Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 21 Agustus 2017

Seperempat Abad Kurang Satu




Memasuki usia seperempat abad kurang satu itu rasanya nggak terasa. Rasanya baru kemarin sekolah dan pusing-pusing dengan tumpukan tugas, merasakan cinta monyet dan patah hati yang masih menyandaang label usia belasan tahun. Saat ini, sudah menyandang label usia seperempat abad kurang satu.

Katanya, bagi perempuan yang sudah memasuki usia seperempat abad adalah usia yang matang untuk menikah. Maka pertanyaan-pertanyaan “kapan nikah?” akan semakin banyak menghiasi pendengaran. Memang ada keinginan untuk menikah di rentang usia memasuki seperempat abad ini, tetapi jika Tuhan belum berkehendak, kita bisa apa? Manusia bisa berencana dan berusaha, tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Bukan hanya perkara menikah, saya pikir perempuan yang memasuki usia seperempat abad seharusnya sudah cukup matang untuk hidup dengan mapan dan mandiri. Yang saya rasakan, saya belum berhasil dengan kata ‘mapan’ dan ‘mandiri’ tersebut. Saya masih merasa seorang gadis kecil ibu. Yang dikeloni saat sakit dan mimpi buruk, yang disuapi saat enggan untuk makan.

Memasuki usia seperempat abad kurang satu kemarin banyak kejutan dan dikelilingi orang-orang yang dengan tulus mencintai. Beragam ucapan dan segala doa baik yang melimpah diaamiinkan.

Thankyou, Bear yang katanya nggak peka, nggak romantis, nggak manis tapi tiba-tiba muncul di kantor lengkap dengan kue dan kado. Rela ngerasain macetnya Tangerang-Cibitung buat antar jemput gara-gara Sabtu-Minggu ada yang harus kerja fullday. Thankyou, Bear yang sukanya ngeselin karena paling nggak bisa kasih kejutan tapi ternyata bisa juga kasih kejutan meski nggak sesuai rencana katanya. Semoga apa yang kita cita-citakan bisa kita wujudkan bersama. Semoga tidak ada lagi kata kecewa dan terluka tersebab terlalu berharap.





“Tadinya kalau kamu pulang siang aku mau di rumah dari pagi terus masak, jadi pas kamu pulang kan bisa bilang ‘nih makan’, bukan sekadar ‘sana makan dulu’ via chat terus.” Kepikiran banget ya buat datang ke rumah dari pagi cuma buat masak? Aku yang cewek aja nggak loh. 😂

Romantis bukan sekadar perihal cokelat atau sebuket bunga. Romantis itu lebih kepada dirimu yang sebenar-benarnya dirimu sendiri. Sebab setiap orang memiliki sisi manis dan romantisnya masing-masing. Romantis yang tak terduga. Berbeda.

Siangnya, di grup heboh nagih makan-makan. Setelah di-iya-kan, dibuatlah rencana ngumpul malamnya. Sore saat masih di jalan, Kak Dew whatsapp kalau mau ke rumah, tapi masih kena macet. Setibanya saya di rumah, sudah ada balon ditempel-tempel, kamar pun penuh balon. Ternyata ada yang sudah datang dari siang buat hias-hias gitu ya. Malamnya semua ngumpul di rumah sebelum ditodong sea food-an.

Tepat di hari H, saya dikelilingi oleh teman, sahabat, dan keluarga yang pelukable. Rasanya nggak berasa kalau sudah memasuki usia seperempat abad kurang satu. Mungkin karena kerjaan saya jalan-jalan dan main terus kayak abg kali ya. Lupa deh kalau sudah hampir tua.




Thankyou, kakak-kakak kesayangan atas perhatiannya sama adek bungsu yang paling imut ini. Thankyou, cici Dewi om Arya yang bilangnya masih kena macet ternyata udah tiup-tiup balon dan nempel-nempel hiasan. Thankyou, om Agung yang lebih pilih aku dibanding kali. Thankyou, om Bayu yang lebih pilih aku dibanding dinner sama dedek pramugari yang cantik itu. Thankyou, kaka Meri yang lebih pilih aku dibanding waktu me timenya. Thankyou, om Arip yang tumben nggak malam mingguan di Jung.

Lewat lima hari, Eno datang ke rumah. Bilangnya mau nginap untuk ngerjain laporan. Seperti biasa, wacana sekadar wacana. Ternyata dia bawa jar cake ala-ala buatannya, lampu tumblr, dan hadiah.

"Tadinya mau gue bungkus pake bungkus kado masha and the bear, tapi nggak ada." Alhasil dibungkus pake gambar beauty and the beast. 😂


Eno adalah sahabat yang sudah selalu ada hampir sembilan tahun lamanya. Terlalu banyak cerita dan drama yang pastinya nggak akan cukup jika dituliskan. Terima kasih sudah selalu ada untuk menampung segala sesak dan tangis. Terima kasih untuk bahu yang selalu siap menopang dan menjadi sandaran di saat rapuh. Terima kasih untuk segala kejutan dan kegilaan sederhana yang selalu menjadi luar biasa. A friend like a sister. still be there’s always and hug each other, yes!!!

Di usia seperempat abad kurang satu ini saya berharap agar segalanya bisa menjadi lebih baik. Dapat tercapai segala ingin yang belum terwujud. Selalu dikelilingi oleh tawa dan kebahagiaan yang tiada habisnya. Dijauhkan dari segala keburukan dan kejahatan. Semoga kisah-kisah lalu bisa menjadi pembelajaran dan menempa saya menjadi manusia yang lebih kuat dan hebat.

I hope we will still be like this. 
Still be part of the people of the best in my life.

♡ @fetihabsari 

 

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena