Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 01 September 2015

22th Birthday










12 Agustus 2015. Tidak ada yang istimewa memang, hanya sebuah kenyataan bahwa usia bertambah dan kesempatan hidup di dunia semakin berkurang. Tepat 22 tahun yang lalu,  seorang bayi perempuan dilahirkan dari rahim perempuan yang kuat.

12 Agustus yang ke 22 kali ini sama seperti biasa, dibanjiri ucapan selamat serta doa-doa penuh kebaikan. Ya, segala doa yang terbaik untuk kalian semua juga.
Nggak ada yang spesial memang, tetapi memiliki kalian yang mencintai dan menyayangi saya itu lebih dari spesial. Nggak seperti biasanya, dua perempuan yang sudah dibilang keluarga ini memberi sebuah video. Tumben. Biasanya mereka ini nggak pernah ngucapin di hari H.
Pagi itu sebenarnya mereka juga tidak memberi ucapan sih, hanya sebuah video dan audio yang diupload di #grupbaper (grup curhat yang isinya hanya kami bertiga). Terharu sih sedikit. Iya, sedikit saja, jangan banyak-banyak, nanti mereka kesenengan.  Videonya bisa kalian lihat di sini...
Nggak selesai sampai di video saja, ternyata mereka menyiapkan sebuah kejutan. Hhhmmm feeling sih ada, ketika Fitri meminta kontak Pipit, cuma nggak kebayang kalau akan bikin kejutan di siang bolong yang panas.
Sabtu, 15 Agustus. Saat pulang kerja (Sabtu kerja? Iya, kerja setengah hari. Ciyan yah.) Pukul 13.00 kira-kira Pipit Whatsapp saya, katanya kepingin es krim dan mau ke mcD. Nggak ada kecurigaan sih pas dia Whatsapp kayak gitu, karena sudah biasa tiba-tiba japri dan bilang pingin ini itu dan akhirnya kita pergi untuk memenuhi keinginan itu. Tetapi japrian kali ini sangat nggak jelas dan akhirnya nggak jadi ngeskrim. Masih belum curiga sih, karena kadang biasa juga seperti itu. Kepingin dan nggak jadi gerak.
Sampai rumah sekitar pukul 14.00 dengan hawa panas terik dan sudah berencana untuk tidur siang sesampainya di rumah, tapi ketika membuka pintu sudah ada hiasan balon dan HBD yang tertempel di tembok. Saya tahu pasti kerjaan siapa ini semua. Nggak pakai ekspresi kaget dan terharu, tapi malah tertawa. Tawa bahagia. Mereka bertiga (Kak Dewi, Fitri, dan Pipit) pun keluar dari dalam dengan membawa kue bentuk hati yang cokelat dan lilinnya sudah lumer meleleh. Sayang sekali kue yang tadinya cantik jadi agak mengurangi selera untuk memakannya.











Setelah tiup lilin dan potong kue (hati), mereka menculik saya. Panas-panas, baru sampai rumah, belum selonjoran apalagi cuci muka, hanya tiup lilin dan potong kue (hati) saya harus menikmati panas terik jalanan Jakarta lagi. Acara penculikan pun berlangsung hingga malam, meski nggak terlalu malam juga sih, karena keesokannya harus berangkat ke Bandung pagi hari.
Selama berteman bertahun-tahun, main, makan, bobok, curhat, marah, sampai jadi gila bareng, kita nggak pernah saling bersikap dan saling berkata-kata manis. Marah ya marah. Baper ya baper. Saling menasehati dan mengingatkan dengan tegas hingga (agak) sadis. Untung saling cinta dan mengerti.
Banyak yang bertanya, ‘Kalian (Saya, Fitri, dan kak Dewi) itu ketemunya di mana sih?’. Nggak penting sebenarnya kami bertemu di mana dan bagaimana. Yang terpenting adalah saat ini kami adalah satu keluarga. Cinta dan tulus.  Saya bertemu Fitri dan kak Dewi beberapa tahun lalu melalui sebuah komunitas (Klub Buku Bekasi). Setelah itu kami banyak mengikuti beberapa komunitas lain bersama. Saling menjerumuskan dalam komunitas masing-masing. Dulu kami berlima bersama Ijul dan juga Olih, ada dua pria yang jadi pelindung.
Sedangkan Pipit, Pipit adalah teman yang sudah bersama hampir belasan tahun. Kami berteman sejak TK hingga detik ini. Tidak pernah menyangka memang bahwa kita akan awet seperti ini. Pipit adalah teman yang baik dan tulus. Menjemput, mengantar dan menemani. Tempat menumpahkan segala sampah-sampah curhatan yang kalau sekali ketik bisa jadi satu cerpen. Ketika saya ingin sesuatu pasti dia akan berkata, “Mau nitip? Nanti gue beliin sekalian lewat.” Padahal belum tentu juga dia lewat tempat itu, tapi pasti sengaja lewat.
Bahagia itu adalah dipertemukan oleh mereka yang selalu ada di kala susah, bukan senang. Bahagia itu adalah menjadi diri sendiri tanpa perlu peduli omongan orang. Bahagia itu adalah tumbuh dan menjadi gila bersama.
Mereka adalah salah satu harta berharga yang saya miliki. Mereka mengajarkan saya banyak arti hidup melalui sebuah persahabatan. Mereka menyadarkan saya bahwa segala kesedihan yang saya alami adalah bukan akhir dari segalanya. Mereka membuka mata saya bahwa ada yang kurang beruntung dibanding saya. Mereka mengetuk hati saya, bahwa segala masalah saya sebenarnya tidak pantas untuk saya rawat dan ratapi.
Sebab persahabatan nggak butuh kata-kata manis yang sekedar basa basi busuk. Cukup untuk selalu ada disaat susah bukan senang. Cukup untuk selalu mendengar dan memeluk disaat terjatuh.
Jadi, selama masih ada mereka yang menyayang saya dengan tulus, nggak sepantasnya saya terus menerus bersedih pada hal yang sebenarnya tidak layak untuk diratapi. Allah nggak pernah memberikan kesedihan pada umatnya, kesedihan itu adalah kita sendiri yang buat.  Harus selalu bersyukur atas segala hal, bersyukur masih diberi perasaan dan nafas.
I hope we always be together, sharing and caring. Love you, girls.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena