Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 26 Februari 2017

Malam Puisi Bekasi #LovePoetry4




Malam Puisi Bekasi adalah salah satu komunitas yang ada di Bekasi dan merupakan pecahan regional dari Malam Puisi Indonesia yang telah tersebar di banyak kota. Malam-malam sebelumnya saya memang tidak pernah terfikir untuk menuliskan acara Malam Puisi Bekasi, tetapi kali ini tampaknya ada hal-hal yang ingin sekali dituliskan agar selalu ada dalam ingatan.

Berdiri sejak September 2013 dan bergerilya di minggu ketiga setiap bulannya, Malam Puisi Bekasi memang mengalami pasang-surut, naik-turun, dan maju-mundur. Komunitas ini bisa dibilang tidak terlalu konsisten menjaga apa yang sudah didapat.

Semenjak aniversarynya yang pertama, Malam Puisi Bekasi semakin menunjukkan kemundurannya dengan semakin jarangnya bergerilya di minggu ketiga setiap bulannya. Beragam sebab dan alasan pasti memang selalu ada. Beragam isi kepala dan kepribadian. Terlibat di berbagai komunitas mengajarkan saya perihal beragam hal. Dari kekeluargaan hingga konflik.




Pertama kali Malam Puisi Bekasi bergerilya di Nics Café dan saya hadir bersama teman-teman dari Klubbuku Bekasi. Bermula dari sekadar ingin tahu bagaimana Malam Puisi Bekasi, kemudian digandenglah oleh salah satu penggerak dan bantu-bantu hingga saat ini. Sebelumnya memang sudah pernah hadir di Malam Puisi Jakarta di daerah Jakarta Selatan yang jauh itu.

Mengusung tema #LovePoetry4, Malam Puisi Bekasi turut meramaikan ibadah puisi serentak di 11 kota. Merupakan acara tahunan milik Malam Puisi Indonesia yang diadakan di bulan Februari dan tahun ini sudah memasuki tahun keempat.

Setelah sangat lama vakum, Malam Puisi Bekasi kembali bergerilya di 18 Februari 2017 lalu. Bertempat di De Bangoor Coffe and Resto, acara berlangsung dengan asyik, menarik, seru dan ramai. Dihadiri oleh Komunitas Sastra Kalimalang, Komunitas Hujan Matahari, Pena Muda, dan beragam pengunjung lainnya.

Salah satu perwakilan dari Pena Muda

Dimeriahkan oleh Stand Up Indo Bekasi acara semakin seru dan mencair. Mereka turut meramaikan. Mempresentasikan puisi dengan cara mereka sendiri yang unik dan menarik. Perpaduan yang seru memang antara puisi dan sebuah tawa. Semoga kami bisa terus berkolaborasi dengan baik.

Stand Up Indo Bekasi

Kemudian yang menarik perhatian saya adalah sebuah keluarga dengan seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Mulanya saya mengira mereka adalah pengunjung café yang tidak sengaja datang, namun ternyata tidak. Mereka memang sengaja datang untuk Malam Puisi Bekasi.

Grace namanya, dengan malu-malu menjawab pertanyaan dan  ajakan saya untuk maju ke depan berpuisi. Saat ketika Kak Rosa (Ibunya Grace) maju ke depan membacakan puisi karyanya sendiri, Grace pun turut menemani ibunya di depan. Berselang beberapa menit, dengan pedenya Grace maju membawa sebuah buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur yang berjudul Tidak Ada New York Hari Ini.

Dengan mantapnya Grace langsung menduduki sebuah bangku di atas stage dan membacakan sebuah puisi pendek. Setelahnya, saya sengaja menyuruhnya membacakan satu buah lagi. Ia setuju, dan saya duduk menemaninya membaca. Ini adalah pertama kalinya Malam Puisi Bekasi kehadiran tamu kecil yang keren.



Ada kebahagiaan tersendiri melihat sebuah keluarga yang memiliki kecintaan yang sama. Hal ini mengingatkan saya saat acara Hammock Gathering tahun lalu. Saat itu saya menemukan sebuah keluarga kompak dengan kecintaan yang sama. Membangun tenda bersama, berbagi tawa diatas hammock yang menggantung. Keduanya sama-sama memiliki kecintaan yang sama dan kompak.

Kedua hal tersebut membangkitkan kembali angan dan harapan yang telah dikubur dalam-dalam. Dulu, saya pernah membangun angan bersamanya membentuk sebuah keluarga dengan kecintaan yang sama dan kompak. Kami bisa menjadi keluarga yang tampak sempurna rasanya. Hoby traveling serta mencintai dunia seni dan sastra itu sudah komplit sekali kami miliki. Jika kedua keluarga yang saya sebutkan di atas kompak dalam dua hal yang berbeda, maka kami bisa membangun keduanya sekaligus. Namun, semuanya telah sama-sama kami kubur dalam-dalam.

Membaca lagi puisi tidak hanya untuk sendiri ternyata cukup mampu membangkitkan kembali hal-hal yang seharusnya tidak lagi diusik. Terakhir baca puisi di Radio RRI Pro2 Jogja saat menemaninya mengisi seebuah acara di radio tersebut. Upaya tidak lagi membawakan puisi-puisi miliknya nyatanya tidak berhasil. Bukan sekadar membaca, tetapi juga menyanyikannya. Aneh sih. Pede banget sampai pakai dinyanyiin segala.


Sepulang acara yang memang sudah dini hari itu, banyak kenangan-kenangan yang kembali berlompatan. Saya rindu dulu saat awal-awal berkomunitas. Bertemu teman baru hingga akhirnya menjadi sebuah keluarga.

Salah satu yang saya rindukan adalah Olih. Orang yang selalu siap sedia atau pun menawarkan antar jemput. Semenjak ada Olih, perihal pulang malam aman. Jarak kosannya yang searah dengan rumah saya membuat segalanya menjadi mudah. Bahkan dia bisa tiba-tiba muncul layaknya superhero menawarkan tebengan saat saya tengah menunggu angkot di pinggir jalan.

Persahabatan terbentuk dengan sendirinya. Olih selalu ada di saat-saat saya tengah terpuruk sekali pun. Sialnya, di saat tanggul air mata saya jebol parah pun  tepat saat tengah bersamanya. Orang yang paling sabar saya jutekin dan marah-marahin tanpa sebab. Saat ini, saya rindu masa-masa dulu kita berlima membuat kegaduhan dan keanehan bersama di mana pun itu.

Mengenalnya dari Lovebooksalot yang kemudian pingin banget dianggap abang saya dengan ikut-ikutan panggil Kak Dane dengan sebutan Moms sama seperti saya. Semenjak Olih memutuskan untuk pindah ke Jogja, ya, memang saya kehilangan antar-jemput. Namun keputusannya untuk pindah ke Jogja memang yang paling tepat.

Di sana sekarang dia sudah cukup sibuk di tengah orang-orang hebat. Makin eksis dan banyak fans, tapi tetap jomblo. Untuk kalian yang mau pesan buku online atau sekadar kenalan sama beliau boleh dicek di akun Instagramnya @stanbukucom.

Sebuah komunitas memang tidak butuh jika hanya ada semangat di awal. Semuanya tergantung dari konsistensi semua kepala di dalamnya. Saya hanya bisa berdoa semoga Malam Puisi Bekasi bisa terus eksis dan konsisten. Saat ini saya juga sudah tidak bisa berkontribusi lebih banyak lagi. Tidak hanya di MPB, tetapi juga beragam komunitas lainnya. Saat ini saya hanya ingin menjadi penikmat, menanam segala pelajaran yang telah didapat, dan mengubur segala hal yang selayaknya dikubur dalam-dalam.





@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena