Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 17 Februari 2016

[Buku] Onrust; ziarah cinta - S Arimba

Onrust; Ziarah Cinta
Kumpulan Puisi
S. Arimba

Cover: Shohifur Ridho Illahi
Pracetak: Sukandar
Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh: Interlude, 2015, Yogyakarta
cetakan pertama, 2015
xxiv+ 68 hlm; 13,5 x20 cm
ISBN: 978-602-73873-0-0


SEBAB PUISI DICINTAI

Sebab puisi dicintai, kucintai kau
dan kutulis bait-bait yang rapat seperti bulir hujan
tak ada yang perlu dikhawatirkan sebab yang indah tak mudah berubah
dalam kenanganku, dalam relung batinmu

Sebab puisi seperti filsafat, kupahami engkau
kata-kata yang tak sederhana seperti cinta
meski rasa sakit lebih mudah dituliskan
tapi kebahagiaan adalah hal yang sepadan

Sebab puisi tak lekang jaman, kuabadikan dirimu
dalam jiwa, dalam doaku

Sebab puisi dicintai, kucintai kau


Selain membaurkan yang mati dan yang hidup, yang lalu dan yang nanti, sajak-sajak dalam kumpulan ini juga membaurkan yang lahir dan yang batin, dalam posisi saling melengkapi, tanpa terlalu berdiri di satu sisi, sehingga tidak terjadi ketimpangan. Keduanya dijalin dalam imbang dan setara sehingga pembaurannya menjadi unik dan menarik.

Pada kumpulan sajaknya terdahulu, S. Arimba memberinya judul Obituari Rindu, dan dekat dengan itu, kumpulan sajak terbarunya kini diberi judul Onrust: Ziarah Cinta, yang merupakan penyatuan dari dua judul sajak. Bertautan dengan kematian, obituari adalah berita, ziarah adalah peristiwa atau laku, dan onrust adalah tempat. Motif apa yang mempengaruhi penyair ini memilih diksi yang karib dengan kematian, apakah kematian itu memang berhasil muncul dalam sajak-sajaknya, bilakah iya, kematian seperti apa yang dimaksudkan dalam kumpulan puisi terbarunya ini, atau jangan-jangan justru sejumlah sajaknya mengalami kematian karena ketidakberhasilannya? Yang menarik pula untuk dilihat, mengapa diksi-diksi yang berkaitan dengan kamatian itu dihubungkan dengan hal-hal yang justru lebih dekat dengan daya kehidupan, semisal rindu dan cinta.  Asef Saeful Anwar - kritikus sastra


***

Setelah sebelumnya menetaskan kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berjudul Obituari Rindu, buku kumpulan puisi terbaru karya S Arimba -Onrust, ziarah cinta-  ini masih bercerita hal-hal yang mungkin sama. Bahwa rasa sakit lebih mudah untuk dituliskan. Sebuah perjumpaan, perjalan, pengembaraan, hingga tiba pada sebuah ziarah yang dibajiri rindu. Ziarah cinta, entah ziarah seperti apa yang dimaksud, perihal cinta seperti apa yang telah mati atau bahkan bangkit kembali. 

Kita dapat melihat lebih dalam  kematian dalam buku ini, yang terdapat lima puluh sembilan puisi antara rentang 2013 sampai 2015.

“Tapi memang kesedihan lebih mudah dituliskan, seperti dalam Obituari. Siapa yang mau hidup dalam kenyataan dunia yang sedih, semua orang ingin gembira, semua orang ingin bahagia, tapi puisi? Tidak. Kalau isi puisi tidak sama dengan hidup sebenarnya maka harus bersyukur, karena hidup berarti bahagia dan baik-baik saja.” Begitulah katanya.


Jika berminat, Onrust; ziarah cinta bisa didapatkan dengan harga Rp 30.000
Untuk pemesanan dapat menghubungi ;
Feti : 085780844967
Jual Buku Sastra : 081802717528 / pin BB : 5A09B80A




0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena