Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Rabu, 25 November 2015

Travelfriends; Yogyakarta


Traveling kali ini disponsori oleh penculikan PHP Airlines yang telah siap meluncur dari Republik of Banana menuju Derah Istimewa Kenangan.

Dengan rincian sebagai berikut :

Pilot : Om Bayu Pinasthika

Co Pilot : Om Arief

Penumpang A : Dewi

Penumpang B : Feti

Penumpang C : Meri

Sebenarnya tanggal 21 dan 22 November 2015 memang akan ke Jogja untuk acara kopdar akbar Klub Buku Indonesia yang akan dipanitiai oleh Klub Buku Yogya, tapi masih mengambang dan belum prepare tiket PP. Kemudian, muncullah ajakan penculikan di tanggal 19 November malam.

Awalnya sempat galau karena ada beberapa pertimbangan. Pertama, harus ambil cuti (lagi) untuk tanggal 20 November. Kedua, ada rasa tidak enak untuk membagi waktu bersama PHP Airlines dengan KBI. Ketiga, munculnya persyaratan tidak boleh bertemu dengan pacar di kota itu. Ahahaha tapi mereka nggak setega itu kok.

Setelah gamang antara ikut dan tidak ikut, akhirnya pada hari-H, gamang pula menentukan titik temu PHP Airlines. RSPJ - Rumah Bayu - sampai akhirnya fix ngumpul di warung mang Ace yang jaraknya tinggal ngesot dari rumah Bayu di Pisangan. Setelah ada sedikit cerita lucu bersama babang Gojek, akhirnya tiba juga di warung mang Ace.

Pembukaan di mang Ace


Pukul 21.00 PHP Airlines resmi meluncur. Perjalanan cukup lancar dan tidak macet. Tiba di Bantul sekitar jam 6 pagi dengan dua kali berhenti di rest area untuk makan dan tidur sebentar.

Sampai di rumah Bayu di sekitaran Lapangan Trirenggo, Bantul, kami beberes dan istirahat sebentar. Sekitar pukul 09.00 dan tidak tahu arah dan tujuan setelah sampai di kota ini, akhirnya kami memutuskan untuk sarapan soto.
Sampaii
Teparrr


Setelah sarapan soto dan kita masih ngak tahu juga mau kemana, akhirnya mampir ke rumah Bayu yang lainnya lagi. Niatnya sih mau panen rambutan, manggis, dan lain-lainnya, akhirnya malah wefie.



Sekitar pukul 12 siang lewat yang sangat terik itu kita memutuskan untuk mengikuti kemana arah mobil melaju. Tibalah di goa cerme. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000 per orang kami naik untuk melihat-lihat. Mempertimbangkan apakah akan ikut turun ke dalam dan jelajah goa. Persoalannya adalah gelap dan ada airnya. Akhirnya kami berlima semua turun ke dalam goa setelah menyewa handlamp dan seorang pemandu. Beruntungnya karena belum memasuki musim penghujan jadi air di dalam hanya sampai sebatas lutut hingga pinggul.

Di dalam benar-benar gelap. Kegelapan yang abadi. Hanya handlamp sumber cahaya satu-satunya di dalam sana. Stalagtites yang terbentuk melalui proses panjang sungguh cantik. Terdapat sebuah stalagtit yang berbentuk seperti kolam yang mengambang. Kolam tersebut dipercaya dapat membuat enteng jodoh bagi siapa yang meminum dan membasuh wajahnya dengan air tersebut. Ada beberapa kelelawar kecil yang sedang nyenyak menggantung di stalagtit. Setelah berjalan sekitar 900 meter jauh ke dalam, kami bertemu dengan sebuah air terjun di dalam goa. Sayangnya berhubung masih kemarau, jadi debit air terjun tidak deras. Bahkan tidak terlihat tanda-tanda bahwa itu adalah sebuah air terjun. Sayang sekali.

Perjalanan hingga ke ujung goa masih 700 meter lagi, dan pemandu memberitahu bahwa semakin ke depan, kedalaman air akan semakin dalam setinggi dada orang dewasa. Kami bertiga para cewek-cewek memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan sedangkan kedua pria menginginkan untuk melanjutkan perjalanan. Berhubung pemandu hanya satu dan kondisi goa yang sepi dan tidak ada pengunjung selain kami, akhirnya para pria mengalah dan ikut kembali mundur keluar goa daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginknan. Bukan hanya perkara nyasar di dalam goa, tapi jika nyasar hingga ke dunia yang lain, bagaimana?


Fokus pada dua makhluk di belakang

Mata air enteng jodoh

Kelelawarnya lucu

Curug di dalam Goa








Setelah bersih-bersih dan ganti pakaian, kami melanjutkan perjalanan ke gumuk pasir parangkusumo untuk menikmati sedikit senja di sana. Pasirnya sedang bagus, tidak seperti beberapa waktu lalu saat saya berkunjung ke sana. Suasana juga sedang ramai dan ada beberapa pasangan sedang melakukan pemotretan untuk prewedd. Jadi, kapan kamu preweed di sini?




Senja, cinta, dan kita










Selamat menikmati senja di kotamu, Tuan
Kembali ke rumah setelah sebelumnya mampir makan seafood. Sekitar pukul 20.00 kami kembali ke daerah kota Yogyakarta untuk ikut kegiatan Berbagi Nasi Jogja. Ramai sekali. Amunisi dan masanya sama-sama banyak. Setelah briefing dan sudah mulai untuk keliling kota Jogja untuk membagikan amunisi, saya dan Bayu memutuskan untuk tidak ikut keliling. Kami melambaikan tangan pada kamera pertanda menyerah. Kami berencana untuk istirahat menunggu dan tidur di mobil. Setelah malam kemarin saya sempat demam jadi memutuskan untuk tidak memforsir tubuh.

Setelah semua pejuang nasi berangkat, bukannya istirahat dan tidur, kami malah diajak ke angkringan oleh pejuang nasi dari Magelang yang saat itu hadir dan tidak ikut keliling juga. Akhirnya kami menghabiskan waktu di angkringan bawah flyover stasiun Lempuyangan. Ngopi, ngobrol, tertawa, bercanda, dan menahan pipis. Susah sekali mencari toilet sampai akhirnya harus numpang di Alfamart yang letaknya lumayan jauh setelah keliling naik motor diantar mas Galih.



Sekitar pukul satu dini hari kami berpisah dengan pejuang nasi lainnya dan kembali ke rumah Bayu di Bantul untuk istirahat. Sampai rumah dan ganti pakaian tidur saya langsung tepar. Entah yang lainnya sepertinya masih ngobrol.

Sabtu pagi berencana untuk ke daerah gunung kidul. Wediombo dan bukit Kosakora adalah tujuannya. Para cewek-cewek kece sudah cantik dan wangi, tapi para prianya malah susah untuk dibangunin. Untung sabar. Sekitar pukul setengah 11 siang mobil baru keluar dari parkiran rumah. Melewati jalan imogiri jalur selatan yang jalannya sempit berkelok curam kanan-kiri jurang dan agak bergelombang hanya memakan waktu satu jam kalau Bayu yang nyetir. Setelah adegan mobil ngetril kanan-kiri dan loncat-loncatan di dalam mobil. Untungnya masing-masing kepala dapat jatah seatbeltnya masing-masing.

Tiba dengan selamat walafiat di pantai wediombo pukul 12 siang. Saat matahari sedang terik-teriknya. Sok banget kayak bule mau berjemur tengah hari bolong di pantai. Dari parkiran harus menuruni tangga yang cukup tinggi untuk mencapai pantai. Sebelum menginjakkan kaki di pasir, kami memutuskan untuk makan siang dulu setelah tadi pagi belum sarapan.

Setelah makan, kami berjalan mencari spot yang asik untuk mendirikan tenda. Mau kemping? Enggak. Hanya mendirikan tenda saja. Supaya nggak sia-sia tuh tenda di bawa dari Jakarta. 

Ombak sedang tinggi-tingginya. Matahari sedang terik-teriknya. Tidak ada basah-basahan apalagi berenang-renang. Hanya duduk-duduk dan foto-foto ceria. Sekitar pukul 15.00 lipat tenda dan memutuskan untuk pulang tanpa mampir bukit kosakora. Waktunya sangat mepet karena ada yang susah dibangunin gitu deh jadi kesiangan.
Dua makhluk yang susah dibangunin

















Tiba di daerah pantai Indrayanti, mobil berbelok ke sebuah jalan yang katanya menuju sebuah pantai yang masih sepi dan cantik. Pantai tanpa nama, katanya, tapi ternyata sudah ada namanya. Pantai Watu Lawang. Benar saja. Pasirnya halus. Bersih. Suasananya damai meski ombak lebih terlihat ganas di sini. Hanya beberapa menit kami duduk-duduk sebentar di pantai itu. Setelahnya langsung pulang menuju Bantul.



Senja di Watulawang

Sampai di Bantul sekitar pukul 18.00. Mandi dan bersih-bersih rumah karena kami tidak kembali lagi ke rumah. Sekitar pukul 20.00 baru keluar dari rumah setelah semua rapi dan bersih. Kami menuju kota, saya di drop di bawah jembatan dekat kali code. Sedangkan mereka berempat melanjutkan perjalanan malam minggu di Jogja. Katanya sih mau midnight dan lanjut ke Magelang untuk rafting minggu pagi bersama pejuang nasi Magelang.

Saya di drop dan tetap di Jogja karena ingin menemui teman-teman Klub Buku Indonesia dan digawangi oleh Klub Buku Yogya. See you next time, gaess.

Minggu pagi setelah membeli titipan teman-teman yang lain saya menunggu di Jogja untuk dijemput dan kembali ke Jakarta. Sampai pukul 12 siang belum juga ada kabar. Sampai akhirnya ngantuk dan ketiduran sampai jam dua siang. Belum ada kabar juga dari mereka yang di Magelang. Sekitar pukul setengah tiga mereka mengabarkan kalau baru selesai rafting dan akan segera meluncur ke Jogja.

Ada sedikit oleh-oleh dari mereka yang habis jelajah Magelang dalam sehari. Next, harus ikut ngerusuh di Magelang!




Gereja Ayam

Rafting sungai Elo, Magelang


Untung ada bodyguard kalau di Jogja. Nggak perlu takut jadi anak hilang karena akan selalu ada yang menemani. Ceritanya sih begitu. Lumayan kan bisa menebus rindu di sela-sela menunggu. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sebab jarak selalu memberikan banyak pelajaran. Ciiee.

Menunggu mereka yang dari Magelang dengan ice cream dan ngemil di Roemi es krim. Sekitar pukul empat lewat mereka belum sampai juga. Akhirnya memutuskan untuk menunggu di JBS. Sampai di JBS ternyata yang punya rumah lagi jalan-jalan ke Amplaz. Hanya ada si Jhumpa yang dikurung di dalam rumah. Kasian. Sia-sia deh martabak yang sudah di bawa nih.
Cookies n Cream @Roemixtra


Jhumpa terkurung


Habis magrib mereka mengabarkan bahwa sudah sampai Jogja dan parkir mobil di dalam mall malioboro. Setelah belanja-belanja titipan yang nggak terlalu banyak, sekitar pukul setengah delapan kami fix kembali ke Jakarta. Setelah sebelumnya berpamitan dengan sang pacar dengan rencana-rencana pertemuan selanjutnya yang entah akan terealisasi atau tidak.

Sampai Jakarta, Rossa butuh perawatan


See you, Jogja. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya. Sebab perjalanan memiliki ceritanya masing-masing.




@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena