Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 06 Desember 2015

Weekend ?



Enam puluh detik dalam satu menit, enam puluh menit dalam satu jam, dua puluh empat jam dalam satu hari, tujuh hari dalam satu minggu. Semua sama. Setiap jam, menit, bahkan detiknya adalah sama. Berarti atau tidak, itu kembali padamu. Nyatanya, waktu yang berjalan cepat atau lambat adalah sama saja. Tidak ada bedanya. Untuk sebagian mereka mungkin benar, tetapi untuk sebagian lainnya bisa jadi tidak.

Bukankah diantara weekdays telah diciptakan weekend yang begitu ditunggu dan diharapkan? Dua hari atau bahkan satu hari dalam tujuh hari.

Weekend adalah segala hal perihal bahagia. Bangun siang, bermalas-malasan di kamar, tumpukan buku, melahap segala bacaan, berorganisasi, berkomunitas, bersosialisasi, menemui seseorang yang datang dari jauh dan lama tidak bertemu, atau sekedar mengobrol lebih dari biasanya, bertukar cerita yang selama enam hari telah disimpan untuk diungkapkan di hari santai dengan saling antusias, melangkah ke toko buku dan kemudian menemukan banyak tumpukan boneka yang dijual. Apakah toko buku sudah berubah fungsi menjadi toko boneka? Anything. That you are happy.

Sebab weekend tercipta untuk merefresh segala lelah, penat, sesak dan pertahanan perihal kesibukan, atau bahkan menuntaskan rindu, misalnya? Nyatanya terkadang weekend tidak terlalu berarti untuk sebagian mereka. Ada yang menyisakan sesak di akhir cerita dengan menjejalkan angan dan mengambangkan harapan semisal.

Waktuku adalah milikmu, tapi waktumu tetaplah milikmu. Waktu sama seperti kesetiaan, mereka adalah kesediaan, bukan tuntutan. Aku menyediakan, tapi tidak berhak menuntut.




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena