Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 22 Desember 2015

Atomic24 - first reunion


Atomic24 (Assosiation of Master in Chemical) mempersembahkan first reunion....





Postingan ini adalah sebuah tulisan yangbterlambat untuk diposting. Lebih baik telambat kan dari pada tidak sama sekali.

Reuni ini diadakan pada bulan Mei 2014. ((Reunion)) berasa sudah lulus beberapa tahun yang lalu banget sih ya kayaknya pakai reunian. Padahal, kita baru saja lulus dua tahun yang lalu kan? Ciyeeeee berasa masih muda...


Ngapain sih pakai ada acara reunion ini? Jelas dong pastinya untuk terus menjaga tali silaturahmi terlebih hubungan kekeluargaan yang telah kita jalin selama hampir kurang lebih enam tahun ini.

Rindu masa-masa putih abu-abu? Saya pikir, saya tidak akan pernah merindukan masa putih abu-abu itu setelah memasrahkan masa putih abu-abu saya di sekolah itu. Bagaimana dengan kalian, Atomic yang lain? Tapi nyatanya saya salah. Saya merindukan. Merindukan masa-masa itu. Merindukan kalian semua kawan.

Ingatkah segala cerita tentang cita dan juga cinta yang telah terangkum selama empat tahun kita? Kita pernah merasa menjadi alien di planet sendiri. Dimulai dari seragam sekolah rok abu-abu yang ngatung diantara lutut dan mata kaki, terlihat berbeda (mungkin kita menganggap cupu) di antara seragam putih abu-abu yang lebih normal di luaran. Sepatu harus hitam, dan tidak boleh mengenakan jaket dan segala printilan fashionmu setelah memasuki gerbang sekolah. Menscan id card setiap masuk dan keluar sekolah. Nggak ada duduk-duduk santai apalagi nongkrong-nongkrong kece di area sekolah.

Ingatkah kalian, kita pernah ada di satu masa. Masa di mana tak pernah mengenal sang fajar terlebih sang jingga. Masa di mana tidak ada lagi ngemoll sepulang sekolah. Masa di mana harus begadang tiap malam menghapal rumus dan teori atom. Bagaimana tidak, sekolah menetapkan peraturan bahwa setiap hari selalu ada ulangan maksimal dua mata pelajaran (belum lagi ditambah kalau ada yang remedial).

Kita pun pernah ada di satu masa. Masa yang saya sendiri menyebutnya masa kuper. Bagaimana dengan kalian? Masa itu adalah masa di mana tidak ada majalah, novel, handphone, apalagi motor.

Ingatkah masa-masa terjadinya razia dadakan? Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi razia adalah hal rutin dan biasa dilakukan di sekolah. Apasih yang mau di razia? Pastinya handphone, novel, majalah, stnk dan segala macam printilan yang mereka anggap tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar.

Ingatkah kalian pada masa dilepasnya jabatan ketua osis kita karena ketahuan membawa motor ketika berangkat sekolah? Masih ingat beberapa lagi yang di skors dan tak boleh ikut ujian karena hal yang sama?

Kawan, kita pernah ada di satu masa yang menjadikan kuat dan terbiasa dengan segala yang mereka anggap aneh.

Kita pernah menganggap semua hal itu aneh dan tidak wajar. Kita pernah merasa terkurung dalam masa yang orang lain menyebutnya sebagai masa-masa indah. Masa putih abu-abu. Kita (mungkin) pernah menangis dan meratap, 'kuatkah kita?'.

Kita pernah satu mimpi, mengenakan toga dan memegang plakat. Kita pernah satu angan, mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk menebus segala yang telah kita kuras dari mereka (orang tua). Sebab, yang kita tahu, tidak sedikit yang kita kuras dari mereka untuk menghabiskan masa empat tahun kita di sekolah itu.

Nyatanya, kita mampu. Kita berhasil mengenakan toga dan plakat di tahun ke-empat. Kita mampu terbebas dengan bangga tanpa harus terkena drop out di tahun pertama. Dan lagi, kita bisa menikmati hasil dari empat tahun kita yang selama ini terkurung.

Kawan, sadarkah kalian, bahwa ada makna dibalik segala. Tanpa sadar, segala tangis itu menguatkan. Segala tekanan itu mempersatukan. Sadarkah kalian, bahwa kita pernah berada di satu masa, menjadi satu jiwa, merangkai satu kisah dalam angan tentang cita dan juga cinta. Tanpa sadar ikatan kita lebih dari sahabat. Kita adalah keluarga. Keluaraga dalam berbagi canda, tawa, cinta serta tangis. Di dalam kelas, terlebih di dalam ruangan persegi dengan segala macam peralatan botol-botol kaca.

Ada rangkul dan juga peluk yang saling menguatkan. Kini kita telah berjalan masing-masing, tapi ingatlah kawan, kita masih satu jiwa meski dalam masa yang berbeda. Ingatlah, ingatlah, kawan. Kita pernah ada di satu masa bersama.
  
Club Bahari Anyer menjadi tempat pertama yang menyaksikan kekeluargaan kita kembali menyatu. Semoga akan ada tempat-tempat selanjutnya yang akan menjadi saksi terkaitnya jemari kita bersama.

Ingatlah bahwa cinta tidak hanya milik kekasih, tapi juga milik sahabat.
Ingatlah selalu hari ini dan hari-hari selama empat tahun kita.



0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena