Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 26 Maret 2017

Antara Saya dan Hijab




Let’s people say everything, cause nobody perfect.

Banyak yang bilang, hidayah itu memang tidak pernah terduga datangnya. Bagi saya, hal ini mungkin diibaratkan seperti balon yang terbang bebas di udara. Balon ini selalu lalu lalang di depan mata, tetapi hati kitalah yang menentukan, ingin menangkapnya atau tidak. Saat ini, hati saya memutuskan untuk menangkapnya dan tengah berproses untuk merawatnya agar tidak lepas atau pun terbang dan hilang kembali.

Dulu, beberapa tahun lalu, saat SMP sebenarnya sudah terbersit keinginan untuk berhijab. Alasannya simple, sedikit terpengaruh oleh bacaan-bacaan di perpustakaan yang berbau islami (novel dan teenlit bergenre islam). Saat itu, memberanikan diri berkonsultasi dengan ibu. Tidak ada penolakan dan penerimaan. Segalanya diserahkan kepada saya dan hati saya sendiri.

Memiliki kakek seorang ustad yang mengelola masjid sendiri tidak membuat keluarga saya menjadi keluarga yang fanatik (pakai banget) terhadap agama. Hanya sebatas normal. Kami (saya dan adik) tetap diwajibkan sholat lima waktu, mengaji, dan belajar agama dengan baik, bahkan belajar bahasa arab sejak kecil. Ibu berhijab setelah memiliki anak. Saya pun tidak diwajibkan mengenakan hijab sejak dini, hanya menggunakannya saat pergi mengaji.

Setelah keinginan di masa SMP itu, lalu lupa. Mungkin hanya euforia dari hal-hal yang tengah saya senangi (membaca novel islami) saat itu. Nyatanya, saya belum berhijab sampai bekerja pun. Kemudian muncul sebuah ingin kembali. Saya ingin berhijab saat sudah menikah nanti.

Saya memang memiliki keinginan untuk menikah muda. Hal tersebut sering saya bicarakan bersama (mantan) pasangan saya yang sudah membangun angan indah bersama untuk menikah di tahun 2017. Namun nyata tak seindah ingin. Manusia bisa berencana, Tuhan lah yang tetap berkuasa. Awal tahun 2017 nyatanya memberikan saya pelajaran yang paling berharga perihal kekuatan dan ketegaran, ikhlas dan lapang dada. Sang Pencipta tengah teramat sayang pada saya dan memanggil saya untuk lebih dekat padaNya.

Rencana menikah harus segera saya kubur dalam-dalam, bahkan kenangan bersamanya harus segera saya ubah menjadi doa restu yang paling baik untuknya dan perempuan yang akan segera dihalalkannya. Lantas, apakah keinginan untuk berhijab juga harus dikubur?

Kata seorang teman, "Kenapa harus menunggu menikah dulu? Iya kalau masih ada umur sampai menikah, kalau nggak?".

Setelah ujian yang baru saja memporak-porandakan hati dan jiwa, saya mencoba kembali bangkit atas dorongan keluarga dan sahabat. Melapangkan hati dan tetap melangkah ke depan. Hidup kembali saya mulai setelah beberapa hari menjadi zombie yang mengurung dirinya di dalam kamar tanpa kegiatan apa pun termasuk makan dan bekerja. 

Pada malam di minggu kedua di bulan Maret, saya berbincang dengan ibu. Setelah kejadian yang cukup menggemparkan hati saya itu, saya memang sering menghabiskan waktu bahkan tidur di kamar ibu. Berusaha untuk tidak membenamkan diri pada kesepian yang membunuh di dalam kamar. Malam itu tiba-tiba saya mengutarakan keinginan untuk mencoba berhijab. Tidak ada alasan yang jelas. Hanya ingin.

Pada tanggal 11 Maret, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri menggunakan hijab untuk pergi ke mall bertemu teman. Mulanya hanya mencoba dan masih berfikir, apakah besok kerja akan menggunakan hijab juga. Nyatanya, Senin, 13 Maret, hati saya benar-benar memutuskan untuk menggunakannya ke kantor.

Stok hijab hanya ada satu dua, pakaian pun sama. Minggu itu tepat saya melakukan trip yang untuk pertama kalinya mengenakan hijab. Saat packing sempat bingung, pakaian macam apa dan hijab apa yang akan dibawa dan digunakan. Allah memang maha baik. Semuanya berjalan lancar dan tanpa beban. Saya mulai mencintai hijab. Mungkin terdengar sangat instan jika saya mengatakan “mencintai hijab”.

Sepulang trip, ada tumpukan pakaian, celana, hijab, bahkan mukena baru di atas tempat tidur. Ibu sudah membelikan beberapa hal untuk mendukung anaknya dalam berproses. “Ibu kan mau mendukung anaknya berubah jadi lebih baik,” begitu katanya saat saya berucap kenapa sampai sebegitunya semangat membeli semua ini.

Saya sedikit protes saat melihat mukena baru, sebab di dalam lemari masih ada beberapa mukena baru yang baru beberapa kali dipakai. “Mukena yang di lemari dipakai aja. Mukena yang dipakai sehari-hari dan yang di kantor kita kasih ke mushola aja.” Saya terharu akan segala perhatiannya.

Ibu, orang yang tak akan pernah terganti dalam hidup saya. Kemarin, di saat saya hancur sehancur-hancurnya, Ibu adalah orang yang lebih hancur, namun berusaha tegar agar anaknya tidak semakin rapuh. Ibu, yang lebih dulu memikirkan segala hal yang saya butuhkan di saat saya belum mulai memikirkan apa yang saya butuhkan. Ibu, orang yang mau mendekap saya dalam keadaan apa pun dan di mana pun.

“Dekat banget ya sama ibunya,” kata seorang teman di sela makan malam trip kemarin saat saya berusaha menghubungi ibu di tengah sinyal yang datang dan pergi. Dan, saya bahagia mendengar kalimat tersebut. Saya bersyukur. Sangat bersyukur.

Kembali lagi, perihal berhijab. Saya yakin pasti akan ada banyak tanggapan positif bahkan negatif sekali pun. Yang positif dijadikan penyemangat, yang negatif dijadikan motivasi. Saya hanya ingin berproses dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tanpa perlu alasan. 

Saya bahagia atas tanggapan positif banyak teman dan sahabat. Bahkan teman, kakak yang segera dan tanpa ragu menyuruh saya memilih hijab yang saya sukai di toko onlinenya dan segera dikirim secara cuma-cuma untuk saya saat melihat saya mulai berhijab. Saya bahagia dan bersyukur atas segala dukungan dan kemudahan. 

Jika ditanya alasan kenapa memutuskan untuk berhijab, jujur saja saya tidak tahu apa alasannya. Semuanya tiba-tiba, datang dari hati dan perlahan melekat dalam jiwa. Ibarat cinta yang datangnya tiba-tiba dan tanpa alasan. Saya harap, perasaan ini akan menetap selamanya.

Jika ada yang berucap perihal motif berhijab, biarkan mereka berspekulasi atas pendapatnya masing-masing. Saya yakin seyakin-yakinnya, proses saya berhijab ini tidak ada hubungannya dengan ujian yang baru saja saya terima. Sekali lagi, saya hanya ingin bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada saya. Segala nikmat dan ujian kemarin semoga bisa lebih mendewasakan dan mendekatkan saya pada jalan kebaikan.

Saya bukan malaikat yang bisa selalu baik dan tanpa cacat. Saya hanya manusia biasa yang masih memiliki hati dan perasaan yang sewaktu-waktu tidak bisa saya hadapi sendiri. Saya hanya ingin terus berusaha menjadi orang yang baik, bukan menjadi orang yang hanya ‘terlihat’ baik.

Semoga hati saya bisa terus beristiqomah dan selalu bersyukur.



@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena