Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Jumat, 14 Maret 2014

Travelfriends; Singapore
















Cerita ini adalah tentang sebuah perjalanan. Perjalanan nyata yang awalnya tidak terencana. Perjalanan di akhir November. Perjalan bersama teman, dan tanpa kekasih.


(27 November 2013)
Malam sebelum keberangkatan ke Singapore, kami (Aku, Nanda, dan Luke) sepakat untuk menginap di rumah Eno yang terletak di Jatiasih, Bekasi. Alhasil, ngumpullah kami malam itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Sedangkan saya dan Eno belum bisa tidur. Jadilah kami mengungsi ke kamar sebelah.
Tonight Show edisi curhat Eno dan Feti ditemani dengan sekotak ice cream coklat dan cookies&cream. Curhat tentang masa depan. Feti mulu yang curhat (itu sudah biasa). Penting nggak penting sih ya. Terus, masa depan Eno gimana? Loh emang masa depan Feti udah jelas? *abaikan bagian di atas*


(28 November 2013)
Dengan mata yang dipaksakan melek, jam 03.00 kami harus berangkat ke terminal Damri Kayuringin Bekasi. Tiba di terminal, batang hidungnya Sulung belum kelihatan. Kami cemas menunggu Sulung yang biasanya datang mepet. Syukurlah tak lama kemudian Sulung datang.
Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul 05.00 lewat sedikitlah. Dan, entah efek ngantuk atau lapar, kami salah turun terminal. Kami turun di terminal 3, padahal seharusnya kami turun di terminal 2. Akhirnya kami naik shellter ke terminal 2. Dan setibanya di terminal 2 kami bolak-balik mencari tempat check-in yang nggak kelihatan penampakannya itu. Untunglah ada Luke yang dengan sangat amat rela keliling senidiri dan menyuruh kami istirahat.
Ada saja kisah konyol yang terjadi saat di bandara. Mulai dari tragedi trolley, petugas imigrasi yang jutek, dan banyak deh. Belum juga mulai start sudah banyak hal bodoh yang kami lakukan.
Jakarta-Singapore, satu jam dua puluh lima menit lamanya perjalanan. Have a save flight!







Welcome To Singapore
Kami tiba di Changi Airport Internasional kira-kira pukul sembilan kurang waktu Singapore. Seperti biasa, kami lirik-lirik, tengak-tengok, jalan-jalan dan foto-foto di Changi sebelum akhirnya kami mengantre Singapore Tourism Pass yang akan digunakan sebagai tiket untuk sarana transportasi kami selama di Singapore. Singapore Tourism Pass dapat digunakan untuk menaiki MRT, Bus, dan LRT. 30 dolar singapore untuk 3 hari, dan pada hari terakhir, ketika kita mengembalikan STP itu, uang 10 dolar singapore kita akan kembali. Kalau di Indonesia itu semacam tiket comline gitu deh.
Setelah dapat tiketnya, kami langsung naik MRT menuju penginapan Traveller@SG yang terletak di King George Avenue. Kita tidak harus keluar Changi dan berjalan dulu ke stasiun, sebab, jalur MRT sudah tersedia di bagian bawah Changi. MRT is nice. Woooww banget!
Serba woow gitu deh di Singapore tuh. Jalanan yang tertib, bersih. Jangankan macet, sampah di jalanan satu pun nggak ada. Mobil pasti akan mengalah sama pejalan kaki yang mau menyebrang. Aaahh,, andai Indonesia bisa seperti itu. Bisakah?







Semua kegiatan di sana seperti berjalan sangat cepat. Eskalator yang sudah melaju cepat saja masih kurang cepat tampaknya untuk mereka. Ketika kami berjalan atau naik eskalator, pasti selalu menyingkir di sebelah kiri, sebab jalur kanan hanyalah untuk mereka yang berjalan cepat. Sibuk sekali mereka itu.
Setibanya di Travellers@SG, segala macam reservasi langsung diurus sama Luke. Kami mendapat kamar nomor 301 yang terletak di lantai tiga. Karena ini adalah hostel dan kami memilih kamar yang berkapasitas delapan orang sedangkan kami hanya berlima, maka akan ada tiga traveller yang akan sekamar dengan kami. Meskipun begitu, kamarnya cukup nyaman dengan tempat tidur yang kece deh.

Berhubung traveller yang lain belum datang, kamar itu kami kuasai dulu. Kami makan nasi lemak (yang tanpa disadari menjadi makanan favorit kami selama di sana) yang kami beli di stasiun Lavender.
Setelah merapikan barang-barang dan sholat, lalu kami memulai perjalanan. Selama di sana, transportasi yang paling kami cintai adalah MRT. Stasiun terdekat dengan hostel kami adalah stasiun Lavender. Tujuan pertama kami adalah Bugis, namun melihat begitu ramainya Bugis, maka kami putar arah berjalan ngapelin si patung singa bernama Merlion itu. Foto-foto, lalu kami beli es krim, jalan-jalan deh.




abaikan mbak-mbak di belakang
Setelah mengunjungi Merlion, waktu sudah beranjak senja dan kita melanjutkan perjalanan ke Chinatown. Chinatown merupakan sebuah pusat perbelanjaan dan barang yang ditawarkan harganya sangat murah. Terletak di sebelah selatan Singapura. Setelah 'kalap' berbelanja, kami beranjak mencari masjid untuk sholat ashar. Mencari masjid di Singapura ternyata tidaklah sulit. That's nice!
Kami sholat di Jamae Musholla. Dan, ternyata, masjid di sini sangatlah tertib. Bagi muslim wanita yang menggunakan pakaian pendek (rok pendek, celana pendek, baju pendek, dan teman-temannya yang serba pendek) disediakan baju panjang yang menyerupai jubah. Karena saya dan Nanda pakai rok pendek kala itu, dan kami tidak tahu peraturannya, dengan santainya kami nyelonong masuk, dan langsung diberi tahu oleh petugas penjaga masjid.

Dari Jamae Musholla kami lanjut ke Orchard Road. Lagi-lagi naik MRT dan jalan kaki. Nggak ada angkot, ojek, apalagi becak. I miss Indonesia. Berasa banget kalau di Indonesia itu manja karena sedikit-dikit naik angkot, ojek, sedangkan di sini, jalan kaki.
Begitu tiba di Orchard Road sudah malam. Sepanjang jalan di Orchard dihiasi lampu-lampu jalan yang memanjakan mata. Indah! Orchard merupakan pusat retail dan hiburan di Singapore. Banyak terdapat pertokoan yang menjual barang-barang branded yang harganya uwooow bangeett...
Kemudian kami makan di Food Hall Orchard, sebuah food court dengan aneka macam makanan. Di sana banyak aneka makanan khas Indonesia. Mulai dari masakan padang, bakso dan mie ayam. Namun, tetap saja, rasa makanannya hhhmmmm :( I miss Indonesian food...
Belanjaa!!!
Setelah makan dan sholat magrib, kami berjalan menyusuri jalan sepanjang jalan Orchard yang suasananya romantiiisss bangeett... Setelah lelah 'mengukur jalan', kami kembali ke penginapan sekitar pukul 11 malam.
Sesampainya di hostel, kami kedatangan tiga penghuni baru yang akan menempati kamar bersama kami. Mereka adalah couple yang berasal dari Belgia dan seorang pria yang entah dari mana, (yang satu ini kurang bersosialisasi). Oiya, bule dari Belgia itu ternyata sudah seminggu berada di Singapore. Dan dia ke Singapore hanya untuk berobat, karena ia terkena kolera setelah sebelumnya ia berlibur di Indonesia dan makan bakso.


(29 November 2013)
Hari kedua, kami bangun tetapi langit sudah sangat terik. Hari ini, tujuam pertama kami adalah Science Center. Sebelum berangkat, kami sarapan terlebih dahulu. Membeli nasi lemak favorit yang pastinya terjamin halal juga di stasiun Lavender.
sarapan
Science Center ini terletak di 15 Science Road. Kami naik MRT untuk sampai di sana dengan berbekal peta dan rute MRT. Setibanya di stasiun Jurong East Station, kami harus berjalan kaki untuk sampai di lokasi. Kami berjalan jauh dan hanya berputar disitu-situ saja, semacam tersesat di sebuah kota, padahal buka hutan. Ketika memperhatikan petunjuk arah yang terpampang besar di jalan, ternyata tempat yang kami tuju sangatlah dekat dari stasiun tempat kami turun tadi. Hhhmmm…
Turis nyasar

jadi, kita harus ke mana?

Setelah membeli tiket, kami bisa masuk dan mengeksplore tempat tersebut. Science Center Singapore merupakan sebuah pusat sains terbaik di Singapura. Mereka berhasil meningkatkan minat dan kreatifitas belajar dalam bidang ilmu pengetahuan bagi segala usia dan latar belakang. Tempat ini telah menjadi ikon kreatifitas dan inovasi, dalam bidang ilmu pengetahuan bagi segala usia dan latar belakang, gambaran evolusi dari perkembangan sains melalui pameran yang unik dan relevan.

Saking asiknya kami berkeliling di dalam Science Center, kami tidak sadar kalau kami telah terpisah. Saya hanya tinggal berdua dengan Sulung. Berhubung keadaan saya yang sudah pegal dan ternyata Sulung juga merasakan yang sama, kami berdua memutuskan untuk mengakhiri pencarian Nanda, Eno, dan Luke. Kami berdua memutuskan untuk keluar dan menunggu diluar ditemani softdrink dan kentang goreng dengan harga dolar.
Setelah kami berkumpul kembali, kami melanjutkan perjalanan ke Marina Bay. Berkeliling di Shopping Center yang kereen hingga tiba di gardens by the bay yang tidak kalah menawannya. Hari sudah beranjak malam saat kami tengah santai di sini. Rasa lapar pun merayap. Akhirnya kami memutuskan untuk mengisi perut di texax.
venesia di dalam mall






Kami kembali lagi ke Marina Bay untuk menikmati pertunjukan cahaya dan air terbesar di Asia Tenggara. Gabungan cahaya, music, dan suara yang menakjubkan selama 13 menit di tepian air. Menceritakan kisah universal tentang perjalanan hidup melalui sinar elektrik dan efek laser.
Setelah menikmati segala keindahan itu, kami berjalan kaki untuk menuju stasiun Bus terdekat yang jaraknya cukup membuat kaki pegal. Kami melewati patung merlion lagi dan berfoto-foto lagi dengan background malam hari. Membeli es krim lagi.
es krim favorit


(30 November 2013)
Hari ini seharusnya kami ingin berangkat pagi-pagi sekali, tetapi kesiangan karena lelahnya kegiatan kemarin sampai malam yang pakai acara salah turun Bus yang berakibat harus berjalan kaki panjang, panjaaaang sekali.
Kami ingin bersenang-senang di Universal Studio Singapore kali ini. Kami harus ke Sentosa Island menggunakan kereta yang berbeda lagi jalurnya dengan MRT. Serasa akan dibawa ke luar planet rasanya. Seru bangeet!!
tiket kereta ke Sentosa Island



Baru beberapa menit di USS, langit mendung dan gerimis mulai turun. Baru dua wahana yang kami nikmati, hujan deras mengguyur. Dikarenakan hujan yang cukup deras, banyak wahana yang tidak beroperasi dan juga parade pertunjukan tidak berjalan. Agak sedih sih sebenarnya, tapi yaa gimana lagi.
Kami menikmati permainan hingga hari mulai gelap dan hujan masih enggan untuk berhenti juga. Basah dan lelah sudah melekat bersama peluh.

(31 November 2013)
Last day. Setelah malamnya membuat alarm dan nggak boleh sampai telat, akhirnya kami terpaksa bangun dengan mata yang masih ingin terpejam. Kami harus bergegas menuju Changi Internasional Airport.
siap-siap check out


Bye Singapore
Setibanya di Changi, kami menukarkan tiket MRT dan mendapat kembali sepuluh dolar Singapore. Dan saatnya terbang kembali ke negeri tercinta. 
Changi menjelang Natal



0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena