Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 16 November 2016

Apakah Mencintaimu Harus Sesakit Ini?

Senja di Gumuk Pasir Parangkusumo

Kita pernah saling mencintai. Kita masih saling mencintai. Sampai detik ini dan entah hingga kapan. Pada akhirnya, kata-kata indah yang pernah terucap hanyalah duri yang perlahan saling menyakiti.

Pada akhirnya aku tahu, bahwa kita tidaklah benar-benar ditakdirkan untuk bersama. Setelah masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama, kenangan-kenangan itu nyatanya hanyalah layak tersimpan dalam sebuah kotak pandora yang harus dikubur dalam-dalam. Nyatanya, mimpi-mimpi yang pernah kita bangun bersama, akhirnya harus kita bunuh agar tak lagi menyisakan harap.

Seerat apa pun aku mendekapmu, nyatanya takdir Tuhan lebih berkuasa. Seharusnya aku sadar untuk mencintaimu sekadarnya dan mendekapmu sewajarnya, sebab ketika segalanya telah sangat erat, luka pun akan lebih dalam saat harus melepas.

Jika mencintaimu adalah harus dengan melepaskanmu, mungkin inilah cara aku mencintaimu. Jika mencintaimu adalah harus dengan segala laku yang menjadi luka, mungkin inilah caraku mencintaimu. Bertahan dan menggenggam nyatanya tak lebih kuat dari pada takdir yang berjalan. Pada akhirnya, melepaskanmu adalah satu-satunya pilihan agar tidak ada lagi yang harus merasa tersakiti. Meski melepasmu adalah sakit itu sendiri.

Waktu terlalu cepat berlalu dan mampu merubah segalanya. Termasuk membunuh mimpi-mimpi yang hanya akan menjadi sebatas rencana lalu dikubur dalam-dalam. Tahun lalu baru berencana, tahun ini mari kita menguburnya bersama.

Apakah pada detik sebuah keputusan untuk berpisah telah kita sepakati itu, kita masih saling mencintai?

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena