Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 05 April 2014

By The River Piedra I Sat Down And Wapt

By The River Piedra I Sat Down And Wapt (Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis) by Paulo Coelho. Sebuah novel yang diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka pada November 2005 dan mencapai cetakan ketujuh pada Juni 2012 ini terdiri dari 224 halaman. Diterjemagkan oleh Rosi L. Simamora dengan sampul yang di design oleh Eduard Iwan Mangopang.

Novel ini merupakan novel Paulo Coelho yang pertama kali saya baca dan novel ini berhasil membuat saya jatuh cinta pada seorang Paulo Coelho. Paulo dapat membawa saya ke dalam kisah yang ia tuliskan. Membangunkan saya dari tidur panjang. Setiap kata yang ia rangkai menjadi sebuah kalimat merupakan dongeng-dongeng yang membuat saya terlena ketika membacanya. Dalam novel ini saya merasakan sesuatu yang ternyata selama ini pernah saya alami. Jadi intinya ada beberapa quotesnya yang "gue banget"

"Cinta adalah perangkap, ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya."

Begitulah yang semula dipercaya Pilar. Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu kembali dengan kekasihnya setelah sebelas tahun terpisah? waktu menjadikan Pilar wanita yang tegar dan mandiri, sedang cinta pertamanya menjelma menjadi pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Kini mereka bertemu kembali dan memutuskan melakukan perjalanan bersama-sama.

Perjalanan itu tidak mudah, sebab dipenuhi sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan akhirnya, di tepi Sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan kehidupan.

Sebuah novel yang sarat akan makna. Berkisah mengenai cinta dan agama. Dalam novel ini menitik beratkan pada konflik batin si tokoh utama. Perdebatan antara cinta dan agama yang menyebabkan si tokoh begitu galau terhadap pilihan yang ada di hadapannya. Baik si tokoh wanita yang terlalu dan selalu memendam perasaan cintanya, hhhmmm... Begitu pun si tokoh pria yang galau tentang pilihan hidupnya.

Pilar, seorang gadis yang tinggal di kota Zaragoza mendapat undangan seminari dari teman kecilnya. Seorang pria-cinta pertamanya. Setelah sebelas tahun tidak bertemu, akhirnya Pilar bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata sudah sangat berbeda dari masa kanak-kanaknya. Pria itu tampak terlihat begitu hebat.

Mereka melakukan perjalanan bersama, mencoba meyakinkan diri masing-masing untuk menemukan pilihan yang mungkin dirasa tepat. Pilihan tentang masa depan mereka. Tentang cinta. Lalu kemudian Yang Lain selalu hadir dan memperdebatkan mengenai betnagai macam kemungkinan. Lagi-lagi konflik batin.

Cerita dalam novel ini sebenarnya mbulet di situ-situ saja, tapi buat saya, novel ini menarik dan nggak ngebosenin. Sarat akan makna ditiap kalimatnya. Dan yang paling menarik untuk saya adalah quotes-quotes yang terdapat dalam novel ini. Jatuh cinta sama quotesnya om Paulo.

Tapi, entah ini kelemahan dalam novel ini atau sayanya saja yang agak lama nangkep maksud dari cerita ini. Alurnya memang terasa sangat lambat, dan agak bikin bingung maksud inti ceritanya ini tuh apa?

4,5 of 5 star

"Menunggu. Ini pelajaran pertamaku mengenai cinta. Hari-hari berjalan sangat lambat, kau membuat ribuan rencana, kau membayangkan setiap percakapan yang mungkin terjadi, kau berjanji akan mengubah beberapa sikapmu, dan kau semakin gelisah sampai akhirnya kekasihmu datang. Ketika saat itu tiba, kau tak tahu apa yang harus kau katakan. Saat-saat penantian menjelma menjadi ketegangan, ketegangan menjelma menjadi ketakutan, ketakutan membuatmu malu menunjukkan kasih sayang."

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena