Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Minggu, 16 Februari 2014

Sebuah Pesan

Sebuah pesan untukmu,
kamu yang tak akan pernah tahu bahwa aku mulai kehilanganmu...
From Amarafaye

Picture by Feti


Aku hanyalah pengecut dalam hal mencintaimu.
Aku yang selalu takut kalah dalam hal mengambil hatimu.
Aku yang seringnya jalan di tempat atau bahkan mundur menjauhimu.
Aku yang merasa kecil dibanding mereka yang namanya selalu kau sebut ditiap ceritamu.
Aku hanyalah tempatmu berbagi cerita, bukan cinta. 

Maaf aku tak lagi berusaha dapatkan hatimu.
Maaf aku tak lagi bisa perhatikanmu sesukaku.
Maaf, aku hanya tahu diri sebagai temanmu.
Aku hanya tahu diri.

Aku sedang mematah-matahkan hatiku yang mulai bersemu merah karenamu.
Aku selalu mematah-matahkan hatiku disela canda denganmu dalam sebuah pesan.
Aku terus mematah-matahkan hatiku meski terus kamu beri senyuman.
Aku tetap mematah-matahkan hatiku meski tetap kamu pandangi aku dalam setiap pembicaraan. 

Aku akan selalu ,terus dan tetap mematah-matahkan hatiku.
Agar aku  kebal dengan rasa sakit karena patah hati.
Dan bila itu terjadi aku akan melaju dengan pasti.
Bukan menangisi hal bodoh berulang kali!
Bagaimana bila ternyata semua pesan tanpa nama terkurung dalam inbox sebagai konsep saja?
Dan semua tentangmu, rasaku yg tak pernah sampai.




Dikirimkan pada
11 Februari 2012

0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena