lebih dalam kisah pewayangan itu sendiri.
Kisah ini keren dan asyik sekali untuk dilahap sampai habis. Cerita tentang kehidupan dan cinta yang sebenarnya, dikisahkan dalam tokoh-tokoh pewayangan yang tidak membosankan dan membuat ngantuk.
Buku ini juga layak masuk ke dalam rak buku koleksi. Beruntungnya, saya menemukan buku ini ada di dalam kotak oleh-oleh rutin yang dibawanya saat mengunjungi kotaku.


@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena