Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 27 Maret 2017

Pesona Krakatau Dalam Sejarahnya yang Purba





Merupakan sebuah kepulauan vulkanik yang terbentuk akibat letusan Gunung Krakatau Purba pada 1883 ini merupakan salah satu keindahan yang dimiliki Indonesia. Berada di Selat Sunda, tempat ini termasuk dalam kawasan cagar alam yang banyak diminati oleh para wisatawan.

Krakatau selalu terdengar spesial di telinga saya. Sebuah gunung purba yang pernah meletus dengan sangat dahsyatnya. Memiliki daya ledak 30.000 kali dari bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki. Menewaskan sekitar 36.000 jiwa dan menyebabkan perubahan iklim global. Selama dua setengah hari dunia gelap akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Bahkan matahari bersinar redup selama setahun berikutnya.


Pesisir Pulau Anak Krakatau

Mulanya hanya mengagumi kawasan gunung purba ini tanpa berfikir untuk mengunjunginya. Saat mendengar adanya trip-trip yang mengadakan perjalan ke tempat eksotis ini muncullah sebuah hasrat. Masuk ke dalam keluarga Backpacker Jakarta memang memberi keuntungan tersendiri bagi saya. Ternyata mereka sudah mengadakan trip Krakatau hingga part 4 dan selalu ludes dengan peserta sekitar 35 orang.

Akhirnya, saya mendapatkan seat di Trip Krakatau part 5 yang diadakan di tanggal 18-19 Maret 2017. Meeting point ditetapkan di Pelabuhan Merak pukul 23.00. Sekitar pukul 01.00 dini hari kami baru masuk ke kapal untuk menyebrang ke Pelabuhan Bakauheni. Tiba di Pelabuhan Bakauheni sekitar pukul 05.00.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa angkot berwarna kuning. Melihat kondisi angkotnya sangat amat tidak meyakinkan, tapi bisa diajak ngebut khas pengendara jalur Sumatera. Perjalanan darat itu memakan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di Dermaga Canti.

Untuk mencapai puncak Krakatau, dari Dermaga Canti kita harus melakukan perjalanan laut kembali ke Pulau Sebesi yang memakan waktu sekitar satu jam. Di Pulau Sebesi inilah tempat bermalam sebelum melakukan perjalan lagi ke Pulau Anak Krakatau.

Dermaga Pulau Sebesi

Di Pulau sebesi terdapat homestay yang biasa disewa oleh para pengunjung. Di sini listrik hanya hidup mulai dari pukul 18.00 hingga sekitar subuh. Sinyal pun akan sangat susah didapat, hanya beberapa operator saja yang bisa digunakan. Selebihnya, kita hanya bisa menikmati alam yang dikelilingi oleh lautan lepas.

Untuk mengejar sunrise, pengunjung biasanya berangkat pukul 03.00 dini hari. Dari Pulau Sebesi menuju Pulau Anak Krakatau dibutuhkan tiga jam perjalanan laut. Suasana dini hari yang sepi bersama langit yang masih gelap, kondisi mata yang masih mengantuk dibuai oleh desauan angin laut yang menerpa wajah sepanjang perjalanan. Menciptakan kisah tersendiri dan mengembalikan kenangan-kenangan yang berkeliaran.


Itu Anak Krakataunya !!!

Sayangnya, pagi itu langit mendung. Tak ada sunrise, tetapi gelombang laut pun bersahabat. Treking ke Anak Gunung Krakatau hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Untuk yang sudah biasa treking, pastinya lebih singkat, namun bisa lebih lama untuk yang tidak terbiasa treking.

Jalurnya yang terjal dan berpasir memang memberi sedikit hambatan untuk mencapainya degan cepat. Namun segalanya akan terbayar saat sudah tiba di atas.

Di tempat ini, kita bisa wisata pantai sekaligus gunung. Pantai berpasir hitam akan menyambut sebelum treking. Saat tiba di atas, akan tersaji hamparan lautan lepas. Ada juga Gunung Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang yang bisa menjadi background foto kece.





Pengunjung hanya diperbolehkan naik hingga pos terakhir Anak Gunung Krakatau. Sebab puncak Anak Gunung Krakatau yang masih aktif memang sangat berbahaya untuk didaki. Puncak yang ketinggiannya selalu bertambah setiap tahunnya ini berkemungkinan untuk meletus kembali dengan daya ledak yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Keindahan Krakatau Purba tampaknya memang tak akan pernah lekang oleh waktu. Selain sejarah masa lampaunya yang menggemparkan dunia, keindahan yang ditawarkannya pun mampu menarik siapa saja untuk mengunjunginya. Dan, saya beruntung, pernah menapakkan kaki dan meninggalkan jejak di tempat ini.

Dan, Indonesia itu terlalu indah untuk sekadar kamu tinggal merenung dan bergalau ria di balik selimut. Yakin deh, Indonesia lebih bisa buat kamu gagal move on dari pada dia.





Ada yang susah gaya buat foto, giliran disuruh
gaya begini, cepet actingnya 😄


@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena