Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 10 April 2017

City Tour Surabaya Ala-ala



Sebab perjalanan selalu menghadirkan keluarga baru.

Surabaya, kota pahlawan yang terletak di bagian timur Pulau Jawa ini belum pernah saya jelajahi. Selain kota yang jarak tempuhnya cukup jauh dari Jakarta jika menggunakan Kereta, cuacanya yang panas juga menjadi satu alasan untuk belum tertarik menjelajahinya dibanding dengan Kota Malang. Selama ini, Surabaya hanya sekadar menjadi persinggahan saja.

Di akhir bulan kemarin, akhirnya saya memutuskan untuk singgah agak lama di Kota Surabaya sebelum menuju Madura. Mulanya ingin mampir di Jogja, tetapi sudah terlalu sering singgah di Jogja dan sudah tidak ada kepentingan apa-apa lagi.

Sendiri, memutuskan pesan tiket kereta Gambir-Surabaya Pasar Turi untuk keberangkatan Kamis malam. Menuju bagian timur Pulau Jawa menggunakan kereta paling aman saya memilih eksekutif, terlebih sendiri. Bayangkan saja jika naik ekonomi yang menghabiskan waktu sekitar 12 jam, bisa membuat mati gaya dan pantat panas duduk di dalam kereta sendirian.

Mulanya hanya menghubungi Irvan (Malang) dan Tante Lina (Gresik) untuk bertemu di Surabaya yang syukur-syukur mereka pun bisa mengajak keliling Kota Surabaya. Sayangnya, Irvan belum tentu bisa ke Surabaya, dan Tante Lina baru bisa menemani sepulang kerja. Saya pun memutuskan dengan mudah untuk berkeliling sendiri selama ada gojek dan go car.

Ternyata, rombongan explore Madura pun ada yang akan singgah di Surabaya untuk exolore sehari. Dari Madiun dan dari Bandung yang kebetulan pun sudah akrab tersebab trip sebelumnya. Beberapa minggu sebelum keberangkatan ke Surabaya, tiba-tiba ada whatsapp masuk. Menanyakan keberangkatan dari Jakarta menuju Surabaya. Akhirnya, punya teman seperjalanan bareng dari Jakarta.

Saya berangkat dari Stasiun Gambir, Kamis malam bersama Kak Rose. Malam itu adalah pertemuan pertama kami dan ternyata kami langsung cocok jadi adik-kakak. Perjalanan kereta selama 8 jam diisi dengan cerita inspiratif darinya diselingi ngemil dan sarapan burger.


Tiba di Surabaya pukul 06.30 dan langsung menuju penginapan Kak Viona menggunakan go car. Kak Viona dari Madiun, dan sudah sampai di Surabaya sejak semalam bersama kak Ovik. Menggunakan transportasi online di Surabaya ternyata masih agak heroik. Dari Stasiun, kita harus berjalan beberapa ratus meter ke pom bensin terdekat, karena jika tidak, transportansi online tersebut bisa dipastikan akan kena musibah jika menjemput di kawasan stasiun.

Seharian itu kami berencana untuk explore Surabaya dan masih menunggu Kak Fitri dari Bandung yang baru akan tiba di Surabaya pukul 10.30. Ternyata kereta dari Bandung delay parah hingga sekitar pukul 12.00 baru tiba di pemginapan.

Sempat terjadi huru-hara perkara kamar hotel yang tidak bisa diperpanjang akibat full booked dan saya yang salah tanggal saat pemesanan kamar baru tanpa bisa direschedule atau pun refund.

Sekitar pukul 13.00 kami baru memulai perjalanan menuju House of Sampoerna. Rumah tua Sampoerna yang berada di Jalan Taman Sampoerna No. 6, Krembangan. Museum ini sebagian bangunannya masih digunakan untuk produksi pembuatan rokok Dji Sam Soe.

Di dalam museum kita bisa melihat langsung pembuatan rokok dengan peralatan tradisional yang dilakukan oleh ribuan wanita yang mampu menghasilkan 325 batang rokok per jam. Perpaduan bangunan tua bersejarah dengan perusahaan produksi tradisional ini menarik minat banyak wisatawan. Untuk melihat proses prouksi, disarankan datang pada Senin sampai Sabtu sebelum pukul 15.00.

House of Sampoerna memiliki bus city tour yang diberi nama Surabaya Heritage Track. Beroperasi pada pukul 09.00, 13.00, dan 15.00 dengan kuota terbatas di setiap perjalanannya. Berencana naik bus city tour, tetapi kuota sudah full karena ditinggal makan dulu. Terpaksa kami hanya bisa mengelilingi Museum House of Sampoerna saja. Museum dibuka setiap hari mulai pukul 09.00-22.00.


Sebab perjalanan selalu menghadirkan
keluarga baru (lagi)



Surabaya Heritage Track

Kalau lihat peralatan lab kayak gini
lagsung berasa ada magnet memanggil aja gitu

Setelahnya kami memutuskan untuk menuju Surabaya North Quay dengan berjalan kaki. Setelah bertanya pada satpam museum, katanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena dekat. Kami sudah berjalan kaki entah sampai berapa ratus atau kilometer, tetapi tidak sampai-sampai juga. Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkutan umum dengan tarif Rp 5.000 per orang. Ternyata, jaraknya cukup jauh. Tapi ini seru. Berjalan kaki menikmati lingkungan setempat dan naik angkutan kota yang tampak asing.

Surabaya North Quay berada di Pelabuhan Tanjung Perak. Untuk memasuki pelabuhan kita hanya akan dikenakan biaya Rp 3.000 per orang. Sedangkan untuk memasuki Surabaya North Quay free.

Tempat ini layaknya sebuah pelabuhan, tetapi sangat rapi dan bersih seperti bandara. Surabaya North Quay berada di lantai dua dan tiga gedung megah Terminal Gapura Surya Nusantara. Ada kantin dengan berbagai macam makanan serta dinding-dinding berhias layaknya ruang pameran. Pada lokasi outdoor terdapat berbagai bangku dan meja berpayung. Di sinilah wisatawan bisa menyaksikan kapal pesiar (cruise) internasional bersandar. Selain menjadi lokasi bersandar kapal pesiar, di sini para pengunjung juga dapat menyaksikan keindahan pemandangan sepanjang Pelabuhan Tanjung Perak. Terlebih lagi saat senja.

Wisata yang dikelola oleh PT Pelindo III (Persero) ini menjadi alternatif wisata selama di Surabaya. Wisatawan juga bisa naik kapal keliling Selat Madura dengan tarif Rp 75.000 per orang dan harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Surabaya North Quay buka setiap Sabtu dan Minggu pukul 09.00-21.00.







Seusai menghabiskan waktu senja di tempat cantik ini, kami memutuskan untuk menuju Tugu Pahlawan. Agak sulit mendapatkan kendaraan online di tempat ini. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan keluar menuju terminal dan menggunakan angkutan umum lagi.

Kami tiba di Tugu Pahlawan tepat saat hujan lebat turun. Berteduh di sebuah warung soto dan juice. Menunggu hujan reda. Menunggu Tante Lina dan Irvan. Tidak berapa lama hujan sedikit reda, dan kedua sahabat pun tiba.

Saya berpisah dari rombongan, dan menghabiskan malam bersama Tante Lina dan Irvan. Tujuan utama ke Surabaya sebenarnya memang untuk menemui mereka, melepas rindu. Kalau pun bisa explore, ya itu bonus.

Memiliki keluarga, sahabat di berbagai kota itu membahagiakan, meski rindu selalu menjadi pemberat. 

Sialnya, kedua kesayangan ini tidak ada yang membawa helm ekstra. Ingin mencari penjual helm pun sudah dipastikan tutup. Alhasil, Irvan menghubungi temannya untuk meminjam helm. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Warung Embrio. Ngemil cantik dan pastinya berbagi cerita. Tak lama berselang Diah datang bersama si abangnya.

Pertanyaan mulai menjurus pada kandasnya hubungan yang tidak disangka dan terbilang tragis. Jujur, saya sudah ingin benar-benar melupakan dan tidak ingin bercerita apa pun pada siapa pun lagi tentang hal ini. Sebab akan ada pihak yang merasa terpojok dan menyebut-nyebut saya mencari pembelaan di sana-sini. Dan lagi, mengingatnya hanya akan kembali membuat jebol kantung air mata saya. Malam itu, mereka benar-benar kembali membuat mata saya sembab. Sebenarnya saya lebih suka membahas pertanyaan Tante Lina yang lebih tertarik atas latar belakang saya mengenakan hijab saat ini.




Sekitar pukul 21.30 Tante Lina pamit pulang, karena perjalanan Surabaya-Gresik masih butuh waktu 1 jam perjalanan. Sedangkan Irvan yang katanya akan bermalam di Surabaya malah memutuskan Kembali ke Malang (dengan waktu tempuh 3 jam) bersama rombongan temannya. Sebelumnya pun menawarkan saya untuk ikut bersamanya berkumpul dengan teman-teman pendaki Surabaya. Dan Diah menawarkan saya untuk mampir ke tempat kopinya.

Saya memutuskan untuk ke tempat kopi Diah, sebab takut merasa canggung menjadi perempuan satu-satunya di antara perkumpulan pendaki teman-temannya Irvan. Lagi pula, Irvan kembali ke Malang sekitar pukul 23.00, sedangkan saya masih harus menunggu hingga pukul 01.00 dini hari di Surabaya. Sebelumnya, Irvan mengantar saya ke penginapan untuk mengambil tas.

Di Penginapan, kami (saya dan teman-teman trip) sudah menyiapkan surprise kecil untuk Kak Fitri yang ulang tahun. Saya membawa satu slice kue dengan lilin di atasnya. Dan benar saja, surprise berhasil karena sepanjang hari saat kita berkeliling Surabaya tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. 


Sebelumnya, mereka memberi saya sebungkus sate klopo. Berhubung saya memisahkan diri dari rombongan, dan saat mereka mencicipi makanan khas Surabaya yang satu ini, mereka masih tetap teringat oleh saya. Mereka ingat bahwa saya tidak mencicipi makanan ini. Sumpah, bahagia. Terharu.



Setelah surprise kecil selesai dan membiarkan Irvan menunggu di ruang tunggu, Ia mengantar saya ke tempat Diah. Numpang mandi dan ngobrol-ngobrol cantik yang tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Di tempat Diah ramai, beragam mahasiswa aktif pada organisasi. Saya yang sebelumnya tidak berfikir bahwa mereka semua mahasiswa sebelum Diah berujar, "Mereka usianya di bawah kamu semua loh, kak."

Hp yang tengah dicharge sudah full. ternyata ada sebuah vcall yang tak terjawab. Dari Juragan Bukunya JBS (@jualbukusastra). Baru sebentar kami vcall, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30, dan saya sudah harus berangkat menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi untuk melanjutkan perjalanan ke Madura.

Berhubung tidak ada yang bisa mengantar, beruntungnya gojek masih banyak tersedia dan cepat menjemput. Setibanya di Stasiun, Irvan menanyakan keadaan, yang ternyata dia pun masih di Surabaya. "Tau gitu kuantar tadi," katanya. Eh iya nggak ya? Lupa.

I: Fet, ada yang kelupaan. Kita nggak foto berdua buat kubikin before after.
F: Oiya. Sebentar banget sih ketemunya.
I: Yaaiyaaa.
F: Dua bulanan lagi tak ke Malang kan lama kamu jadi guide, itu wajib!!

Bikin foto before after perubahan, katanyaa. 


Trio gula jawa, katanya




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena