Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 28 Februari 2016

Mini Reunion

Rezeki anak sholehah


Beberapa hari ini sedang tidak enak badan, merasakan radang yang menusuk tenggorokan hanya karena salah makan jajanan, bukan hanya perasaan saja yang sensitif, tapi tubuh juga. Ditambah hidung meler dan mampet dengan sedikit batuk. Belum lagi suasana hati yang lagi kesepian. Udah sakit, butuh perhatian, yang ada malah kesepian. Tambah pusing deh kepala pincess. Duuh jadi bablas curhat. Tiba-tiba ada whatsapp masuk.
“De, sabtu minggu kosong nggak?”
“Hhmm.. Sabtu siang itu rencana ada meeting Komunitas Taufan, malamnya ada undangan dari Komunitas Teman Ngopi.”
“Sibuk mulu sih.”
Minggu lalu, yang bersangkutan juga whatsapp menanyakan lagi di mana, dan saat itu ya saya lagi ada di Ancol, acara CAF 2016. Yang bersangkutan disuruh nyusul ke Ancol malah nggak mau dengan alasan males panas sebab lagi perawatan kulit. Iyuuh banget nggak tuh.
Setelah di PHPin entah berapa ratus kali oleh orang ini, akhirnya tepat juga untuk bertemu. Meski dengan kondisi badan yang lagi nggak enak, berangkat juga menemui orang yang sekarang sudah jadi tamu jauh dari Palu ini.
Dipostingan-postingan saya yang dulu, dulu banget, kira-kira sekitar tahun 2013 lah saya sering menulis tentang manusia satu ini. Seorang drummer salah satu band yang jago nulis dan dia penulis loh. Jelas nggak pada percaya sih, calon pendamping hidupnya saja nggak percaya kok.
Oke,  jadi si drummer yang penulis ini sekarang sudah pindah haluan jadi PNS yang ditempatkan di kota Palu sana. Jauh. Iya, jauuuh. Manusia yang katanya mau menyukseskan misi jomblo selama tiga tahun ini, akhirnya nggak bisa juga kan tahan jomblo lama-lama. Dasaar lelaki memang. Dan ternyata calonnya ini ada di Balikpapan yang artinya, ciieee penganut LDR. Palu-Balikpapan.
Akhirnya hari itu pun bertemu di Gramedia Matraman. “Kangen liat jejeran buku-buku yang banyak. Di Palu nggak ada gramedia masa.” Begitu alasannya kenapa ngajakin ketemu di toko buku.
Seperti biasa, orangnya ngaret. Dan untungnya lagi ada diskonan buku. Niatnya nggak mau beli buku, sebab buku yang belum dibaca masih banyak banget di rumah. Berapa banyak? Ratusan. Tapi memang dasar ya perempuan. Saya paling nggak bisa tahan lihat diskonan buku dibanding lihat diskonan baju, tas, sepatu dan apalah itu lainnya.
Yang ngajakin ketemu datang juga setelah menunggu 30 menit lebih. Nggak bisa dibilang menunggu juga sih,  sebab saya asyik memilih buku dan ternyata beban di tangan saya sudah berat dengan beberapa tumpukan buku. Duh yaaa, gagal niat nggak beli buku. Tetapi, memang deh rezeki anak sholehah, sampai kasir, ada yang bayarin pake debit, katanya ‘udah sini ah, bosen nih liat digit yang itu-itu aja.’ Hhhmmm baiklaah.
Kelar bayar, lanjut makan siang yang sebenarnya sudah sore itu. Lagi-lagi ditraktir. Alhamdulillah yaa. Sering-sering ajalah pulang ke Jakarta terus ngejajanin. Ahahahaa. Ngobrollah beragam obrolan. Yang intinya, kok bisa LDRan sama yang di Balikpapan? Dan jawabannya, benar-benar menarik dijadikan judul novel. Siip, tulis yaa.
LDRan Palu-Balikpapan tapi sering ngapel, gileee, duit ditabung keleus buat mahar. Hahaha.
“Om, LDRan gitu selalu komunikasi?”
“Iyalah, selalu telponan.”
“Telponan setiap hari?"
"Iya."
"Sesibuk apa pun itu?”
“Iya, dalam sehari pasti telpon. Sering aku kalo sibuk di kantor malah aku yang nelpon. Kalo malem gitu nelponnya udahan ya pasti gara-gara ketiduran.”
“Hoooo,,, gitu yaa, selalu yaa.” Saya cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil ngenes sendiri. Nggak tau apasih yang dingenesin. Mungkin suasana hati saya yang beberapa hari ini juga sedang ngenes tapi dengan kasus yang berbeda. Yaa gitu deh.
Kelar makan, kita ke atas, cari buku lagi. Dan, lagi-lagi saya yang malah beli buku, walau di atas buku tanpa diskonan. Hedeh. Keliling-keliling cari novel FIND LOVE atau setidaknya Delapan Sisi lah____novel dan kumcernya doi tuh____tapi stoknya sudah tidak ada. Sudah ditarik dari peredaran mungkin. Eeh. Niatnya kan mau cari itu novel dan sekalian selfie bareng sama penulisnya.
Capek keliling-keliling, akhirnya memutuskan untuk pulang karena sudah sore juga. Sampai bawah, saya baru ingat.
“Iihh, kita belum selfie!!"
Dengan gaya sok ngartisnya itu, “hahhaa ayo deh mau selfie di mana? Susah sih ya klo artis keren begini.”
“Iyuuuuh!!! Harusnya di atas tadi tuh tempat buku-buku.”
Dan, demi selfie, akhirnya kita naik lagi ke atas, padahal kaki udah pegel minta diselonjorin. Demiiiiii!!!



Finally, thanks, om akhirnya nggak di PHPin lagi setelah terakhir ketemu itu entah berapa abad yang lalu. Ditunggu ya undangan dan tiket PPnya. Siap terbang aku mah. Sehat-sehat, selalu bahagia, dan dimudahkan segala sesuatunya. Buang tuh jauh-jauh yang namanya rokok.
Sampai rumah ternyata ada paket buku. Hadiah giveaway dari Malam-Malam Terang nya Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi. Kisah dalam novelnya seperti apa? Tunggu postingan reviewan bukunya yah.

Lagi-lagi, rezeki anak sholehah...



0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena