Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 07 November 2016

23th My Birthday


Rasanya baru kemarin masih minta uang jajan sama Ibu. Rasanya baru kemarin punya koleksi barbie dan main masak-masakan dengan koleksi lengkap. Sekarang, sudah ditagih kapan lulus dan kapan menikah.

Ibu, Bapak, tidak perlu terlalu khawatir pada anakmu ini. Memang orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun percayalah, jika Tuhan sudah menggariskan semuanya. Yang terindah bagi umatnya.

Dua puluh tiga tahun memang berlalu dengan cepat. Secepat hati yang bahagia lalu berubah menjadi murung. Secepat cinta yang hadir lalu tiba-tiba pergi.


Kisah ini memang berniat akan dituliskan, namun saat paket ini datang, rumah sedang dalam keadaan direnovasi dan mengakibatkan tidak memungkinkannya mengambil gambar untuk mendukung tulisan ini. Sebelumnya memang sudah berniat menuliskan kisah ini lebih manis dari gula, namun nyata tidak seindah ingin. Nyatanya saat gambar-gambar untuk mendukung tulisan ini sudah dimiliki, kini aku diharuskan menulis cerita ini tidak lagi menggunakan perasaan yang berlebih.

Meski sudah lewat 87 hari yang lalu, kisah ini memang sudah seharusnya dituliskan. Entah untuk dikenang atau sekedar rasa terima kasih pada orang pernah peduli padaku.

Lima hari sebelum hari ulang tahunku, tepatnya pada 7 Agustus 2016 ada yang tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan via telepon meski yang menelepon sedang berada di daerah susah sinyal.

"Ulang tahun besok mau kado apa?"

Sebenarnya tahun-tahun sebelumnya pun selalu ditanya mau kado apa, tapi ditanyanya pas hari H dan dikasihnya selalu lewat bulan. Meski selalu menjawab tidak ingin hadiah apa-apa, karena bagiku ada yang lebih berarti dari sekadar sebuah hadiah berbentuk barang. Tahu nggak? Harusnya sih tahu ya. Tetapi kali ini langsung menjawab,

"Lagi kepingin boneka super besar yang bisa dipelukin kalau sedang rindu."

Saat mengatakan itu sebenarnya tidak benar-benar meminta hadiah, hanya sekadar refleks mengatakan hal yang sedang diinginkan akhir-akhir ini.

Kemudian, satu hari sebelum hari ulang tahun, tepatnya 11 Agustus 2016, datanglah sebuah paket besar. Sebenarnya hari itu sedang ngambek, tetapi ketika paket sebesar ini datang jadi tidak tega untuk tidak angkat-angkat skype yang sudah berkali-kali diabaikan. Inginnya bilang "terima kasih" saja sudah cukup, lalu mau diemin lagi, tapi kalau ingat perjuangannya dari cari barang ini sampai pengiriman yang biaya ongkirnya hampir seharga barangnya sendiri kok ya nggak tega lagi. Karena memang tidak bisa marah lebih lama pada orang yang disayangi. Saat itu. (Padahal nggak tahu juga harganya berapa).



Saat sampai, paketnya terbungkus kardus besar yang sangat berantakan tampak luarnya, mulanya sudah membatin, "nggak manis banget sih, nggak dibungkus dengan rapi." Namun setelah dibuka ternyata ada sebuah bungkusan yang dibungkus rapi dan cantik sekali dari @chapywrapping_giftshop Yogyakarta.

Yang kali ini tidak telat lagi, tetapi lebih cepat. Dan mungkin ini adalah hadiah terakhir yang akan aku terima darimu. Terima kasih. Terima kasih. Sangat.





0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena