Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 04 Desember 2016

Sarapan Pagi Penuh Dusta; Dusta-dusta yang Semestinya


"Aku akan menunggu, tetap menunggu, sampai lumut tumbuh pada dinding waktu."

Sarapan Pagi Penuh Dusta merupakan salah satu judul cerpen di dalam buku ini dan dipilih menjadi judul buku ini pula. Buku yang berisi 15 cerpen (cerita pendek) ini merupakan cetakan ketiga yang diterbitkan oleh EA Books. 

Kelimabelas cerpen dalam buku ini sungguh menggugah selera untuk ditandaskan hingga halaman paling akhir. Membaca buku kumpulan cerpen ini tidak sedikit pun membuat mengantuk bahkan bosan. Selalu berselera melanjutkan dari satu judul cerpen ke judul cerpen lainnya dan menemukan banyak kejutan yang berbeda di setiap ceritanya.

Puthut EA memang selalu berhasil menuliskan sebuah cerita yang tidak terlalu berat, namun penuh kejutan tak terduga. Di setiap ceritanya memiliki sisi memikatnya masing-masing. Selalu memiliki makna yang juga membuat bertanya-tanya. Beberapa cerpen di dalam buku ini pernah diterbitkan di media massa.

Saya jatuh cinta (lagi) dengan karya Puthut EA. Pertama kali saya membaca karya Puthut  EA adalah sebuah novel berjudul “Cinta Tak Tepat Waktu” dan langsung membuat saya jatuh cinta pada karyannya. Sebuah cerita yang rumit namun juga sederhana. Memiliki konflik-konflik serta kejutan mengagumkan. Begitu pun saya temukan dalam buku kumpulan cerpen ini. Tidak salah, sebab karya-karya Puthut EA yang saya baca pun akhirnya selalu membuat candu.

Saya menyukai hampir seluruh cerita di dalam buku ini. Hanya ada satu cerita yang tidak berhasil saya nikmati, cerpen penutup yang berjudul “Sesuatu yang Mencekamku”. Bukan karena kelelahan saat membaca bagian paaling akhir buku ini yang membuat saya tidak cukup menikmatinya, mungkin justru karena saya belum berhasil memahami dengan baik cerita pada cerpen penutup ini.

Selebihnya, saya menyukai keseluruhan dalam buku ini. Ada cerita perihal sahabat, kekasih, keluarga, penantian, kehilangan, cinta tak semestinya, penyesalan, pengkhianatan, dendam, teror, sedih, kenangan yang masing-masing ceritanya memilki konflik batin tersendiri. Hal-hal yang semestinya dan tidak semestinya. Bisakah kita benar-benar menangkap sebuah perjalanan?

Jika luka yang ditoreh oleh benda di kulit saja sulit untuk dihilangkan bekasnya, apalagi yang ditoreh oleh peristiwa? Tapi sampai kapan? Bukankah setiap orang selalu berjalan dengan bekal peta sedih dan riangnya sendiri? – Apakah di Luar Telah Malam?

Pada judul “Perempuan yang Menunggu” menceritakan perihal perempuan yang menunggu. Selalu menunggu lelakinya pulang untuk kemudian pergi lagi. Selalu menunggu dengan penuh kesetiaan dengan kain terbaik untuk memyambutnya pulang. Meski sekalipun ia tahu jika sesuatu bisa terjadi dan tidak akan membawa lelakinya kembali pulang.

Menunggu memang tidak menyenangkan, namun jika kamu telah terlalu dalam menyayanginya, menunggu akan menjadi hal yang akrab denganmu. Namun percayalah, jika ia menyayangimu, ia tidak akan membiarkanmu untuk menunggu. 

Penyesalan, adalah bagian paling cepat dari segala yang bisa kita kenang, tapi jika berlarut, ia akan menjelma menjadi kutukan. – Perempuan yang Menunggu.

Cerpen yang berjudul “Bapa” merupakan sebuah cerita yang berisi keluarga, hormat dan kagum, dendam serta pembalasan.

Tumbuh menjadi dewasa, kadang-kadang memang tidak semudah anak-anak kecil berteman dan bergaul. Selalu tercipta jarak yang disebabkan entah oleh apa. – Bapa.

Pada cerpen yang memiliki judul sama dengan judul buku ini, “Sarapan Pagi Penuh Dusta” merupakan cerita perihal seorang anak dan ibunya. Sebagaimana halnya seorang ibu, menginginkan hal yang baik untuk anakanya. Termasuk perihal pertanyaan yang itu-itu lagi saat sang anak (terlebih perempuan) telah menginjak usia yang sudah sepantasnya dan menjadi seharusnya. 

Pertanyaan tentang kapan menikah terkadang memang menjadi sebuah hal yang serius tetapi juga tidak serius. Entahlah. Di satu sisi masih berfikir, di sisi lain ada sebuah tuntutan. Atau bahkan juatru keinginan yang sedang berperang dengan sebuah pemikiran.

Dan kelak aku harus terus menyiapkan sebuah nama, sekian dusta, ketika pulang bertemu ibuku, ketika sarapan pagi berjalan dengan nyaman. - Sarapan Pagi Penuh Dusta

1 komentar:

Yoga Akbar Sholihin mengatakan...

Baru baca buku Mas Puthut, "Para Bajingan yang Menyenangkan". Itu juga minjem temen, sih. Ehe. Bolehlah nanti beli yang ini. Dari judulnya aja udah keren betul. :D

Apalagi ada cerpen yang menyangkut ibu. Gue mungkin cukup sensitif. Tapi tema itu selalu jadi favorit. :')

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena