Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 20 Desember 2014

Jalan Setapak

Papandayan

Sudah terbiasa kaki ini menapaki jalan setapak, menjejak tanah merah sehabis hujan, wangi kerinduan. Terlampau biasa langkah ini melewati ranting rapuh yang tanpa sengaja menggores luka yang lagi-lagi hanya bisa kurawat sendiri.
Jalan setapak ini mungkin tercipta untuk dilewati seorang diri. Ya, ia terlampau mengerti, bahwa aku akan melewatinya sendiri. Mencetak jejak kaki sendiri. Menembus hujan dalam sepi. Sambil sesekali menengok rindu pada pundi-pundi celengan, berharap ia tak tercecer.



@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena