Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 24 Januari 2017

Goblin; Kisah-kisah yang Belum Selesai


Pertemuan denganmu sangat singkat, namun penantianku begitu lama.

Saya bukan bagian dari k-pop-ers atau Drama Korea addict. Saya hanya suka menonton film. Dulu, dulu sekali semasa SD, saya memang pernah nonton Drama Korea. Saat itu memang sedang menjamur beragam Drama Korea di televisi. Kisahnya yang lucu tapi penuh tangis haru-biru terkadang membuat orang sangat menikmatinya. Termasuk saya. Kala itu.

Sudah bertahun-tahun semenjak itu, saya tidak lagi berminat nonton film Korea, apalagi Drama Korea yang berseri. Semenjak yang terakhir saya tonton adalah 'Boys Before Flowers' entah tahun kapan. Kemudian, di akhir tahun 2016 lalu tanpa sengaja saya menonton film Korea yang berjudul 'My Bride, My Love'. Dan saya menangis. Kenapa? Bisa diklik di sini.

Beberapa minggu setelahnya, terjadi huru-hara di kalangan Drama Korea addict perihal Drama Korea yang berjudul Goblin. Saya tahu, sebab saya memiliki teman yang Korea addict pakai banget. Sungguh saya tidak berminat sama sekali. Hanya menyimaknya di linimasa sosial media. Dan tanpa sengaja pula, akhirnya saya merasa penasaran untuk mengintip sedikit episode satu. Dan, benar saja. Saya langsung menikmatinya.

Drama yang berkisah perihal cinta, pengorbanan, kebencian, dan kesetiaan ini disebut-sebut telah menggegerkan jagad per-drama korea-an. Drama serial yang terdiri dari 16 episode ini ditayangkan di chanel tvN. Kim Eun Sook selaku penulis naskah telah berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Tawa, tangis, hingga geram bercampur aduk menjadi satu di dalamnya.

Drama yang bergenre romance fantasy ini berkisah perihal cinta yang sedih. Seorang goblin (pelindung jiwa) yang telah hidup selama 900 tahun lebih lamanya berusaha mencari pengantinnya hanya untuk membunuhnya dan membuatnya tenang di alam baka. Adalah Eun Tak, seeorang siswi SMA yang hidup dalam penderitaan seorang diri hanya berteman para hantu yang bisa dilihatnya, dan ia adalah pengantin goblin.

Goblin hidup kaya raya dan tinggal bersama Malaikat Pencabut Nyawa yang bertugas mengambil jiwa orang-orang yang telah meninggal. Dunia kemudian mempertemukan mereka dengan Kim Sun, seorang gadis pemilik toko ayam yang sungguh cantik.

Kemudian masa lalu mulai terungkap. Kebencian kembali memuncak. Cinta dan kesetiaan mulai tergadaikan. Dan takdir, yang akan menentukan ending kehidupan di antara kisah-kisah yang belum selesai.

Ada kebencian dan masa lalu yang tumbuh di dalamnya. Ada kesetiaan yang terus tumbuh pada dinding waktu. Ada Dewi yang menjelma tua dan seketika menjadi muda. Kupu-kupu jelmaan Tuhan. Benar-benar fantasi, tapi menggugah imaji.

Drama yang berisi dendam sejak masa kerajaan Goryeo ini memiliki ending yang tak terduga. Kamu akan dibuat tertawa, kemudian air matamu akan dikuras habis, lalu senyum-senyum sendiri akibat baper, kemudian menangis lagi, lalu tertawa lagi, senyum-senyum lagi. Begitulah seterusnya.

Menikmati setiap episodenya, kita akan menemukan kisah-kisah yang belum selesai. Di beberapa bagian, akan ada pernyataan bahwa air mata di episode sebelumnya hanyalah sia-sia. Dan di bagian tertentu, akan muncul pula pernyataan begini dan begitu lainnya. Hingga ending pun, saya rasa masih banyak kisah-kisah yang belum selesai di sini.

Pada bagian-bagian tertentu saya benar-benar tersentuh dan sangat ingin menangis, namun entah mengapa air mata tidak pernah mau keluar. Saya sedih, tapi yang terasa hanya sesak. Apa air mata saya benar-benar sudah habis sejak kejadian belakangan ini? Entahlah.

Sebenarnya alasan saya menilik drama ini pun karena disebut ada sedih-sedihnya. Belakangan saya memang mengumpulkan film-film dan bacaan yang sedih-sedih untuk menemani sepi.

Ini bukanlah review, hanya sebuah ungkapan hati setelah menyaksikan kisah drama 16 episode ini. Tidak hanya berisi kisah cinta menye-menye semata, dari drama ini saya bisa menangkap berbagai makna perihal cinta dan perjalanannya. Perihal cinta yang sedih.

"Kesedihan terdalam pun tidak bisa bertahan selama seribu tahun, bahkan hal yang sama berlaku bagi cinta yang mendalam sekali pun."

"Aku tidak setuju."

"Tidak setuju yang mana? Kesedihan atau cinta?"

"Cinta yang sedih."

Di sini, ada perjuangan menemukan dan mempertahankan cinta. Bukan sekadar cinta terhadap pasangan. Ada kesetiaan. Mendapatkan sesuatu itu mudah, mempertahankannya yang sulit. 

Cinta, di saat kamu sudah berusaha sekeras dan semaksimal mungkin dengan berbagai cara yang baik, tetapi masih belum juga bisa kau genggam, percayalah, Tuhan telah mempersiapkan hadiah yang indah untukmu. Di saat kamu berdoa dan berusaha, tidak pernah ada yang sia-sia dalam hidup. Tidak pernah ada kesedihan yang abadi.

Di saat saya merasa sudah berusaha, bertahan, bahkan mengemis hingga pada titik klimaks, kini, saya hanya bisa pasrah sambil terus berdoa. Sebab Sekeras apa pun saya berusaha, jika Tuhan belum mengijinkan, segalanya hanyalah masih menjadi rahasia miliknya.

Percayalah, bahwa Tuhan selalu bersamamu. Ia tidak akan menukar segala hal dalam hidupmu, termasuk perkara jodoh. Jika memang jodoh, dipisahkan seperti apa pun, pastinya akan ada waktu di mana akhirnya akan tetap bersatu.

Jika jarak sudah membuatmu lelah, bertahanlah pada rindu. sebab ia tidak pernah lupa tempatnya untuk pulang. sejauh apa pun kamu pergi, ia akan mengantarkanmu kembali.


0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena