Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Jumat, 23 Januari 2015

Menuju Senja

Puncak Paris, Parangtritis


Aku mencintaimu.
Dengan atau tanpa kata yang terucap.
Dengan atau tanpa rasa yang terungkap.
Aku mencintaimu.

Pada langit kutitipkan asa.
Debur ombak mengunci segala degup.
Sinar yang menuju senja menuntun perlahan padamu.
Angan dan harap telah terbentuk.
Gesekan angin membelai lembut rindu.

Rindu.
Yang tak pernah selesai.
Yang terucap atau pun tidak.
Yang terungkap atau terpendam.
Ia tetap sama.
Bernama rindu.

Dengan atau tanpa kau tahu, tak pernah ada rindu yang selesai beranak pinak.
Selalu ada rindu yang berbunga, tumbuh dan berkembang tanpa batas.

Jangan salahkan apa dan siapa jika rindu ini berlaku kurang ajar.
Tak mengenal waktu dan tempat, tak mengenal hujan atau panas.
Tak mengenal sibuk pun santai.
Rindu-rindu ini selalu berlaku seenaknya.

Ia terus tumbuh dan berkembang tanpa batas.
Semakin rimbun dan lebat.
Semakin membenamkan dalam rasa yang tak pernah pasti.
Tawa dan tangis.

Rindu ini adalah rindu yang tak pernah selesai.
Rindu ini...hanya untukmu...


@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena