Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Jumat, 14 Maret 2014

Dermaga Hati

Dermaga Hati


Serupa senja yang menguning tua,
dalam jarak yang mulai sekarat,
rindu tengah meleleh di pelupuk mata.
Serupa malam dengan mimpi-mimpi buram,
gigil yang diam-diam melumpuhkan.
Serupa langit di batas musim,
ada hangat dan gigil saling berpeluk,
menyesap rindu yang inginkan temu.

Pada lembayung langit, tergores jarak yang kian memudar,
meninggalkan jejak-jejak angan pada dinding kenangan.
Di pelataran hati, ada gema nadi yang selalu menanti,
di relung pekat, ada tangan yang selalu mendekap,
menampung lelehan pengharapan.

Aku menanti pada dermaga hati yang sepi,
Lalu bertanya pada angin yang menepi,
Akankah kamu kembali?


@fetihabsari
Jakarta, 2014

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena