Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 06 Maret 2016

Teruntuk, perempuan yang tengah patah hati...



Patah hati itu sakit. Iyaa, sakit. Pedih. Iya, pedih. Kehilangan itu seolah menelan kulit durian berduri lancip bulat-bulat. Tidak mungkin, tetapi harus. Tidak bisa, tetapi sudah terjadi. Pada akhirnya, sakitlah yang didapat.
Teruntuk, perempuan yang tengah patah hati, kamu tidak sendiri, Allah tidak tidur. Ditinggalkan bukan artinya kamu tidak lebih baik dari yang lain. Dipatahkan bukan berarti kamu tidak pantas untuk dipertahankan. Hanya saja Allah lebih mencintaimu. Sedih dan air matamu tidak pantas untuk membayar kecintaan Allah padamu.
Teruntuk, perempuan yang tengah patah hati, lepaskanlah jika bertahanmu tak lagi dihargai. Ikhlaskanlah jika sabarmu tak pernah lagi berarti untuknya. Jika keyakinanmu masih pada tahap menunggu yang selalu tanpa hasil, sampai kapan kamu akan menunggu dan terus menunggu? Apa yang kamu tunggu? Perubahan darinya? Sampai kapan? Sampai hatimu mati rasa atau bahkan hilang tak tersisa? Cintailah dirimu, waktumu, terlebih hatimu sendiri.
Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Masih ingat sebuah kalimat, ‘Kalau jodoh, tidak akan lari ke mana.” ? Jadi, jangan khawatir. Allah selalu punya kejutan indah untukmu. Jika kamu kehilangan dia yang selalu tersebut dalam doamu, mungkin kamu akan dipersatukan dengan dia yang selalu menyisipkan namamu di setiap sepertiga malam miliknya. Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik. Jangan bersedih, Allah selalu punya cara.
Jadi, ingin merayakan patah hati dan kehilangan yang sama dengan ritual yang sama lagi? Naik gunung, misalnya? Hari gini patah hati masih pakai ritual galau mengurung diri dan menangis berhari-hari di kamar? Nggak gahul deh.
Merasa sedih dan hancur ketika patah hati dan kehilangan itu boleh kok, wajar. Tapi bukan berarti kamu harus terus-menerus meratapi nasib itu kan? Bukannya semakin baik, kamu malah akan semakin terlihat mengenaskan dan menyedihkan. Sekarang, sudah saatnya mengisi waktu galau dengan cara menyibukkan diri pada hal-hal yang positif. Menjadi relawan, misalnya. Atau bahkan berolahraga?
Kenapa harus olahraga? Di samping membuatmu lupa dengan masalah hatimu yang sedang patah berkeping-keping itu, kamu juga bisa menguapkan emosimu dengan kegiatan-kegiatan olahraga itu. Sudah sehat, lega pula perasaan. Olahraga sekarang ini sudah menjadi salah satu gaya hidup yang sudah masuk dalam daftar aktifitas orang-orang. Selain karena gaya hidup, kesehatan sudah menjadi hal yang wajib untuk dijaga dan salah satu caranya ialah dengan berolahraga.
Semisal kamu naik gunung, jika kamu fokus, boro-boro ingat si hati yang sedang patah, fokusmu akan tertuju pada keindahahan semesta, emosimu bisa menguap melalui keringat juang agar sampai puncak, kesepianmu akan terobati bersama teman-teman seperjuangan sependakian.
Jika kamu masih meragukan kemampuanmu untuk mendaki gunung, kamu bisa sekedar berlari mengelilingi kompleks rumahmu. Dijamin emosimu akan menguap dan tubuh pun akan semakin sehat. Yoga juga bisa membuatmu tenang dan merasa lebih relaks. Emosimu akan lebih mudah diatur, bukan lagi yang meluap-luap yang bahkan ingin makan orang segala. Dan beragam olahraga lainnya yang kaamu minati dan memungkinkan untuk kamu lakukan.
Jadi, masih jaman galaunya nggak produktif dan hanya menangisi diri sendiri? Duh, payah aah.
Yuk, berpositif! Yuk, olahraga! Untuk melakukan aktifitas ini, sebaiknya kamu gunakan pakaian yang nyaman dan tidak mengganggu gerakanmu. Hati sudah patah dan luka habis-habisan, jangan sampai kakimu ikutan cedera juga ya gara-gara celana yang kamu pakai mengahalangi gerak bebasmu. Cukup hati saja yang sudah terluka. Yang lain, jangan!
Pakaian yang nyaman itu ya yang tidak menghalangi gerak-gerikmu saat melakukan aktifitas olahraga. Seperti celana training misalnya. Untuk memilih celana training yang bukan hanya nyaman dan bagus, tapi juga pastinya tetap fashionable dong. Solusinya ya cuma di ZALORA.







@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena