Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 22 Desember 2015

Surat Cinta Untuk Ibu



Untuk, Ibu....
Yang selalu ada kapan dan di manapun. Yang selalu siap berkorban dalam hal apapun. Yang selalu rela melakukan apapun. Tidak ada keluh meski peluh membanjiri. Tidak ada air mata meski tangis tengah meledak dalam dada. Semua dilakukannya demi seorang anak. Anak yang selama sembilan bulan menyatu dalam tubuhnya, yang telah menjadi bagian dari seluruh hidupnya.

Ibu, 
Aku mencintaimu, menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Tidak pernah terucap memang segala cintaku. Tidak pernah terlaku memang segala sayangku. Tetapi, di sini, di dalam jiwa dan raga ini menyimpan seluruh cinta dan sayang untukmu. Tidak pernah pudar sedikit pun. Bertambah, selalu.

Ibu, 
Maafkan anakmu yang tidak tahu malu ini. Maafkan anakmu yang tidak pernah tahu berterima kasih. Maafkan anakmu ini yang selalu membangkang. Maafkan anakmu ini yang tanpa kau tahu telah membohongimu. Meski kuyakin, sedikit apapun kebohongan yang kulakukan padamu, pasti akan kau ketahui dengan segera.

Ibu, 
Aku memiliki angan dan harap. Untuk tumbuh demi membahagiakanmu. Aku membangun mimpi-mimpi kecil yang belum juga terwujud hingga kini. Dua puluh dua tahun kasih sayangmu tidak pernah berkurang sedikit pun untukku. Dua puluh dua tahun aku bernafas dengan seluruh cinta yang kau beri.

Ibu, 
Di setiap detik jarak yang mulai memisahkan kita, aku memendam segala resah dan sesak dalam dada. Rapalan doa dan harap perihalmu tidak pernah lepas. Jika harus ada yang pergi lebih dulu, kumohon biar aku saja. Aku tidak akan pernah siap untuk kehilanganmu, ibu....

Ibu,
Aku berfikir perihal masa depan. Jika tiba saatnya seseorang memintaku padamu untuk mendampinginya, menemani sisa hidupnya, dan kutahu kau pasti akan melepasku. Demi kebahagiaanku. Melepasku tanpa sedikitpun melepas rasa cinta dan kasih sayangmu terhadapku. Aku tahu disetiap rapalan doa di sepertiga malammu selalu ada aku. 

Ibu, 
Aku tahu ibu lelah, aku tahu ibu sakit, aku tahu ibu bosan, tapi apa yang bisa kulakukan? Hanya bersikap cuek seolah tidak peduli itu semua. Maafkan aku, ibu....

Aku tahu ibu lelah. Sepulang kita berjalan-jalan, ada setumpuk pekerjaan rumah yang telah menantimu. Kemudian kau melihatku memijit-mijit pundakku sendiri. Tanpa banyak bertanya kau hampiri aku dan kau pijit seluruh tubuhku dengan penuh kasih. 

Ibu,
Aku ingin selalu menjadi anak kecilmu yang selalu berlindung dibawah ketiakmu. Aku ingin selalu kau buatkan susu dan kau temani tidurnya. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu.

Aku ingin selalu dalam pelukanmu, Ibu....
Aku mencintaimu, Ibu...



@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena