Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 16 Juni 2015

Surat untuk Feti Habsari

Pic by Ipeh Alena



Sebuah surat yang dikirim tahun lalu dari seorang tante yang mengenalkan kata 'mengsle' dan membuat otak saya mengsle. But, i love you @ipehalena.

Surat untuk Feti Habsari
Kecil, manis, mungil. Aku baru mengetahui kenapa dia dipanggil sedemikian rupa oleh orang lain. Awalnya aku hanya mengetahuinya dari nama yang berjejer dalam daftar sebuah grup di dunia maya. Tak pernah bertemu atau bersapa, tak juga tahu siapa dia dan bagaimana.
Malam minggu, aku bahagia. Bukan saja aku bisa tertawa lepas, tapi karena aku bertemu semua teman-teman baru yang biasanya hanya aku lihat dari nama saja.
Feti Habsari - Si kecil yang mengantarkan buku untukku. Dia ternyata memang mungil, membuatku ingin memeluknya. Tapi ke-mengsle-an dalam otaknya yang membuatnya menjadi #DutaRembes yang membuatku kembali ikut sedih meski sulit untuk menangis.
Aku ingin memeluknya suatu saat nanti ketika bertemu. Mungkin ingin mendengarnya bercerita, tapi tak lagi tentang dunia yang menangis, tapi dunia yang cerah dan ceria. Bagaimana jiwanya tak lagi menangis tapi tertawa bersama.
Aku ingin Feti Habsari melepas semua kesedihannya melalui derai hujan. Karena kesedihan itu tak akan pernah bisa membawa kita pada kebahagiaan. Dianya akan terus mengurung kita dan menjerumuskan pada dunia yang gelap. Jadi aku ingin membuatnya tersenyum kemudian tertawa meskipun aku tak tahu caranya.
Aku ingin mengenalkannya pada dunia lain tempat kebahagiaan selalu ada. Bernama dunia dalam canda dan tawa. Kita akan kuat ketika kau berlari bersama, jadi aku ingin mengajaknya berlari. Menemani sang mentari yang menyinari meski hujan menyapa terlebih dahulu ketika pagi.
Feti Habsari si kecil yang lucu. Lepaskan saja sosok yang membuatmu menangis sepanjang malam. Dia tak lagi kau butuhkan, kau butuh untuk melepasnya. Jangan kau biarkan orang lain menyakitimu, meskipun aku tak begitu jago dalam hal ini. Karena aku sendiri masih belajar dalam hal ini. Jadi mari kita belajar bersama dan berlari bersama.
Hei, kamu keluarga baruku. Jadi maukan ketika bertemu nanti kau memelukku? Kita akan berjalan bersama, berlari bersama dan menikmati hidup bersama. Nanti kita akan berbagi cerita tentang rindu. Tentang sosok yang membuatku menjadi manusia, meskipun tak lama. Karena kini aku tak lagi merindunya, lebih merindukan tugas-tugasku.
Feti Habsari, kiranya ketika hidup tak lagi memahami kita, kitalah yang akan mengerti dunia. Menjadi sosok yang kuat menghadapi dunia dan segala macam kesakitannya.
Feti Habsari, kamu imut dan mungil, jadi berhentilah menangisi yang tak menguntungkanmu. Karena kau tahu? Aku bahkan sulit untuk menangis dan tak mau menangisi hal yang tak perlu.
Feti sayang, ayo kita menari bersama. Suatu saat nanti kau akan tetap bahagia meski menyanyikan lagu yang membuatmu berduka. Aku percaya itu, jadi kau juga harus percaya.
Feti habsari, ubahlah ke-mengsle-an dalam dirimu menjadi sesuatu yang membuatmu terlihat lebih bersinar. Cerah dan Ceria.

From : Binatang Jalang yang entah kenapa senang sekali bertemu dengan teman barunya. Maukan kau berteman denganku?

Mar 24th, 2014 


0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena