Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 27 Mei 2014

Sebuah Dialog Absurd Perihal Rindu


Masihkah kau akan menikmati tiap jengkal rindu,
meski kau tahu rasanya bungkam demi rindu itu menyesakkan?

Diam itu cara terbaik untuk menahan rindu.
Biarkan dia mengebu-gebu sampai akhirnya membawamu bertemu.

Tenanglah.
Secangkir air berwana coklat itu meredakan sedikit rindumu.
Aromanya harus persis bau rambutmu ketika basah.

Jika aroma air berwarna coklat itu adalah wangi rambut basahku,
lalu apa yang akan kau tinggalkan agar aku pun dapat merindumu?

Sejak hujan sore itu.
Sepasang kekasih mengajarkan.
Disebelah.
Menunggu adalah hal terindah bila dilalu bersama.
Itu rinduku.

Jika nyatanya kau menunggu rintik hujan di bawah senja bersama dengan 'dia' yang bukan kau rindukan, adakah rindu yg terkhianat?

Jika rindu kita berkhianat, biarlah,
mungkin waktu ingin membagi kita.
Mereka bersama, namun di sana.

Kau harus percaya bahwa selalu ada rindu ditiap hembusan nafasku,
menunggumu hingga tiba saat kita akan saling membagi rindu.

Terlalu dingin.
Rindu yang kau berikan terlalu dingin.
Aku, takut...
Aku takut tak bisa merasakan sesuatu darimu lagi.

Kau takut akan rinduku?
Lalu, untuk apa rindu yang selama ini dengan sabar kutabung untukmu?
Adakah rindu yang sia-sia?

Jangan terlalu dingin.
Sebab, yang dingin sangat cepat bila dihabiskan.
Sedikit hangat tak apa, tak'kan sia-sia.

Bukankah akan selalu ada kamu yang siaga menyediakan peluk dan kecup untuk menghangatkan rindu yang hampir beku ini?




sebuah dialog absurd
perihal rindu dalam linimasa
with @kitinggian
November, 2013



@fetihabsari

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena