Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Sabtu, 23 November 2013

Surat Cinta Buat Si Kuning


Dear, si Kuning….

Haii,, kuningku, bagaimana kabarmu? Aku ingin tahu kabarmu. Apakah kau bahagia atau justru bersedih?  Aku tahu kau selalu tersenyum, tapi aku tak pernah tahu apa yang kau rasakan sebenarnya. Sebab, senyummu itu bisa jadi adalah luka yang berusaha kau sembunyikan. Yaa,, mungkin kau tak jauh berbeda dengan pemilikmu ya J

Kuningku. Si kuning. Kau tahu kapan panggilan itu tercipta? Panggilan itu belum lama tercipta, semenjak hatiku kedatangan seseorang. Aah,, kau pasti tahu, bukan?  Kau tahu segalanya tentangku. Kau adalah yang paling tahu sebab tawa dan tangisku. Tak ada yang lebih tau darimu, Kuningku…

Andai kau bisa berbicara, apa yang ingin kau katakan padaku? Apakah sesungguhnya kau bosan dengan segala keluh kesahku? Ataukah kau geregetan melihat kemalasanku? Dan jangan-jangan kau ingin berontak saat kupeluk dan kukecup ketika aku tengah merindukan seseorang? Ayo,, bicaralah padaku J

Kuningku, ini adalah surat cinta untukmu. Tanda terimakasihku untukmu yang selalu setia menjadi telinga untuk mendengarkan keluh kesahku. Selalu setia menjadi penampung air mataku. Dan penjaga rahasiaku yang paling setia.

Terimakasih Kuningku, sudah menemani sepi-sepiku… Menemaniku menabung rindu untuknya yang selalu kutunggu…




Peluk kecupp dari pemilikmu
Fetih J










*Tantangan ketiga  @KlubBuku_Bekasi*


0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena