Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 23 Juli 2016

Travelmate; Sepenggal Senja di Jepara


Pantai Bandengan

Kabupaten Jepara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di pantai utara timur Jawa Tengah. Bagian barat dan utaranya dibatasi oleh laut jawa. Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan dan berbatasan dengan Kabupaten Pati serta Kudus. Kepulauan Karimunjawa yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya pun masih merupakan wilayah dari Jepara.

Sebagian besar wilayahnya yang merupakan laut ini membuat Jepara kaya akan wisata pulau dan pantainya. Bukan hanya memiliki wisata pulau dan pantai, Jepara juga memiliki beragam wisata seperti, wisata sejarah, budaya, religi, air terjun,  kuliner, dan masih banyak lagi.

Niat hati ke Jepara ingin mengeksplore Karimunjawa, namun setelah sebelumnya googling-googling dan mencari beragam informasi, ternyata jadwal penyebrangan kapal yang diinginkan tidak sesuai. Mungkin di perjalanan selanjutnya saya akan eksplore Karimunjawa. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam satu malam saja di Jepara untuk sekadar melihat-lihat.

Banyak sebenarnya yang bisa dieksplore di Jepara, maka dibutuhkan waktu yang banyak pula jika ingin menjelajahi setiap lekuk kota ini. Kami menyambangi Museum Kartini yang terletak di pusat kota atau tepatnya di sebelah utara alun-alun Jepara.

Museum ini terdiri atas tiga buah gedung. Bila dilihat dari atas, maka gedung tersebut berbentuk huruf K T N yang merupakan singkatan dari KARTINI. Untuk masuk ke museum ini dikenakan biaya Rp 4.000 per orang. Hari senin tidak banyak pengunjung. Hanya terlihat satu keluarga yang sedang melihat-lihat di dalam. Asyiknya liburan ketika bukan di hari libur itu ya begini. Sepi dan nyaman.




Setelahnya kami melanjutkan tujuan ke Pantai Bandengan. Di pintu masuk akan dikenakan biaya Rp 10.000 per orang. Cukup mahal untuk wisata pantai yang biasa saja ini sesungguhnya. Ketika sudah membayar, petugas tidak memberikan tiket sebagai tanda masuk sebagaimana yang sudah seharusnya. Ini pasti permainan licik dari para petugas, uang yang masuk tanpa tiket yang berkurang akan menguntungkan kantung pribadi mereka sendiri.

Tiba di Pantai Bandengan, kata yang terlontar dari mulut saya adalah “begini doang?” Sebuah pantai yang biasa saja tanpa memiliki daya tarik apa pun. Berhubung tidak ada yang bisa dilakukan, akhirnya memutuskan mencari makan untuk mengisi perut. Setelah keliling mencari tempat asik, akhirnya kami memilih tempat makan yang terletak hampir di ujung barat pantai. Tempatnya asik meskipun sederhana. Di tempat ini kita bisa memilih langsung ikan dan jenis seafood lainnya. Di belakang warung juga ada tempat penangkaran lobster. Makan ikan bakar dengan menghadap hamparan laut lepas itu asikk.


Makan siang yang terlambat

Waktu menunjukkan bahwa matahari akan tenggelam sebentar lagi. Sebenarnya ingin melanjutkan ke Pantai Kartini, tetapi ketika melihat view langit dari tempat kami makan, sepertinya tempat ini merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan matahari tenggelam.




Selesai makan kami masih duduk-duduk di tempat, memandangi matahari terik yang perlahan berubah menjadi teduh. Benar saja, matahari terbenam di tempat ini sungguh begitu indahnya. Belum lagi kami beruntung memilih tempat dengan view yang pas tepat di hadapan matahari terbenam.

Hamparan laut luas yang memantulkan rona kemerah-merahan dari senja yang perlahan menyerahkan diri menjadi satu ke dasar lautan. Betapa indah dan romantisnya pantai ini saat senja tiba. Sepertinya pantai ini bisa mempromosikan wisatanya dengan mengandalkan eksotisme yang dihadirkan oleh senjanya. Dengan begitu akan banyak orang yang tertarik dan tidak terlalu merasa rugi untuk membayar Rp 10.000 untuk masuk ke tempat wisata ini.







Senja di Jembatan Cinta

Penginapan yang saya pilih terletak tepat menghadap Pantai Teluk Awur. Pantai yang juga biasa saja sebenarnya. Tetapi di Pantai ini tidak dikenakan biaya masuk, hanya biaya parkir sebesar Rp 2.000. Banyak pedagang yang menjajakan beragam jajanan di tempat ini dan juga di depan hotel.

Saat malam saya penasaran dengan daerah sekitar. Melihat instagram, banyak sekali tampaknya spot asik untuk berfoto. Akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan malam menyusuri pantai. Sepanjang pantai yang kami susuri, tidak ditemukan tempat-tempat yang terdapat di instagram. Tibalah di depan sebuah tempat serupa café yang mengapung ke arah pantai. Tempatnya romantis dan fotoable. Sayangnya tempat itu tidak untuk umum, hanya khusus untuk tamu yang menginap di Oceanview Hotel.

Jepara Beach Hotel di malam hari

Jika saja tempat itu dibuka untuk umum, pasti akan menjadi spot yang menarik bagi wisatawan yang ingin menghabiskan malam menikmati pantai di Jepara. 

Jepara Beach Hotel menyajikan view yang juga asik ketika sarapan. Ruang makan outdoor menghadap pantai dengan kolam renang di sudut kanannya memang cukup menarik untuk melahap sarapan di tempat ini dibanding meminta sarapan diantar ke kamar dan bermalas-malasan di dalam selimut.

Selamat sarapan





Setelah sarapan, kami langsung menuju ke Pantai Kartini. Hal yang sama terjadi lagi di tempat ini. Per orang akan dikenakan biaya Rp 10.000, tetapi tiket lagi-lagi tidak diberikan. Apa semua wisata di Jepara bersistem seperti ini? Sistem ini harus benar-benar diluruskan agar tidak menguntungkan segelintir pihak.


Pantai Kartini juga tidak seperti yang dibayangkan. Tempat ini lebih ramai oleh para pedagang. Di tempat ini ada icon yang mencolok. Kura-kura ocean park merupakan sebuah museum yang berisi mengenai kehidupan bawah laut. Untuk masuk ke dalam dikenakan biaya Rp 20.000 per orang.

Kura-kura Ocean Park

Dari Pantai Kartini ada kapal yang selalu siap mengantarkan kita menyebrang ke Pulau Panjang. Pulau yang juga menarik untuk dikunjungi tanpa memakan waktu yang lama. Tampaknya penyebrangan ke Karimunjawa juga terdapat di sini, tetapi mungkin berbeda pintu masuk.

Kapal yang akan mengantar ke Pulau Panjang
Pulau Panjangnya kelihatan tuh di belakang

Tidak banyak hal yang dapat dilakukan di tempat ini selain melihat-lihat dan jajan. Di tempat ini banyak pedagang yang menjual ikan asin dan ikan kering yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Ada juga sebuah kolam renang untuk anak-anak. Di tempat ini juga banyak tempat parkir yang dikelola secara individu. Tidak tanggung-tanggung, untuk satu motor saja dikenakan biaya parkir sebesar Rp 10.000.


Di sepanjang jalan menuju dan di Jepara, kita juga akan menemui banyak penjual es buah rumput laut. Porsinya besar. Semangkuk bakso penuh sampai luber-luber. Asiknya makan es buah rumput laut di pinggir sawah setelah panas-panasan dan kelelahan akibat perjalanan jauh. Rasanya teduuuh sekali.



Hanya sedikit tempat yang dapat dikunjungi saat di Jepara. Sebenarnya banyak sekali tujuan yang sudah masuk list seperti, Benteng Portugis, beragam air terjun, hutan karet, dan lain-lain. Selain waktu kami yang terbatas sebab malamnya harus tiba di Stasiun Tawang untuk pulang kembali pada rutinitas, ditambah otot-otot dan syaraf kaki yang masih belum bisa lurus-lurus banget setelah turun dari Gunung Andong.



Jika sukab mencuri senja untuk Alina,
Kita bisa mencuri senja bersama



@fetihabsari
__♡__


*seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi

2 komentar:

Hamid Anwar mengatakan...

Hotelnya lumayan.. Mau ke Jepara juga, ah

Hamid Anwar mengatakan...

Hotelnya lumayan ya. Mau ke Jepara juga, ah

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena