Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Kamis, 05 Juni 2014

Cinta Pertama

pic by @rizkaniaDR
Lagi-lagi, kenangan hanya mampu menghadirkan kembali rindu. Rindu yang sudah tidak berlaku lagi untukmu. Jingga mengingatkanku tentang perpisahan. Dan senja telah mengantarkanku pulang. Semuanya masih nyata dalam ingatan dan rasanya masih sama seperti di awal.
Cinta pertama, ternyata membekas begitu lekat dalam hati. Ketika kenangan mampu menghadirkan yang jauh, dan justru menenggelamkan yang dekat. Rasaku hanya menggantung sebatas asa. Terjerat oleh rindu yang membelenggu jiwa. Dan berangan-angan pada sosok nyata.
Maaf. Mungkin hanya satu kata itu yang mampu terucap.
Perlukah air mata dan penyesalan turut terlibat? Entahlah, sudah berapa banyak hati yang tersakiti. Mungkinkah ini jawaban atas segalanya?
Lagi-lagi, cinta pertama masih begitu melekat di hati....
Tentang rasa yang kini ada, kekuatan cinta pertama itu benar kurasakan. Meski terpisah jarak, ruang dan waktu, cinta pertama itu tak pernah pudar. Masih nyata dalam ingatan dan rasanya masih sama seperti di awal.
Cinta pertama, ternyata membekas begitu lekat dalam hati. Tentang jodoh, pekalah sedikit terhadap mereka yang selalu setia hadir di setiap sudut waktumu. Coba rasakanlah apa yang mereka berikan untukmu. Mungkin kau terlalu fokus pada seseorang yang kau tunjuk sebagai jodohmu itu. Namun nyatanya, yang kau sebut-sebut sebagai jodohmu itu justru tak mengacuhkanmu. Padahal, dia yang tulus hadir di setiap waktumu itu telah menanti, menanti waktu kapan hatimu terbuka untuk menerimanya. Karena ternyata, mungkin dia adalah jodoh yang telah kau lewatkan. Terkadang, ada saat di mana kita harus berhenti. Bukan karena kita tidak bisa melanjutkan, tapi karena di situlah akhir perjalanan 



@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena