Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Senin, 07 Desember 2015

Senja, cinta, dan kita...


Gumuk Pasir Parangkusumo


Senja selalu punya cerita, perihal cinta yang tanpa syarat, tentang kita yang terpisah jarak. Kemudian ada jutaan hingga miliaran rindu yang menjejal. Membuat sesak. Tetaplah di sini, di sisiku. Berayun dalam distorsi yang seirama.

***

Tetaplah di sini, Sayang, tetaplah di sisiku.

Bisakah kita duduk bersisian, menikmati senja yang masih hangat dengan secangkir teh yang masih mengepul? Berdiskusi perihal mimpi-mimpi yang akan kita bangun bersama. 

Izinkanlah aku barang sejenak bersandar di bahumu, terbenam dalam pelukanmu, dan luruh dalam kecupanmu.

Kamu yang dengan sabar menghadapi perempuanmu saat ia diserang badai ngambek. Perempuanmu yang dengan sabar menunggu waktu atas perhatian darimu.

Mungkin kita sudah terlalu lelah dengan segala drama kehidupan. Tetapi kuharap kita tidak akan pernah lelah untuk terus saling mencintai dan memahami.

Tetaplah di sini, Sayang, di sisiku.

Senja memang akan segera berakhir, tetapi kisah kita akan selalu baru untuk dimulai. 

Tetaplah di sini, Sayangku, di sisiku.

Ini bukanlah senja terakhir untuk kita. Akan selalu ada senja yang lain dengan kisah yang juga berbeda.

Tetaplah di sini, Sayangku, di sisiku.

Mencintai tiada habisnya, menyayangi tiada batasnya.

Tetaplah di sini, Sayangku, di sisiku.

Kita susun bersama kisah tentang senja, cinta, dan kita...




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena