Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 27 Agustus 2015

Travelmount; Papandayan

Sebuah perjalanan di bulan April 2014.
Sebuah catatan perjalanan yang telat untuk diposting.



Naik gunung kali ini semacam merayakan sebuah kasus patah hati. Tampaknya cara yang cukup ampuh untuk sedikit melupakan sebuah luka dan hati yang patah. Ada fisik dan emosi yang dilatih sabar. Ada udara yang membawa kembali oksigen segar ke dalam paru-paru. Gunung tanpa polusi udara, langit bertabur bintang, suhu dingin yang membuat lupa bahwa hati tengah membeku, teman-teman baru seperjuangan dalam naik gunung, bukan patah hati.
Liburan yang diputuskan ke Papandayan ini sebenarnya sudah direncanakan jauh hari sebelum terjadinya kasus patah hati, namun ternyata takdir memang telah menggariskan bahwa naik gunung kali ini adalah semacam pengingat bahwa saya kuat meski sedang patah hati. Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Papadayan ternyata hati saya telah dibuat luka, patah tak bersisa.
Meeting point kami adalah di terminal Kampung Rambutan pukul 20.00 pada hari jumat. Saya hanya mengenal Ilmi dan Fardhi saat itu. Ilmi adalah teman sekolah yang mengajak saya untuk bergabung ikut naik ke Papandayan. Fardhi adalah teman komunitas yang saya ajak ikut serta. Dan beberapa lainnya adalah teman-teman Ilmi yang sudah sangat ahli dalam menaklukkan gunung. Ya, mereka adalah anak-anak pecinta alam dan sudah biasa naik turun gunung.
Kami baru meninggalkan terminal Kampung Rambutan hampir tengah malam menggunakan angkot yang telah kami sewa. Total ada dua angkot. Sepanjang perjalanan saya tidur dan cukup pulas walau di dalam angkot dan bersandar pada Ilmi. Habisnya nggak ada kekasih yang bisa dibuat bersandar. Lha wong baru patah hatinya. 
Sebelum subuh (saya lupa tepatnya pukul berapa) kami sampai di Garut. Di depan sebuah pom bensin. Kami harus berganti pick up untuk menuju pos pendakian. Naik pick up rame-rame dengan langit yang masih gelap dan suhu yang dingin itu seru. Jalan yang dilalui pick up sangat cukup untuk mengguncang seluruh isi pick up dan membuat pinggang sakit karena terbentur sisi pick up. Sepanjang perjalanan dengan mata saya tak pernah lepas dari memandang langit. Hal ini yang selalu membuat rindu pada gunung. Ribuan bintang bersinar dengan cantiknya di atas sana, di langit gelap. Seolah mereka tengah tersenyum dan membisikkan sebuah kata-kata motivasi pada saya. Hanya ada lengkungan senyum dan mata yang tak lepas dari menatap langit saat itu. 
Tiba di pos pendakian, langit sudah terang dan kami menurunkan carriel dari pick up. Ada warung dan toilet. Kami manfaatkan sebaik-baiknya sebelum tracking ke atas nanti. Ke toilet dan sekedar sarapan kecil. Pukul 08.00 kami mulai tracking.

Selfie Fardhi

Sebelum naik bareng Ilmi



Tracking hingga Pondok Saladah tidak memakan waktu yang lama. Papandayan adalah gunung yang tidak terlalu tinggi dan cocok bagi para pemula atau bagi yang ingin sekedar camping ceria. Sekitar pukul sebelas siang lewat kami sudah tiba di Pondok Saladah dan siap mendirikan tenda untuk nge-camp malam ini. Sepanjang tracking cuaca cukup bersahabat. Tidak hujan dan juga tidak terik.


Kurapala











Setelah para pria mendirikan tenda, kami sholat dzuhur. Walaupun sudah sampai gunung, sholat jangan dilupakan loh ya. Kami mulai sibuk masak memasak untuk makan siang. Saya hanya nontonin saja. Sudah terlalu banyak tangan yang sibuk, kalau saya ikutan (sok) sibuk, nanti makan siangnya nggak jadi-jadi lagi. Setelah semua selesai kami makan bersama di atas plastik bersih besar. Sungguh ceria dan menyenangkan sekali. Kekeluargaan dan kebersamaan.
Setelah makan siang, langit mulai gerimis manja. Kami memutuskan untuk tidur siang di dalam tenda. Bobok siang di gunung itu nikmat. Sore hari, setelah sholat ashar kami masak-masak lagi, tapi masak mie dan seduh kopi. Sampai magrib langit masih gerimis. Kami membuat api unggun dan hanya bertahan sebentar. Akhirnya malam dihabiskan dengan ngobrol-ngobrol di antara tenda-tenda yang diberi terpal.


Keesokan paginya kami melanjutkan tracking ke Tegal Alun untuk melihat sunrise dan padang edelweis. Langit sedang tidak bersahabat, jadi sunrisenya nggak sempurna. Untuk sampai ke Tegal Alun kami melewati semacam rawa-rawa yang becek, hutan mati yang cantik, dan jalur tracking yang cukup terjal dibanding jalur tracking yang kemarin. Nggak sampai sejam kami sudah tiba di Tegal Alun. 
Cantik. Itu satu kata yang langsung tercipta saat saya melihat hamparan edelweis dengan langit yang biru cerah. Ternyata di atas sini sudah banyak yang berfoto-foto, ada juga yang menggunakan seragam wisuda dan berfoto di sana. Tegal Alun dan hutan mati cocok untuk lokasi prewedd. Lupa deh sama hati yang patah.
Hutan Mati







edelweis

kurapala










Puas foto-foto dan mengagumi keindahan ciptaan Allah, kami turun ke Pondok Saladah. Eitss, jangan memetik edelweisnya yaa. Sampai di Pondok Saladah, kami masak-masak dan makan seperti kemarin dan kemudian bersiap packing untuk turun dan pulang.

Perjalanan turun ke bawah diantar oleh hujan yang cukup lebat. Jalanan menjadi licin dan agak berat. Sungai yang harus kita lalui pun meluap dengan arus yang deras. Beruntung saya pergi bersama rombongan yang sudah ahli. Mereka mengambil batang pohon yang cukup kuat untuk pegangan sewaktu menyebrang dan saling menolong. Gas belerang dari kawah pun semakin terasa menyengat karena hujan. Dan akhirnya kami sampai di pos pendakian.
Lanjut kembali ke tempat angkot yang kami sewa menggunakan pick up. Sore hari kami mulai berangkat pulang menuju Jakarta. Dibagi menjadi dua rombongan; Jakarta dan Bekasi. Pada saat perjalanan pulang inilah terjadi sebuah kejadian yang cukup dramatis.
Mobil sudah melaju mulus di jalan tol dan langit pun sudah gelap, namun tiba-tiba angkot yang mengantar rombongan ke Jakarta mogok dan sama sekali nggak bisa jalan. Akhirnya angkot rombongan Bekasi yang masih ada di belakang pun menyusul dan menarik angkot yang mogok keluar tol. Kami mendapat kabar bahwa harus menunggu mobil pengganti karena mobil yang mogok sudah benar-benar tidak bisa jalan.
Kami memperkirakan bahwa sebelum jam 12 malam sudah tiba di Jakarta, namun hingga pukul 12 malam pun mobil pengganti belum juga tiba. Ngantuk, lelah, dan lapar. Beruntung ada satu warung yang masih buka. Kami mampir dan memesan indomie serta minuman hangat. Berhubung sang pemilik mobil merasa tidak enak dengan kami, beliau pun membayar semua makan dan minum kami kepada pemilik warung meski sudah kami cegah.
Tak lama setelah makan, mobil pengganti pun tiba dan kami langsung melanjutkan perjalanan. Perjalanan pun teryata belum bisa dibilang mulus. Mobil melaju cepat di jalan berkelok yang gelap dengan bagian kiri jurang, tiba-tiba mobil melesat dan hampir tergelincir terguling ke jurang. Panik. Tetapi setelah kejadian itu perjalanan selamat sampai Jakarta.
Pukul 05.00 tiba di terminal Kampung Rambutan. Setelah pamitan dengan yang lain, saya dan Ilmi pulang ke rumah dengan menggunakan taksi. Sesampainya di rumah, saya harus sudah bersiap lagi untuk berangkat ke kantor. Capek? Lelah? Nggak. Sebab ada yang lebih lelah. Hati.

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena