Aku menulis, sebab aku tak sanggup berucap. Aku menulis sebab aku tak selalu didengar. Aku menulis, sebab aku ingin dikenang.

Selasa, 05 November 2013

[Review; Novel] The Book With No Name



Penerbit : Kentera
Penerjemah : M. Baihaqqi, ST
Cetakan ke IV : Februari 2012 (cetakan pertama : Juni 2011)
ISBN : 978-602-98377-4-2


Hanya kemurnian hati yang mampu memahami halaman demi halaman buku ini. Setiap halaman yang kau buka, setiap bab yang kau baca, akan membawamu semakin dekat pada akhir. Tidak setiap orang akan berhasil. Banyaknya plot cerita dan gaya bahasa yang berbeda, mungkin akan memusingkan dan membingungkan.

Dan sementara kau sibuk mencari kebenaran, ternyata ia ada tepat di depanmu. Kegelapan akan datang, bersama kejahatan yang luar biasa. Dan mereka yang telah membaca buku ini tidak akan pernah melihat cahaya lagi.


Santa Mondega, kota para pendosa, yang tak akan pernah kalian temui di peta, dan akan segera berubah menjadi neraka. Kegelapan akan segera menutupi kota tersebut, karena di sana terdapat sebuah batu biru misterius: Mata Rembulan.

Vampir, warewolf, iblis, berkumpul menjadi satu di kota yang setiap harinya selalu bergelimpangan mayat-mayat dengan darah yang masih segar. Dan, Bocah Bourbon (Sang Malaikat Kematian) yang akan menjadi eksekutornya.


Darah yang berceran. Kepala yang terpisah dari tubuhnya, tidak terlihat seperti dipotong oleh benda tajam, melainkan dicabut. Biji mata dan lidah yang raib entah ke mana.

Di Santa Mondega juga terdapat sebuah Buku Tanpa Judul yang ditulis oleh seseorang Tanpa Nama. Buku itu akan membawa kematian bagi semua yang membacanya. Tetapi, hanya buku itu yang dapat mengakhiri semua kekacauan tersebut.


"Buku Tanpa Nama. Sampul dan lembaran halamannya terbuat dari kayu salib di mana Kristus disalibkan. Sekarang katakan, kau yakin kau tidah bisa terbunuh oleh sebuah salib?"

Semua rahasia tersimpan di dalamnya. Namun, jika masih ingin bernafas, apa pun yang kalian lakukan, jangan pernah kalian membacanya. Novel bergenre thriller ini terdiri dari 493 halaman dengan ending yang tidak mudah ditebak jika kita kurang memperhatikan detail-detail dalam tiap babnya.


***

3,5 of 5 stars

Kisah pada novel ini cukup menegangkan pada bagian pertengahan ke belakang. Dan bisa dibilang cukup mendapatkan sisi thriller yang mungkin kita inginkan.

Pada bagian bab-bab awal sangat membosankan membacanya. Menurut saya ada bagian cerita yang terlalu bertele-tele dan berputar-putar di situ saja. Buku ini belum sanggup membuat saya deg-degan atau merasakan ketakutan meskipun suasana kota Mondega digambarkan hampir mirip dengan neraka(sebuah kota penuh dengan kegelapan)...


0 komentar:

© Feti Habsari, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena